Siang menjelang sore, puluhan orang memenuhi salah satu ruangan rapat di Indigo Hotel Bandung, Kamis (20/8/2026). Selama sekitar dua jam, seluruhnya tampak menyimak saksama perbincangan para narasumber yang hadir di hadapan mereka.
Berjajar sejumlah pembicara dari dunia bar dan hospitality, berbagi pengalaman dan perkembangan industri koktail kepada para peserta. Mayoritas merupakan bartender dan mahasiswa akademi perhotelan.
Salah satu di antara pembicara adalah Kiki Moka, sosok yang telah malang melintang selama hampir tiga dekade sebagai bartender kenamaan Indonesia. Dengan bersemangat, ia menceritakan perjalanan kariernya sekaligus memberikan sejumlah kiat kepada bartender agar dapat menjalani profesinya dengan sepenuh hati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kiki, menjadi bartender bukan hanya perkara kemampuan meracik minuman. Seorang bartender juga dituntut memiliki karakter dan kemampuan memberikan pelayanan yang baik.
"Bartender itu bukan sekadar membuat minuman, ia harus punya good personality. Penting juga untuk selalu jaga kebersihan area bar," ungkap Kiki.
Ia mengatakan bartender juga harus memiliki inisiatif dan kepekaan dalam membaca kebutuhan tamu. Hal itu penting agar tamu merasa nyaman selama berada di bar, termasuk memahami kapan seseorang membutuhkan minuman dan kapan sebaiknya berhenti.
"Bartender itu harus tahu kebutuhan tamu, termasuk kapan mereka perlu minum atau berhenti," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiki turut membahas dunia koktail dan bar di Indonesia yang semakin dinamis. Menurutnya, tren yang terus berkembang membuat pengetahuan seorang bartender harus terus bertambah.
Ia mencontohkan bagaimana suatu minuman yang belum terlalu dikenal kini semakin akrab bagi masyarakat. Begitu pula dengan teknik pembuatan koktail yang kini semakin beragam.
"Dulu mungkin orang dengar Negroni itu aneh, enggak banyak yang mau minum. Tapi sekarang banyak dikenal," ungkapnya.
"Cara membuat koktail pun sekarang trennya semakin canggih. Banyak yang menggunakan rotovap, peralatan di lab pun dipakai," lanjutnya.
Upaya Hidupkan Skena Koktail Bandung
Perbincangan tersebut merupakan bagian dari sesi talkshow bertajuk "Satu Meja" yang diinisiasi oleh Vinyl Bar yang merupakan bagian dari Indigo Hotel Bandung.
Kegiatan ini mempertemukan para ahli di bidang koktail dan hospitality dengan para praktisi untuk saling berbincang dan bertukar wawasan. Salah satu tujuannya adalah mendorong kembali geliat industri koktail di Kota Kembang.
Marketing Communication Vinyl Bar Bandung, Warren, mengatakan bahwa inisiasi tersebut menjadi penting mengingat industri koktail di Bandung dinilai belum seramai industri kafe dan coffee shop.
"Di Bandung sendiri industri koktail nggak seramai industri kafe, karena di Bandung orang lebih banyak mengenal coffee shop," ujar Warren.
Padahal, menurutnya, Bandung memiliki banyak talenta di bidang bar dan koktail. Bahkan, tidak sedikit bartender asal Bandung yang justru memilih berkarier di luar kota karena ekosistem industri di daerah lain dinilai lebih hidup.
"Di Bandung itu banyak yang kreatif, tapi mayoritas talentanya lebih banyak berkarier di luar Bandung karena eksosistemnya lebih hidup di sana (luar Bandung). Jadi kita ingin sama-sama menghidupi lagi industri cocktail Bandung," katanya.
Warren mengatakan skena bar di Bandung sebenarnya pernah mengalami masa kejayaan sebelum pandemi Covid-19, namun melesu seiring waktu. Oleh karenanya, pihaknya berupaya menghidupkan kembali semangat tersebu lewat ruang bertukar gagasan di antara pelaku industri koktail.
