Forest City pernah digadang-gadang sebagai proyek kota masa depan di Malaysia. Namun, kawasan megah yang dibangun dengan konsep kota pintar itu kini justru lebih dikenal sebagai kota hantu.
Reputasinya semakin buruk setelah polisi Malaysia menemukan dugaan operasi sindikat penipuan yang memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat menjalankan aksinya.
Melansir detikProperti, Forest City merupakan proyek patungan Country Garden, salah satu pengembang properti terbesar China, dan Danga 88, perusahaan swasta yang dikendalikan Sultan Malaysia Ibrahim Iskandar. Proyek tersebut mulai dibangun pada 2016.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kawasan ini berada di Johor, Malaysia, tak jauh dari perbatasan Singapura. Forest City dibangun di atas sejumlah pulau hasil reklamasi sehingga lokasinya relatif jauh dari pusat kota.
Konsep yang ditawarkan pun ambisius. Forest City dirancang sebagai kawasan terpadu dengan hotel mewah, lapangan golf, taman air, area perkantoran, hingga apartemen tepi laut bergaya resor.
A view of a hotel and residential apartments in Country Garden's Forest City development in Johor Bahru, Malaysia August 16, 2023. REUTERS/Edgar Su Foto: REUTERS/EDGAR SU |
Namun, visi tersebut tidak berjalan sesuai rencana.
Sejak awal pembangunan, proyek ini menghadapi berbagai persoalan. Pemerintah Malaysia tidak sepenuhnya memberikan restu terhadap proyek tersebut. Bahkan, izin pembangunannya sempat dipermasalahkan sekitar enam bulan setelah pembangunan dimulai.
Meski demikian, proyek tetap berlanjut.
Pandemi Jadi Pukulan Besar
Masalah Forest City semakin berat ketika pandemi COVID-19 melanda.
Pembatasan perjalanan dan aktivitas ekonomi membuat kawasan yang sejak awal kesulitan menarik penghuni semakin sepi. Di sisi lain, Country Garden menghadapi beban utang yang sangat besar.
Forest City akhirnya tidak pernah berkembang sesuai rencana. Pembangunannya diperkirakan baru mencapai sekitar 15 persen dari keseluruhan proyek.
Sebagian unit memang sempat dihuni. Namun, pandemi membuat banyak penghuni meninggalkan kawasan tersebut.
Kini, jumlah orang yang tinggal di Forest City diperkirakan hanya sebagian kecil dari kapasitas yang direncanakan. Kawasan yang seharusnya dipenuhi penghuni, pekerja, dan wisatawan justru memiliki banyak bangunan kosong. Julukan kota hantu pun melekat.
Jadi Markas Sindikat Penipuan
Setelah lama menjadi sorotan karena sepinya penghuni, Forest City kembali mencuat pada pertengahan Juli 2026.
Polisi Malaysia mengungkap dugaan operasi sindikat penipuan yang memanfaatkan kawasan tersebut. Sindikat itu diduga menjalankan penipuan investasi dan penipuan percintaan terhadap korban di luar negeri.
Sebanyak 335 orang ditangkap dalam operasi tersebut. Polisi juga menyita aset senilai sekitar 1 juta ringgit atau Rp 4,3 miliar.
Barang yang disita antara lain 313 komputer, 1.557 telepon seluler, 17 laptop, dan 10 modem.
Menurut polisi, aktivitas sindikat tersebut tersebar di 32 lokasi yang berada di 27 apartemen pada lima lantai sebuah menara hunian. Lokasi lainnya berada di lima bungalow.
Kondisi Forest City yang sepi diduga menjadi salah satu alasan kawasan tersebut menarik bagi para pelaku.
'Tidak Ada yang Datang ke Sini'
Seorang penghuni sekaligus sales properti Forest City yang menggunakan nama samaran Kevin menggambarkan kondisi kawasan tersebut.
Menurutnya, Forest City justru memiliki daya tarik tersendiri karena reputasinya sebagai kota hantu.
"Ketika kami berbicara dengan klien atau pelanggan, perusahaan mengajari kami untuk mengatakan 'kami sudah memiliki 23.000 penduduk yang tinggal di daerah ini'," kata Kevin, seperti dikutip BBC.
A view of a hotel and residential apartments in Country Garden's Forest City development in Johor Bahru, Malaysia August 16, 2023. REUTERS/Edgar Su Foto: REUTERS/EDGAR SU |
Namun, Kevin menyebut kondisi sebenarnya jauh berbeda. Menurutnya, jumlah penghuni Forest City kurang dari 5.000 orang.
Kawasan yang sepi tersebut, kata dia, justru bisa menjadi tempat nyaman bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan aktivitasnya.
"Mereka punya privasi sendiri. Tidak ada yang datang ke sini," ucapnya.
Pandangan serupa disampaikan John Wojcik, analis TRM Labs yang menyelidiki kejahatan berbasis kripto.
Menurut Wojcik, kondisi Forest City dan reputasinya sebagai kota hantu membuat kawasan tersebut memiliki karakteristik yang dapat dimanfaatkan jaringan kriminal.
"Forest City mencerminkan kondisi yang telah menjadi target kejahatan terorganisir selama bertahun-tahun - lokasi unggulan yang dipasarkan sebagai kota pintar yang bergengsi, mewah, dan terencana dengan baik, namun tidak pernah mendekati pemenuhan visi tersebut," kata Wojcik.
Forest City kini menghadapi ironi besar. Proyek yang semula dipromosikan sebagai simbol kota masa depan justru kesulitan mengisi bangunannya dengan penghuni.
Ketika sebagian besar kawasan masih sunyi dan kosong, ruang-ruang yang seharusnya menjadi pusat kehidupan kota malah diduga dimanfaatkan jaringan penipuan.
Dari proyek kota futuristik, Forest City kini harus berhadapan dengan reputasi baru sebagai kota hantu yang menjadi tempat bersembunyi sindikat kriminal.
Artikel ini sudah tayang di detikProperti, selengkapnya di sini


