Anjing yang biasanya jinak tiba-tiba menggeram, memperlihatkan gigi, bahkan mencoba menggigit tentu bisa membuat pemilik panik. Apalagi jika perubahan perilaku itu terjadi di rumah dan diarahkan kepada orang yang sehari-hari merawatnya bahkan kepada orang lain.
Situasi seperti ini kerap membuat pemilik bertanya-tanya. Apakah anjing sedang marah? Apakah ia ingin menunjukkan dominasi? Atau ada sesuatu yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya?
Penyebab anjing menjadi agresif ternyata tidak sesederhana anggapan bahwa hewan tersebut "nakal" atau ingin menjadi penguasa di rumah. Perilaku agresif dapat dipicu oleh rasa takut, sakit, menjaga makanan atau mainan, kondisi lingkungan hingga pengalaman buruk yang pernah dialami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian terhadap ribuan anjing juga menunjukkan adanya hubungan antara rasa takut dan perilaku agresif. Studi yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports menganalisis data 9.270 anjing ras di Finlandia dan menemukan bahwa anjing yang menunjukkan perilaku agresif terhadap manusia lebih sering memiliki tingkat ketakutan yang tinggi.
Lantas, apa saja penyebab anjing tiba-tiba galak dan bagaimana cara menghadapinya?
Mengapa Anjing Bisa Menjadi Agresif?
Agresi pada anjing tidak selalu berarti mereka ingin menyerang. Dalam banyak situasi, perilaku tersebut justru muncul ketika anjing merasa terancam dan berusaha membuat sumber ancaman menjauh.
American Kennel Club (AKC) menyebut rasa takut sebagai salah satu penyebab paling umum agresi pada anjing. Selain itu, rasa sakit, menjaga sumber daya, mempertahankan wilayah dan melindungi seseorang juga dapat memicu perilaku agresif.
Karena itu, ketika anjing menggeram saat seseorang mendekat, respons tersebut sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai bentuk pembangkangan. Bisa jadi, anjing sedang berusaha menyampaikan bahwa dirinya tidak nyaman.
1. Rasa Takut
Rasa takut merupakan salah satu pemicu penting perilaku agresif pada anjing. Anjing yang merasa terancam dapat memilih untuk menjauh. Namun ketika mereka merasa tidak memiliki jalan keluar, respons yang muncul bisa berupa menggonggong, menggeram, memperlihatkan gigi atau bahkan menyerang.
Penelitian dalam Scientific Reports menemukan bahwa rasa takut merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan agresi terhadap manusia. Studi tersebut juga menemukan bahwa anjing yang agresif lebih sering menunjukkan perilaku takut dibandingkan anjing yang tidak agresif.
Ketakutan dapat muncul karena berbagai hal, termasuk pengalaman buruk, lingkungan yang membuat stres, kurangnya sosialisasi atau paparan terhadap situasi tertentu yang belum pernah mereka hadapi.
Penelitian lain yang diterbitkan Scientific Reports pada 2025 juga menemukan bahwa pengalaman buruk pada enam bulan pertama kehidupan, seperti kekerasan atau ditelantarkan, berkaitan dengan meningkatnya perilaku takut dan agresif ketika anjing dewasa.
2. Rasa Sakit atau Gangguan Kesehatan
Perubahan perilaku yang terjadi secara tiba-tiba juga tidak boleh dilepaskan dari kondisi kesehatan. Anjing yang mengalami rasa sakit bisa menjadi lebih sensitif ketika tubuhnya disentuh atau digerakkan. Akibatnya, anjing yang sebelumnya tenang dapat menggeram atau mencoba menggigit ketika seseorang menyentuh bagian tubuh tertentu.
Nyeri akibat gangguan sendi, masalah gigi atau kondisi medis lainnya dapat menjadi pemicu. AKC juga memasukkan rasa sakit sebagai salah satu penyebab anjing menunjukkan perilaku agresif.
Karena itu, jika anjing tiba-tiba menjadi galak tanpa pemicu yang jelas, pemeriksaan ke dokter hewan merupakan langkah penting. Jangan langsung menganggap perubahan tersebut hanya sebagai masalah perilaku.
3. Menjaga Makanan atau Mainan
Pernahkah anjing menggeram ketika seseorang mendekati mangkuk makanannya? Atau tiba-tiba mempertahankan mainan tertentu dan tidak membiarkan siapa pun mengambilnya?
Perilaku tersebut dikenal sebagai resource guarding, yakni ketika anjing berusaha mempertahankan sesuatu yang dianggap bernilai. Yang dijaga tidak selalu makanan. Mainan, tulang, tempat tidur atau benda tertentu juga dapat menjadi sumber daya yang ingin dipertahankan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Veterinary Science menjelaskan bahwa resource guarding dapat berupa perilaku menghindar, mengancam hingga agresi untuk mempertahankan makanan atau benda yang dianggap berharga dari manusia maupun hewan lain.
Studi lain terhadap ribuan anjing juga menemukan hubungan antara rasa takut dan resource guarding yang bersifat agresif. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mengajari anjing untuk melepaskan benda ketika diminta dapat berkaitan dengan lebih rendahnya kemungkinan munculnya perilaku resource guarding agresif.
4. Menjaga Wilayah
Pagar rumah, halaman, kandang bahkan mobil dapat dianggap sebagai wilayah yang harus dijaga oleh anjing. Itulah sebabnya beberapa anjing langsung menggonggong atau mengejar ketika melihat orang asing melewati pagar. Respons tersebut dapat semakin kuat ketika ada seseorang yang masuk ke area yang dianggap sebagai wilayahnya.
Agresi teritorial termasuk salah satu bentuk agresi yang dikenal pada anjing. AKC menjelaskan bahwa anjing dapat mempertahankan area yang mereka anggap sebagai wilayahnya, termasuk halaman rumah atau kendaraan. Namun, perilaku ini tetap perlu dikendalikan karena anjing yang terlalu reaktif terhadap orang asing dapat menimbulkan risiko jika berhasil keluar dari area rumah.
5. Pengalaman Buruk dan Kurangnya Sosialisasi
Tidak semua anjing memiliki pengalaman hidup yang sama. Anjing yang pernah mengalami kekerasan, ditelantarkan atau menghadapi lingkungan yang penuh tekanan dapat membawa dampak pengalaman tersebut hingga dewasa.
Penelitian terbaru dalam Scientific Reports terhadap 4.497 anjing menunjukkan bahwa pengalaman buruk pada masa awal kehidupan berkaitan dengan tingkat ketakutan dan agresi yang lebih tinggi pada masa dewasa. Peneliti juga menemukan adanya pengaruh interaksi antara faktor keturunan dan pengalaman hidup.
Artinya, perilaku agresif tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari jenis atau ras anjing. Riwayat kehidupan dan lingkungan tempat mereka tumbuh juga perlu diperhatikan.
Kenali Tanda Anjing Mulai Tidak Nyaman
Anjing umumnya tidak langsung melompat dari kondisi tenang ke menggigit. Sebelum mencapai tahap tersebut, mereka dapat menunjukkan sejumlah sinyal bahwa dirinya sedang tidak nyaman.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Memalingkan kepala ketika seseorang mendekat
- Menghindari kontak mata
- Memperlihatkan bagian putih mata atau whale eye
- Menjilat bibir berulang kali
- Tubuh mendadak kaku
- Berhenti bergerak atau freezing
- Ekor turun atau masuk di antara kaki
- Menggeram atau memperlihatkan gigi
Sinyal-sinyal tersebut sebaiknya dianggap sebagai peringatan. Ketika anjing menunjukkan tanda tidak nyaman, memberikan ruang dan menghentikan pemicu stres dapat menjadi langkah awal untuk mencegah situasi berkembang menjadi lebih serius.
Cara Mengatasi Anjing yang Agresif
Langkah pertama adalah mengutamakan keselamatan. Jika anjing sedang menunjukkan agresi, jangan memaksanya berinteraksi dengan orang atau hewan lain. Berikan jarak dan, bila diperlukan, pisahkan anjing dari pemicu di lingkungan yang aman.
Setelah itu, coba kenali pola perilakunya. Catat kapan agresi muncul, siapa yang menjadi sasaran, situasi yang mendahuluinya dan bagaimana respons anjing. Catatan tersebut dapat membantu pemilik maupun dokter hewan memahami pemicunya.
Rutinitas juga dapat membantu membuat lingkungan lebih mudah diprediksi. Jadwal makan, bermain, berjalan-jalan dan waktu istirahat yang relatif konsisten dapat membantu pemilik mengelola situasi yang berpotensi memicu stres.
Namun, rutinitas bukan pengganti pemeriksaan medis atau terapi perilaku. Jika agresi muncul tiba-tiba, semakin sering, semakin intens atau sampai menyebabkan gigitan, anjing sebaiknya diperiksa oleh dokter hewan. Pemeriksaan penting untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang mendasari perubahan perilaku.
Untuk kasus yang lebih kompleks, dokter hewan dapat membantu menentukan apakah anjing membutuhkan penanganan perilaku lebih lanjut. Penanganan agresi juga sebaiknya dilakukan secara bertahap dan aman. Kasus berat, terutama yang sudah melibatkan gigitan atau cedera, membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih serius dan tidak sebaiknya ditangani hanya dengan mencoba-coba metode pelatihan di rumah.
