Curhat Pedagang Bendera Merah Putih di Cirebon, Omzet Terjun Bebas

Curhat Pedagang Bendera Merah Putih di Cirebon, Omzet Terjun Bebas

Ony Syahroni - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 11:00 WIB
Tarsadi, penjual bendera musiman di Kota Cirebon
Tarsadi, penjual bendera musiman di Kota Cirebon (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Tarsadi (50) masih setia menggelar lapak bendera di pinggir jalan Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Sejak 1 Agustus, dia berjualan dari pagi hingga sore memanfaatkan momen jelang HUT ke-81 RI. Namun omzet yang didapat tahun ini turun jauh dibandingkan tahun lalu.

Hingga 15 Agustus, Tarsadi baru mengantongi omzet sekitar Rp3 juta. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, omzetnya sudah mencapai sekitar Rp7 juta.

"Kalau sekarang sekitar Rp3 jutaan, berikut modal. Tahun kemarin sampai Rp7 jutaan. Jadi kalau dibanding tahun kemarin jauh," kata Tarsadi saat ditemui di lapaknya, Sabtu (15/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap pagi, Tarsadi mulai membuka lapaknya sekitar pukul 07.00 WIB. Bendera Merah Putih hingga bambu ditata di pinggir jalan untuk ditawarkan kepada warga yang melintas.

Omzet harian Tarsadi pun tidak menentu. Pada 1 Agustus, dia sempat mencatat penjualan Rp600 ribu, kemudian Rp500 ribu pada hari kedua dan Rp400 ribu pada hari ketiga.

ADVERTISEMENT

"Setelah itu turun terus, Rp300 ribu sampai Rp200 ribu. Dan kemarin cuma dapat Rp80 ribu," ujarnya.

Berbagai ukuran bendera dijual Tarsadi. Menurutnya, bendera ukuran sedang dengan harga Rp25 ribu-Rp30 ribu menjadi salah satu yang paling banyak diminati.

Tarsadi sendiri sudah berjualan bendera sejak sekitar tahun 1994. Sebelum di Cirebon, dia sempat berjualan bendera di Jakarta dan Tangerang.

"Pertama di Jakarta, terus Tangerang, terus ke Cirebon. Kalau di Cirebon sudah 11 tahun," katanya.

Menjelang sore, Tarsadi masih bertahan di lapaknya hingga pukul 17.00 WIB. Dia tetap menjajakan dagangannya meski omzet yang didapat tahun ini mengalami penurunan.

Bagi Tarsadi, berjualan bendera memang menjadi pekerjaan musiman setiap menjelang Agustus. Di luar momen tersebut, dia bekerja serabutan setelah pekerjaan di pabrik rotan tempatnya biasa bekerja sedang kosong.

"Kalau lagi nggak dagang, saya kerja. Biasanya di pabrik rotan. Tapi sekarang sudah sekitar empat bulan kosong, jadi kerja serabutan," ujarnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads