Vandalisme Pohon di Bandung dan Filosofi Kekayaan yang Hilang

Vandalisme Pohon di Bandung dan Filosofi Kekayaan yang Hilang

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Rabu, 19 Agu 2026 11:03 WIB
Sudah 8 tahun Yayat menjadi petugas DPKP3 yang bertugas sebagai pemotongan dan perawatan pohon di Kota Bandung.
Foto: Wisga Putra Julian/detikJabar
Bandung -

Pepohonan di depan sebuah lapangan padel di Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, ditebang secara ilegal baru-baru ini. Pemerintah turun tangan dengan memberikan sanksi.

Belum lama penebangan itu terjadi, muncul kasus baru di mana pohon-pohon di sekitar Jalan Pahlawan dikuliti. Pengulitan dilakukan dengan cukup rapi. Tampak dari bekasnya, perbuatan itu menggunakan alat yang tajam. Pohon jadi seolah-olah 'buligir' (tanpa busana).

Kejadian-kejadian itu mengingatkan kita akan peran pohon di tengah-tengah kehidupan masyarakat kota. Kocap tercerita, sebuah penelitian menyebutkan pohon adalah tanda kekayaan. Jika Anda ingin menambah kekayaan, tanamlah pohon. Bukan sebaliknya, menebang dan merusak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

4 Fakta Terlupakan Tentang Pohon

DetikJabar merangkum sejumlah fakta yang boleh jadi terlupakan mengenai pohon. Selain tanda kekayaan, pohon dalam Dinamisme dan Islam bukan sekadar makhluk tanpa peran.

1. Tanda Kekayaan

Sebuah studi di Toronto, Kanada, menunjukkan bahwa menanam sekitar sepuluh pohon di sekitar tempat tinggal dapat membawa keuntungan besar berupa kesehatan.

ADVERTISEMENT

Studi itu memang memperhitungkan keuntungan kesehatan tersebut jika diuangkan. Yakni, orang yang menanam itu akan mendapat kesehatan tujuh tahun lebih muda. Artinya, dia menambah kekayaan sekitar US$10 ribu atau sekitar Rp170 juta dengan kurs saat ini.

Pepohonan yang ditanam di sekitar tempat tinggal itu berkaitan dengan potensi menghindarkan penyakit kardiometabolik seperti diabetes, serangan jantung, serta stroke. Kalau saja seseorang terkena penyakit-penyakit itu karena situasi lingkungan yang tanpa pohon, berapa biaya yang mesti dibayar untuk pengobatan?

Di samping itu, pohon adalah tanda kekayaan secara riil. Ambillah contoh pohon-pohon yang menghasilkan buah. Pemiliknya akan panen sekian puluh kilogram per tahun dari satu pohon. Jika seorang saja punya sepuluh pohon berbuah? Investasi yang menjanjikan.

2. Dihormati dalam Dinamisme

Pernah ada suatu masa di mana pohon-pohon mendapat penghormatan setara dengan manusia, bahkan lebih. Hal ini yang dikenal sebagai Dinamisme, di mana masyarakat percaya ada kekuatan gaib yang terkandung dalam benda-benda, termasuk pohon.

Dalam dinamisme, benda-benda dianggap memiliki 'roh'. Hal ini berbeda dengan kepercayaan lainnya, yakni Animisme di mana roh-roh nenek moyang 'ngancik' (bersemayam) pada benda-benda termasuk pepohonan.

Dalam dinamisme, manusia era purba seolah-olah beriman bahwa di hadapan alam raya yang megah, manusia selalu kalah, selalu tidak ada apa-apanya. Dan karena pohon di antaranya telah banyak memberi mereka penghidupan, mereka menghormati pohon. Mereka juga menghormati air dan batu-batu yang ketika itu sangat berguna sebagai alat hidup.

3. Pohon Bisa Menangis

Dalam percakapan tentang Islam, ada hadis yang memuat riwayat tentang batang pohon yang menangis. Dalam beberapa redaksi, dikisahkan bahwa suara tangisan itu terdengar oleh semua jemaah di Masjid Nabawi ketika itu.

Di Masjid Nabawi, Nabi Muhammad SAW berkhotbah Jumat dengan berdiri dan beliau bersandar pada pohon kurma. Terus-menerus seperti itu. Pohon kurma itu merasakan tubuh Nabi bersandar kepadanya.

Suatu saat, ada yang mengusulkan pembuatan mimbar baru supaya ketika berkhotbah Nabi tidak merasa lelah. Maka, ketika Nabi tidak lagi bersandar pada pohon kurma karena beralih menggunakan mimbar baru, pohon itu menangis.

Tangisan pohon itu terdengar oleh semua jemaah. Nabi menghampirinya dan menenangkan pohon yang dikaruniai Allah SWT kemampuan untuk bicara. Pohon itu mengatakan bahwa dia sedih karena rindu kepada Nabi.

4. Rumput dan Pepohonan Bersujud

Penyair Ahmadun Yosi Herfanda menulis puisi berjudul 'Sembahyang Rumputan' (1996). Di dalamnya, dikatakan: 'Sembahyangku sembahyang rumputan, sembahyang penyerahan jiwa dan badan'.

Puisi itu tampaknya bukan sebatas karangan yang kosong, melainkan punya akarnya di dalam literatur Islam. Bahwa di dalam Islam, bahkan rumput dan pepohonan pun senantiasa bersujud kepada Allah SWT.

Al-Qur'an surat Ar-Rahman ayat 6 menjelaskan dengan tegas bahwa Najm (tanaman tanpa batang) dan Syajar (pepohonan), kedua jenis itu bersujud.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads