Gempa bumi dengan magnitudo (M) 7,7 di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu gelombang tsunami hingga getaran yang dirasakan di Sulawesi Selatan (Sulsel). BMKG mencatat pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan BMKG mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Sesar Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust).
"BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak," kata Nelly dalam keterangan dari BMKG, Sabtu (15/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan (LS) dan 121,39 derajat Bujur Timur (BT), atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT. Gempa terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB.
Getaran gempa juga dirasakan dalam skala VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang artinya getaran mengejutkan semua penduduk hingga berlari keluar. Getaran ini dirasakan masyarakat di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa.
Gempa juga dirasakan dalam Skala V MMI yang artinya membangunkan banyak orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk): berdampak pada masyarakat di Kota Ende, Kota Borong, serta Kota Ruteng.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mendeteksi sebanyak 37 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan rentang magnitudo M3,6 hingga M6,2, di mana masyarakat merasakan 1 gempa bumi di antaranya.
"Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M 7,8 hingga M 7,9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores," terang Wijayanto.
Tsunami hingga Sulsel dan Sultra
BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami dan telah mengakhiri pada pukul 07.30 WIB. Gempa ini memicu gelombang tsunami di 10 daerah, dari NTT hingga Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Tenggara (Sultra):
1. Sikka: Ketinggian 0,20 meter (pukul 05.03 WIB);
2. Pelabuhan Kewapante-Sikka: Ketinggian 0,38 meter (pukul 05.16 WIB);
3. Flores Timur: Ketinggian 0,25 meter (pukul 05.24 WIB);
4. Labuan Bajo: Ketinggian 0,36 meter (pukul 05.26 WIB);
5. Maurole-Ende: Ketinggian 0,94 meter (pukul 05.27 WIB);
6. Dompu: Ketinggian 0,17 meter (pukul 05.29 WIB);
7. Bakalang-Alor: Ketinggian 0,14 meter (pukul 05.41 WIB);
8. Baubau, Sultra: Ketinggian 0,30 meter (pukul 05.47 WIB);
9. Bulukumba, Sulsel: Ketinggian 0,54 meter (pukul 05.58 WIB); dan
10. Kolaka, Sultra: Ketinggian 0,23 meter (pukul 06.27 WIB)
Dampak Kerusakan
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memaparkan hasil pemantauan awal Stasiun Geofisika Kupang serta koordinasi dengan BPBD setempat terkait
dampak skala intensitas gempa. Hasilnya, guncangan gempa merobohkan beberapa bagian tembok rumah sederhana di wilayah Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo. Selain itu, gempa juga merusak fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo.
"Tim BMKG mulai hari ini diterjunkan langsung ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh," ucap Teguh.
Berdasarkan kejadian ini, BMKG terus memonitor perkembangan gempa bumi susulan serta dinamika tinggi muka laut secara real-time. BMKG menghimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan menyaring setiap informasi agar terhindar dari isu atau hoaks yang beredar. BMKG juga mengimbau warga agar menjauhi serta memeriksa kondisi bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur akibat guncangan gempa, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi susulan.
Update Jumlah Korban
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban gempa magnitudo 7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil pendataan sementara, terdapat 14 korban tewas.
Data dimutakhirkan pada pukul 12.30 WIB, Sabtu (15/8/2026). Jumlah korban luka berat yang terdata hingga siang ini 2 orang, sementara luka ringan 11 orang.
"Data tersebut masih dalam proses pendataan, verifikasi, dan validasi di lapangan," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangannya.
(yum/yum)