"Sebenarnya di Bandung industri ini sempat berjaya sebelum Covid. Jadi kita mau coba lagi membangun industri dan skenanya agar kembali naik," paparnya.
Talkshow Satu Meja menjadi salah satu jalan. Di dalamnya terdapat pelaku industri, akademisi, hingga para siswa yang mempelajari dunia food & beverages (FnB). Tak hanya itu, terdapat pula sesi bar take-over yang akan digelar pada malam harinya.
"Satu Meja itu dibuat sebagai wadah bertukar pikiran, bertukar aspirasi, jadi peserta bisa ngobrol sama orang-orang yang memang expert di bidangnya," kata Warren.
Ia berharap forum tersebut dapat membuat generasi muda yang tertarik masuk ke industri bar memiliki wawasan yang lebih luas. Termasuk dalam aspek hospitality saat melayani tamu.
"Jadi anak muda yang ikut ini diharapkan bisa lebih terbuka lagi wawasannya, nggak hanya mengenai produk tapi juga bagaimana hospitality-nya," tuturnya.
Adapun dalam bar take over, Vinyl Bar Bandung mengundang bartender atau talent dari bar lain untuk membawa pengalaman dan racikan koktail khas mereka ke Bandung. Para pengunjung kemudian dapat mencicipi koktail signature karya masing-masing bartender yang hadir.
"Kita undang talent bartender dari luar untuk membawakan cocktail yang ada di bar mereka. Di hari itu yang kita jual adalah cocktail mereka," ungkap Director of Marketing Communication Indigo Bandung, Dina Novia saa ditemui dalam kesempatan yang sama.
Senada dengan Warren, Dina memaparkan bahwa dunia cocktail di Bandung belum terlalu familiar dibandingkan kopi dan kuliner rakyat. Perbedaan gaya hidup menjadi salah satu tantangan.
Ia membandingkannya dengan Jakarta yang memiliki kebiasaan after office untuk nongkrong dan melakukan pertemuan informal setelah jam kerja. Sesi kunjungan ke bar menjadi hal yang banyak dicari.
"Di Jakarta itu pulang kerja lanjut nongkrong itu sudah biasa dan itu bukan hanya dengan teman-teman, sering kali dengan partner bisnis. Kerjaan after office hour masih ada," jelasnya.
Sementara itu, ia mengatakan, Bandung masih sangat kuat dengan daya tarik kuliner. Wisatawan yang datang ke Kota Kembang pun umumnya mencari makanan dan pengalaman kuliner khas Bandung.
"Bandung itu yang banyak dikenal adalah makanan kulinernya. Kita mau nge-boost bahwa di Bandung juga banyak orang-orang kreatif di bidang peracikan cocktail," ungkap Dina.
Meski begitu, geliat baru mulai terlihat. Sejumlah bar di Bandung kini mulai aktif menggelar kegiatan dan bar take over. Warren menyebut beberapa bar seperti Biru dan Luigi sebagai bagian dari perkembangan tersebut.
"Makin sini terasanya di bar lain pun sudah mulai banyak membuat aktivitas. Ada beberapa bar yang sudah aktif ikut menggelar bar take-over" jelasnya.
Menurut Warren, kondisi tersebut menunjukkan para pelaku industri mulai melihat adanya peluang. Jika sebelumnya aktivitas dilakukan secara sendiri-sendiri, kini semakin banyak bar yang mulai berkolaborasi.
"Sekarang sudah mulai banyak yang melihat peluang, bahwa membuka market baru lewat berbagai aktivitas itu memungkinkan," paparnya.
Ke depan, ia mengatakan, Vinyl Bar Bandung berencana terus menghadirkan Satu Meja dengan mengundang lebih banyak ahli dari industri tersebut.
"Ke depanya akan selalu mengundang orang-orang yang memang expert d bar masing-masing. Untuk berbagi seperti apa pengalaman mereka dan bagaimana hal tersebut bisa diimplementasikan di Bandung," tutup Warren.
