Cara Ilmuwan Lepas Bintang Laut Langka untuk Jaga Ekosistem

Cara Ilmuwan Lepas Bintang Laut Langka untuk Jaga Ekosistem

detikINET - detikJabar
Rabu, 19 Agu 2026 23:00 WIB
Puluhan bintang laut bunga matahari (sunflower sea star) yang terancam punah kembali dilepas ke perairan Kepulauan San Juan, Washington, Amerika Serikat
Bintang laut bunga matahari. Foto: NPR
Jakarta -

Puluhan bintang laut bunga matahari (sunflower sea star) yang terancam punah kembali ke perairan Kepulauan San Juan, Washington, Amerika Serikat. Para ilmuwan melepas hewan tersebut sebagai bagian dari upaya memulihkan salah satu predator penting dalam ekosistem laut Pasifik.

Sebanyak 20 bintang laut yang selama ini tumbuh di laboratorium University of Washington dibawa menggunakan kapal penelitian milik Samish Indian Nation. Para penyelam kemudian menurunkannya ke dasar laut di sekitar Pulau Decatur pada April 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bintang laut ini memiliki karakteristik yang berbeda dari kebanyakan jenis bintang laut. Sunflower sea star dapat memiliki hingga 24 lengan dengan bentang lebih dari 90 sentimeter. Hewan ini juga termasuk salah satu bintang laut yang mampu bergerak cepat di dasar laut dengan bantuan ribuan kaki tabung berukuran kecil.

Predator Penting bagi Ekosistem Laut

Meski terlihat tidak berbahaya, sunflower sea star memiliki peran penting sebagai predator puncak di dasar laut. Salah satu mangsa utamanya ialah bulu babi laut (sea urchin).

ADVERTISEMENT

Ketika jumlah bintang laut menurun drastis, populasi bulu babi dapat meningkat dan menghabiskan hutan kelp. Ekosistem tersebut menjadi habitat penting bagi berbagai organisme laut sekaligus membantu melindungi garis pantai.

"Mereka menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Mereka melindungi garis pantai. Mereka mendukung perikanan lokal. Rasanya seperti, apa yang tidak dilakukan hutan kelp?," kata Jason Hodin, ilmuwan riset dari University of Washington, menggambarkan pentingnya ekosistem tersebut, dikutip dari NPR.

Penurunan populasi sunflower sea star kemudian memberi tekanan terhadap sejumlah hutan kelp di pesisir barat Amerika Utara. Ledakan populasi bulu babi membuat kondisi tersebut semakin sulit dalam sekitar satu dekade terakhir.

Salah satu penyebab utama kematian bintang laut berasal dari wabah sea star wasting disease. Penyakit tersebut menewaskan jutaan hingga miliaran bintang laut dan dapat merusak tubuh hewan hingga bagian lengannya hancur.

Para peneliti kemudian mengidentifikasi bakteri Vibrio pectenicida sebagai penyebab penyakit tersebut. Gelombang panas laut juga diduga menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan bakteri.

Hodin memperkirakan dampak wabah tersebut sangat besar terhadap populasi sunflower sea star.

"Kami benar-benar kehilangan banyak bintang laut. Kami memperkirakan telah kehilangan 90% sunflower sea star," ujarnya.

Wabah tersebut menyebar dari perairan California hingga Alaska dan memengaruhi puluhan spesies bintang laut. Penurunan populasi yang ekstrem membuat sunflower sea star masuk kategori critically endangered atau sangat terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Ilmuwan Membesarkan Bintang Laut di Laboratorium

Para ilmuwan University of Washington kemudian berupaya membiakkan sunflower sea star di laboratorium untuk mencegah spesies tersebut semakin mendekati kepunahan.

Di Friday Harbor Laboratories, para peneliti merawat ribuan sunflower sea star, mulai dari larva berukuran mikroskopis hingga individu dewasa.

Proses tersebut tidak mudah. Para peneliti harus mempelajari teknik pembiakan hewan yang sebelumnya relatif sedikit diteliti. Mereka juga mengembangkan cara menangani sea star wasting disease ketika penyakit tersebut masuk ke fasilitas laboratorium.

Beberapa bintang laut yang akhirnya dilepas berusia sekitar tiga tahun. Ukurannya pun sudah lebih besar daripada rentang tangan manusia.

Para peneliti bahkan memberikan nama kepada sejumlah bintang laut yang mereka rawat, seperti Nacho, Baby Carrot, dan Pluot.

Tim sebenarnya merencanakan pelepasan 20 bintang laut tersebut lebih awal. Namun, rencana pada Oktober 2025 terpaksa tertunda setelah penyelam menemukan sea star wasting disease masih aktif di sekitar Kepulauan San Juan.

Setelah kondisi memungkinkan, tim kembali mencoba melepas bintang laut hasil pembiakan pada April 2026. Para peneliti melihat pelepasan tersebut sebagai bagian dari upaya mengembalikan spesies ke habitat alaminya.

Samuel Strauss, ahli biologi Samish Nation yang memimpin penyelaman, menggambarkan perasaannya saat bintang laut tersebut kembali menyentuh habitat alaminya.

"Saya sangat bersyukur melihat bintang-bintang laut ini sehat dan bahagia di dalam air."

Menurut Strauss, bintang-bintang laut tersebut segera keluar dari wadah setelah dilepaskan. Mereka kemudian mulai menjelajahi lingkungan sekitar, mencari batu untuk bersembunyi serta helaian kelp untuk berlindung.

Upaya Memulihkan Hutan Kelp

Proyek tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan jumlah sunflower sea star. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah kembalinya predator tersebut dapat membantu memulihkan hutan kelp.

Jika populasi bintang laut kembali meningkat, para peneliti berharap jumlah bulu babi yang memakan kelp dapat lebih terkendali. Kondisi itu dapat membantu mengurangi tekanan terhadap hutan kelp dan mendukung pemulihan keseimbangan ekosistem laut.

Bagi para ilmuwan, pelepasan 20 sunflower sea star menjadi salah satu langkah dalam upaya memulihkan predator yang populasinya sempat anjlok akibat wabah penyakit.

Baca berita selengkapnya di detikINET.

(rns/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads