Hujan Tak Datang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai

Kabar Sains

Hujan Tak Datang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai

Rachmatunnisa - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 14:30 WIB
Titan
Titan (Foto: SpaceDaily)
Bandung -

Bayangkan sebuah dunia yang kekeringan selama berdekade-dekade, lalu tiba-tiba dihantam badai megah saat waktunya tiba. Gambaran ekstrem inilah yang diperkirakan terjadi di Titan, satelit alami terbesar milik Saturnus.

Kajian teranyar mengindikasikan bahwa area ekuator Titan yang terkenal sangat gersang ternyata tetap menyerap presipitasi. Namun, siklusnya terbilang langka: hujan metana baru tercurah setelah jeda puluhan tahun, dan ketika momen itu tiba di sekitar masa ekuinoks-saat Matahari melintasi garis khatulistiwa Titan-presipitasi yang turun menjelmakan badai yang amat dahsyat.

Di luar Bumi, Titan berdiri sebagai satu-satunya objek angkasa di Tata Surya yang mengoperasikan sistem sirkulasi cuaca secara menyeluruh. Perbedaannya terletak pada elemen pembentuknya; jika planet kita mengandalkan air dalam proses penguapan, pembentukan awan, hingga presipitasi, Titan sepenuhnya memanfaatkan senyawa metana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhu di permukaan Titan yang menembus minus 179 derajat Celsius membuat air membeku sekeras karang. Di tengah pembekuan ekstrem tersebut, metana justru sanggup bertahan dalam fase cair, mengalir mengisi alur sungai, membentuk danau, menyusun perawanan, hingga akhirnya tercurah kembali menjadi hujan.

Salah satu bukti hujan di Titan muncul pada September 2010 ketika wahana Cassini milik NASA mengamati wilayah khatulistiwa Titan berubah menjadi lebih gelap dalam beberapa hari. Para ilmuwan menafsirkan perubahan warna tersebut sebagai bekas hujan metana yang membasahi hamparan bukit pasir yang sebelumnya kering. Fenomena itu kemudian dikenal sebagai Arrow Storm.

ADVERTISEMENT

Pengamatan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan tentang iklim Titan. Selama ini, model iklim menunjukkan sebagian besar hujan terjadi di wilayah kutub, tempat danau serta lautan metana terkonsentrasi. Sementara daerah khatulistiwa hampir selalu kering sehingga hujan hanya muncul sesekali dalam interval yang sangat panjang.

Ilmuwan atmosfer Tetsuya Tokano menjelaskan bahwa hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar berkaitan dengan perubahan musim di Titan.

"Curah hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar terjadi di sekitar periode ekuinoks," kata Tokano seperti dikutip dari SpaceDaily, Senin (10/8/2026).

Ia menambahkan bahwa sabuk hujan di Titan tidak menetap di satu tempat. "Sabuk hujan, meski muncul secara berkala, bergerak dari kutub selatan ke kutub utara. Artinya, setiap wilayah di Titan berpeluang mengalami hujan selama satu tahun Titan," imbuhnya.

Satu tahun di Titan setara dengan sekitar 29,5 tahun di Bumi, sehingga perubahan musim berlangsung sangat lambat. Akibatnya, sebagian wilayah dapat menunggu puluhan tahun sebelum kembali diguyur hujan.

Meski jarang, badai metana yang terjadi diperkirakan cukup kuat untuk membentuk bentang alam Titan, termasuk lembah sungai dan pola erosi yang terlihat dari hasil pengamatan wahana Cassini. Temuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana lanskap satelit Saturnus tersebut terus berubah meski hujan turun sangat jarang.

Artikel ini telah tayang di detikINET

(rns/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads