Inovasi kendaraan listrik otonom Autonomous Vehicle Adaptive/AI (AVA) besutan Institut Teknologi Bandung (ITB) siap merambah tahap komersialisasi. Selain mengantongi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 50 persen, produk lokal ini menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan produk impor sejenis.
"Tingkat TKDN bisa kita katakan di atas 50% karena ini semuanya hampir dirakit oleh anak bangsa. Begitu juga untuk baterainya, kita menggunakan produksi dalam negeri," kata Dosen Fakultas Teknologi Industri ITB, Augie Widyotriatmo, kepada detikJabar saat dijumpai di Workshop PT AVS Indonesia yang berada di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, belum lama ini.
Augie berujar, kendaraan otonom ini diproyeksikan bakal dilepas ke pasar dengan estimasi harga yang jauh lebih terjangkau daripada harga pasaran saat ini.
"Harganya jauh lebih murah, bisa sepertiga dari produk luar negeri. Hal ini karena perakitan dilakukan oleh tenaga lokal dan kita tidak menggunakan teknisi dari luar," ujar Augie.
"Saya mengambil dari direktur industrinya, ini dikomersialisasikan di angka sekitar Rp500 juta," tambah Augie.
Augie juga menyoroti keunggulan rancangan lokal yang lebih adaptif terhadap karakter jalanan di Indonesia ketimbang produk impor.
Keunggulan dan fleksibilitas teknologi AVA kini mulai menarik minat pasar dalam dan luar negeri, mulai dari sektor pengelola kawasan pariwisata hingga pihak mancanegara.
Disinggung mengenai waktu komersialisasi kendaraan ini, ia menyebutkan prosesnya akan dilakukan dalam waktu dekat.
"Dalam waktu dekat kita sudah berbincang dengan beberapa off-taker di area pariwisata. Bahkan dengan luar negeri pun kita sudah mencoba untuk membuka pasar ini, salah satunya adalah negara Arab Saudi yang tertarik untuk bisa menggunakan kendaraan ini," ungkap Augie.
Simak Video "Vale Indonesia Menjawab Tantangan Fluktuasi Harga Nikel"
(wip/mso)