Bau Busuk di Bojong Deet Sukabumi Ungkap Kematian Hadri

Bau Busuk di Bojong Deet Sukabumi Ungkap Kematian Hadri

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 19 Agu 2026 18:28 WIB
Penemuan Mayat di Kampung Bojong Deet, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Rabu (19/8/2026).
Penemuan Mayat di Kampung Bojong Deet, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Rabu (19/8/2026). (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Setelah enam hari hilang tanpa kabar, seorang lansia bernama Hadri (60) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di Kampung Bojong Deet, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Rabu (19/8/2026).

Korban yang diketahui hidup sebatang kara tersebut ditemukan sudah membusuk di dalam rumah panggung miliknya yang kondisinya nyaris ambruk.

Pantauan di lokasi, kediaman korban tampak sangat memprihatinkan. Rumah panggung berkonstruksi kayu dengan dinding anyaman bilik bambu kusam itu berdiri di area tanah yang dikelilingi pepohonan rimbun. Kayu-kayu penyangga terlihat lapuk termakan usia, atap genteng sebagian sudah hancur, dan dinding bambunya pun tampak renggang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapolsek Simpenan AKP Bayu Sunarti Agustina mengungkapkan, peristiwa tragis ini terungkap berkat kecurigaan warga yang melintas di depan rumah korban sekitar pukul 11.30 WIB.

ADVERTISEMENT

"Penemuan mayat tersebut pertama kali diketahui pada saat Saudara Asep Lukman alias Bolu melintas di sekitar rumah tinggal Saudara Hadri, dan mencium bau busuk yang menyengat," kata AKP Bayu Sunarti dalam laporannya, Rabu (19/8/2026).

Mencium aroma tak sedap tersebut, saksi langsung melaporkan temuannya kepada ketua pemuda setempat, Tedi. Informasi itu kemudian diteruskan ke jajaran Polsek Simpenan untuk ditindaklanjuti.

Mendapat laporan warga, personel Polsek Simpenan bersama Pamapta dan Tim Identifikasi Polres Sukabumi segera bergegas menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP.

Saat petugas memeriksa bagian dalam rumah, korban ditemukan tergeletak kaku di lantai beralaskan tikar lusuh. Jasadnya berada di antara tumpukan kain perca dan barang bekas, dengan sebuah jerigen merah di dekat kakinya. Bagian wajah korban sudah menghitam akibat proses pembusukan yang diperkirakan sudah berlangsung beberapa hari.

"Menurut keterangan saksi dan warga sekitar, Saudara Hadri sudah tidak terlihat beraktivitas selama lebih kurang sekitar enam hari ke belakang, yang biasanya suka beraktivitas di dalam maupun luar rumah," tutur Bayu.

Keterangan senada disampaikan oleh seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menuturkan, sebelum menghilang selama hampir sepekan, korban sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya saat sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari.

"Waktu itu dia sempat mengeluh sakit perut pas lagi beli ikan pindang (cué). Setelah itu memang tidak kelihatan lagi," ujar warga tersebut di lokasi kejadian.

Warga juga memastikan bahwa selama ini korban memang menempati rumah panggung reyot tersebut seorang diri. Selama hidupnya, korban dikenal tenang dan tidak pernah memiliki permasalahan dengan lingkungan sekitar.

Berdasarkan catatan kepolisian dan keterangan dari adik kandungnya, Cecep, korban diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan sejak usia muda.

Pihak keluarga bersama aparatur desa setempat menyatakan telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan takdir, sehingga mereka memutuskan untuk menolak prosedur autopsi.

"Setelah dikomunikasikan dengan pihak keluarga dan pihak desa, jenazah segera dikebumikan. Pihak keluarga menerima bahwa kejadian tersebut sudah menjadi takdir almarhum, menolak untuk dilakukan autopsi, dan membuat surat pernyataan penolakan autopsi," pungkas AKP Bayu Sunarti.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads