Mendulang Rupiah dari Keruhnya Minyak Jelantah

Sisi Terang

Mendulang Rupiah dari Keruhnya Minyak Jelantah

Yudha Maulana - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 18:30 WIB
Ahmad Nur Ali memperlihatkan minyak jelantah yang dikumpulkan dari warga
Ahmad Nur Ali memperlihatkan minyak jelantah yang dikumpulkan dari warga (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)
Bandung -

Wangi ayam goreng. Aroma itu yang pertama kali tercium ketika memasuki sebuah gudang di Jalan Pasirgede, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Setelah ditelisik, aroma itu menguar dari proses pemanasan minyak jelantah (UCO) yang sedang disaring dan dipisahkan dari ampas sisa penggorengan.

Uap tipis mengepul perlahan ke langit-langit gudang yang temaram, membawa jejak gurih bumbu marinasi yang masih melekat pekat pada residu minyak berwarna kecokelatan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suara gemuruh mesin penyaring berpadu dengan derak jeriken-jeriken yang hilir mudik diangkut para pekerja.

Di tengah kondisi ekonomi yang serbamenantang, saat harga kebutuhan pokok merangkak naik dan lapangan kerja kian sempit, tempat ini justru menjadi saksi bagaimana limbah dapur yang kerap dibuang begitu saja ke selokan bisa menjelma menjadi penopang ekonomi banyak keluarga.

ADVERTISEMENT

"Sumbernya berjenjang, mulai dari limbah dapur rumah tangga biasa sampai pedagang makanan dan warung tenda," tutur Manager & Procurement PT Global Adidaya Sejahtera (GLAS), Ahmad Nur Ali (33), saat berbincang santai, Jumat (14/8/2026).

Melalui konsep ekonomi sirkular, fasilitas ini menggerakkan ekosistem rantai pasok yang memberdayakan warga sekitar. Ali merangkul para kolektor lokal untuk menjemput jelantah langsung dari pintu ke pintu.

Bagi ibu rumah tangga atau pedagang kecil, setoran minyak jelantah menjadi pemasukan tambahan yang sangat berarti. Setiap kilogramnya dihargai di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 9.000. Untuk pengumpul atau pedagang yang menyetorkan dalam partai besar, Ali memberikan harga beli yang lebih tinggi karena memangkas biaya logistik operasional.

"Kami juga edukasi warga dan pedagang agar menyaring minyaknya terlebih dahulu. Tapi kalau mereka repot, kolektor di lapangan sudah siap membawa saringan sendiri," jelas Ali.

Dalam sepekan, fasilitas ini mampu menghimpun 20 hingga 30 ton UCO. Minyak yang telah diproses kemudian disalurkan ke vendor mitra Danantara guna memenuhi kuota ekspor bahan baku energi hijau.

"Di sana, kualitasnya dipantau ketat. Kandungan FFA (asam lemak bebas) maksimal 5 persen, sedangkan kadar air dan kotoran dibatasi maksimal 2 persen," tutur Ali.

Tepung spinner olahan dari dedak sisa penggorenganTepung spinner olahan dari dedak sisa penggorengan Foto: Yudha Maulana

Pemanfaatan jelantah tak hanya bermuara pada produksi biodiesel dan avtur ramah lingkungan. Ali menerapkan prinsip nihil sampah (zero waste); minyak jelantah dengan spesifikasi tertentu dialirkan sebagai substitusi CPO untuk pabrik sabun dan pakan ternak lokal.

Sementara itu, ampas remah tepung krispi dipisahkan menggunakan mesin spinner menjadi tepung residu padat (elod) berkalori tinggi yang dimanfaatkan sebagai campuran booster pakan ternak, langkah ini menjadi diversifikasi pasar ketika regulasi ekspor biofuel sedang mengetat.

"Termasuk kerupuk BS (bad stock), daripada dibuang bisa kita kukus, kemudian diekstrak minyaknya," ucap Ali.

Roda Ekonomi Akar Rumput

Adinda Fatimatur Rahmah (kanan) dan Ahmad Nur Ali (kiri)Adinda Fatimatur Rahmah (kanan) dan Ahmad Nur Ali (kiri) Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Geliat ekonomi hijau ini membuka peluang usaha nyata bagi masyarakat di tingkat akar rumput. Salah satu kolektor yang kini rutin memasok jelantah ke rantai pasok PT GLAS adalah Adinda Fatimatur Rahmah (28).

Mantan kasir minimarket ini menemukan jalan rezekinya bersama sang suami setelah terinspirasi oleh kakaknya yang lebih dulu berkecimpung di bisnis UCO. Mereka berbagi peran, mulai dari urusan administrasi hingga penjemputan minyak jelantah ke lapangan.

"Awalnya kakak saya menyuruh untuk mengambil minyak jelantah 200 kilogram. Pakai motor susah, kebetulan ada mobil saudara. Kemudian disetorkan minyak itu, ternyata hasilnya lumayan menjanjikan. Dari situ saya jadi semangat," ujar Adinda, yang kini mendirikan Rumah Jelantah Cimahi (RJC).

Awalnya, ia memanfaatkan jejaring dari sang kakak. Namun, seiring waktu berjalan, Adinda kemudian membuka jalurnya sendiri. Perlahan-lahan, ia mengumpulkan modal untuk membeli mobil pikap untuk mengangkut jelantah. Saat ini RJC bisa mengumpulkan minyak jelantah 2-4 ton per minggu.

"Dulu itu terhambat karena enggak ada kendaraan. Bisa saja pakai motor, tapi pernah saat itu harus bawa minyak 10 jeriken agak sulit. Tapi alhamdulillah sekarang sudah ada kendaraan," tuturnya.

Salah satu cara yang dilakukan Adinda untuk menjaring calon penyedia minyak jelantah, yakni dengan memanfaatkan media sosial. Tawar menawar soal harga minyak jelantah pun ia lakukan.

"Kata orang lain, minyak jelantah ini barang yang disia-siakan, ternyata punya nilai yang berharga," ujarnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads