Sejumlah warga di wilayah Bandung Raya sedang dilanda kegundahan terkait Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebab, berdasarkan hasil pengecekan mandiri, mereka malah dikategorikan sebagai masyarakat mapan karena masuk desil 10.
Sekadar diketahui, desil adalah klasifikasi tingkat kesejahteraan masyarakat yang terintegrasi dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). DTKS sendiri kini sudah digantikan oleh DTSEN.
Desil ini dibagi ke dalam 10 tingkatan. Masyarakat yang masuk desil 10 dianggap memiliki kondisi ekonomi paling mampu atau mapan, sedangkan desil 1 adalah sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, masalah pun muncul ketika warga di sejumlah wilayah di Bandung Raya penasaran untuk mengecek langsung kategori desil mereka. Gunawan (50), salah seorang warga Kota Bandung, misalnya, tiba-tiba kaget lantaran masuk dalam desil 10.
"Tadi ngecek karena penasaran, kok ini saya masuk desil 10 yah. Udah kayak CEO aja atuh ini mah," kata dia saat dikonfirmasi detikJabar, Jumat (14/8/2026).
Untuk mengecek desil DTSEN secara mandiri, warga hanya perlu mengakses tautan https://dtsen-form.bps.go.id. Setelah terbuka, tekan 'Lainnya', lalu masukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di kolom yang tersedia, lengkapi kode captcha, dan langsung klik 'Cek Data'.
Seingat Gunawan, sebelum hal ini ramai di media sosial, ada sejumlah petugas Sensus Ekonomi yang datang ke rumahnya. Namun saat itu, ia mengaku menjawab seluruh pertanyaan dengan detail, termasuk masalah pemasukan dan pengeluarannya per bulan.
Namun kemudian, Gunawan justru merasa aneh tiba-tiba dikategorikan sebagai masyarakat mapan. Ia heran mengenai indikator apa yang ditetapkan sehingga dirinya masuk desil 10.
"Logika aja atuh, masak orang mapan kayak saya tinggal di rumahnya yang posisinya di gang. Kan aneh. Makanya, saya mah bingung ini tiba-tiba masuk kategori begitu," ucapnya.
Gunawan sebetulnya tidak begitu mempermasalahkan jika kategori desil 10 itu membuatnya tidak mendapatkan bantuan pemerintah. Namun yang ia khawatirkan, desil 10 ini justru berpengaruh terhadap rencana keuangannya di masa mendatang, salah satunya untuk kebutuhan kuliah anaknya.
"Takutnya kan nanti ngaruh ke mana-mana. Ngambil cicilan nanti dianggap orang mapan, UKT kuliah anak nanti tinggi misalnya. Kalau cuma pelabelan doang sih enggak apa-apa, tapi kalau sampe berdampak panjang mah siapa yang mau tanggung jawab," keluhnya.
Perasaan serupa diungkapkan Hilman (31), warga Ciwastra, Bandung. Setelah petugas Sensus Ekonomi datang ke rumahnya beberapa waktu lalu, dia tiba-tiba dikategorikan masuk desil 10.
Kini, Hilman bingung harus memprotes kondisi ini ke siapa. Sembari menggerutu, ia berandai-andai jika saja kondisinya bakal seperti ini, Hilman mengaku tidak mau menyebutkan secara detail mengenai kondisi keuangannya saat itu.
"Intinya mah jangan sampe malah ngerugiin masyarakat. Tiba-tiba atuh kang masuk desil 10, kaya banget dong berarti saya kalau gitu mah. Aneh lah," pungkasnya.
Simak Video "Video: Gaduh Desil DTSEN, Komisi VIII DPR: Jangan Sampai Warga Kehilangan Hak!"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)
