Sejarah Bandung yang Dulunya Hanya Sebuah Danau Purba

Sejarah Bandung yang Dulunya Hanya Sebuah Danau Purba

Cicin Yulianti - detikJabar
Selasa, 25 Agu 2026 08:00 WIB
Ilustrasi jejak danau purba Bandung.
Ilustrasi jejak danau purba Bandung. (Foto: Dok BRIN)
Bandung -

Jauh sebelum dikenal sebagai kota metropolitan, Bandung dahulu hanyalah sebuah danau. Begini sejarahnya.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat menjelaskan bahwa Bandung memang nampak seperti cekungan. Dahulu kala, cekungan tersebut adalah danau purba.

Edi mengatakan, ia dan banyak peneliti telah melakukan penelitian geolog tentang danau purba tersebut. Peneliti berhasil menemukan lapisan endapan danau yang terbentuk puluhan ribu tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses Pembentukan Danau Purba Bandung

Edi membeberkan proses pembentukan danau purba Bandung yang erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Sisa material vulkanik letusan Gunung Sunda membendung aliran Sungai Citarum purba.

Kemudian, air menggenangi cekungan Bandung dan akhirnya membentuk danau. Danau muncul sekitar 90 ribu tahun yang lalu dan bertahan selama 16 ribu tahun.

ADVERTISEMENT

"Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau," ujar Edi dikutip dari laman BRIN, Minggu (23/8/2026).

Air danau menyurut karena menemukan jalan keluar dengan mengikis batuan lewat rekahan yang kini terkenal sebagai Curug Jompong. Air terus mengering hingga Bandung tampak seperti cekungan.

Curug Jompong beracunCurug Jompong Foto: Wisma Putra

Endapan Seperti Agar-agar

Edi mengatakan endapan rawa sebagian besar belum mengalami proses pemadatan secara sempurna. Karena itu, kepadatannya lebih lunak dibandingkan dengan batuan di sekeliling cekungan.

"Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak. Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi dan terkompaksi dengan baik," jelasnya.

Potensi Bahaya Sesar Lembang Saat Gempa

Dengan karakteristik cekungan seperti itu, Edi mengatakan saat ada gelombang gempa, maka material lunak yang ada di cekungan bisa menimbulkan penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu.

"Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa," kata Edi.

Selain itu, perhatian lain menurut Edi adalah Sesar Lembang. Wilayah yang masih berada di Bandung ini memiliki patahan-patahan di bawah permukaan cekungan Bandung.

"Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya," ungkapnya.

Dengan begitu, Edi menyarankan supaya pembangunan di Bandung harus memerhatikan kondisi geologis dan standar teknis bangunan tahan gempa.

"Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor di bagian batas cekungan," kata Edi.

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini.

(cyu/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads