Rahasia Kamar 4x4 Meter di Bandung yang Tak Bau Meski Dihuni 22 Ayam

Rahasia Kamar 4x4 Meter di Bandung yang Tak Bau Meski Dihuni 22 Ayam

Bima Bagaskara - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 11:30 WIB
Kamar Ayam Agus di Bandung
'Kamar Ayam' Agus di Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Bau kandang ayam biasanya menjadi hal pertama yang terbayang ketika puluhan unggas dipelihara dalam satu ruangan. Namun, bayangan itu seketika terbantahkan ketika memasuki sebuah kamar berukuran 4x4 meter di Jalan Laswi, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Ruangan tersebut dipenuhi 22 ekor ayam kampung petelur milik Agus Hadiyana (49). Uniknya, meski ayam-ayam itu hidup dan menghasilkan kotoran setiap hari, bau menyengat yang lazim ditemukan di kandang ayam nyaris tak tercium.

Bagi Agus, kondisi itu bukan kebetulan. Ia menghabiskan waktu lebih dari setahun mempelajari cara mengelola kamar tersebut agar tetap nyaman bagi ayam sekaligus tidak mengganggu lingkungan sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kotoran pasti semua orang persepsinya sama. Kalau ayam, kandang, atau orang yang memelihara ayam pasti bau dan sebagainya. Tapi sebenarnya itu kan setelah saya belajar ya kurang lebih setahunan lebih, akhirnya ada formula-formula yang bisa kita manfaatkan," kata Agus saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.

Kotoran Ayam Tak Sekadar Dibuang

Rahasia pertama Agus justru berada di bagian dasar ruangan. Kotoran ayam tidak sekadar dibersihkan lalu dibuang setiap hari. Ia memanfaatkan sejumlah bahan untuk mengolah alas kandang.

Sekam atau gabah menjadi salah satu bahan utama yang kemudian dipadukan dengan kapur dolomit dan pasir sungai. Tidak berhenti di situ, Agus juga menambahkan kotoran dari hewan lain, seperti kambing dan sapi.

"Dari bahan dapur, terus dari si liter istilahnya atau alas kandang. Ya kita mengolah dari sekam atau gabah, terus kita manfaatin juga kapur dolomit, kita tambah juga pasir sungai, terus kita tambah dua variabel lagi ya kohe atau kotoran hewan dari kambing sama sapi," ujarnya.

Menurut Agus, perpaduan bahan tersebut membantu mengurangi aroma amonia yang muncul dari kotoran ayam.

"Ini semua sebenarnya yang bisa menggerus bau-bauan amoniak dari kotoran ayam itu sendiri, kotoran ayam. Tapi sebenarnya ada lagi yang paling penting adalah bagaimana caranya kita memproses usus ayam itu sendiri untuk tidak menghasilkan bau, yaitu dengan membuat jamu-jamuan dan pola pakan yang fermentasi," tuturnya.

Dengan cara tersebut, pengendalian bau tidak hanya dilakukan setelah kotoran keluar. Agus justru berusaha mengatur proses dari dalam tubuh ayam melalui pola pakan dan jamu-jamuan yang dibuatnya.

Belajar dari 'Profesor Bayu'

Bagi Agus, metode tersebut bukan muncul begitu saja. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan dari seseorang yang disebutnya Profesor Bayu.

Menurut Agus, metode tersebut kemudian ia terapkan untuk membuat pengelolaan kamar ayam menjadi lebih praktis. Terlebih, ia mengaku bukan tipe peternak yang ingin setiap hari berjibaku membersihkan kotoran ayam.

"Ilmu ini sebenarnya dari Profesor Bayu ya, beliau yang memviralkan atau mengenalkan metodologi ini kepada banyak peternak pemalas seperti saya yang tidak pernah mau beberes kandang, yang tidak pernah mau ngangkat tahi ayam tiap hari," katanya.

Bagi Agus, metode tersebut menjadi semacam antitesis dari anggapan bahwa kandang ayam harus selalu dibersihkan dengan cara mengangkut seluruh kotorannya.

Ia justru mencoba mengolah berbagai material tersebut agar menghasilkan lingkungan yang tetap nyaman bagi ayam sekaligus tidak mengganggu manusia di sekitarnya.

"Ternyata formula ini cukup berhasil menurut saya dengan ya antitesis antara bagaimana mempertemukan kotoran-kotoran ini menjadi sesuatu yang akhirnya berguna untuk ayam dan udara sendiri gitu," ucapnya.

Halaman 3 dari 3


Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads