Sebanyak 10 pohon ditebang secara ilegal di Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung. Kejadian ini menuai sorotan publik karena menyebabkan kawasan bersejarah di Kota Kembang tersebut tampak gersang. Jauh sebelum insiden ini, aksi serupa juga terjadi di kawasan Cijerah yang mengakibatkan 12 pohon ditebang secara ilegal.
Pemkot Bandung harus menindak tegas dan menanggapi aksi perusakan lingkungan ini secara serius. Jika dibiarkan tanpa sanksi yang memberikan efek jera, praktik penebangan liar di ruang publik akan terus berulang dan merusak estetika serta kesejukan Kota Bandung.
Guru Besar dari Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) Ridwan Sutriadi menerangkan, pohon dan area hijau di pinggir jalan, taman, pekarangan, maupun bantaran sungai di Bandung punya peran yang sangat penting, bukan sekadar untuk hiasan. Bagi kawasan yang berada dalam bentang Cekungan Bandung, keberadaan pohon berfungsi sebagai pemelihara lingkungan hidup yang membantu menyejukkan udara panas, menyerap air hujan agar tidak banjir, serta menjaga kualitas lingkungan yang makin menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ridwan, pembangunan perkotaan perlu melihat vegetasi sebagai bagian penting dari sistem kehidupan kota. Ketika kawasan yang sebelumnya ditutupi vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan untuk menyerap air serta menahan panas ikut berkurang.
"Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan," kata Ridwan, Selasa (11/8/2026).
"Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan," tambahnya.
Cekungan Bandung yang Berkesinambungan
Ridwan mengungkapkan, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Bandung bukanlah wilayah yang berdiri sendiri secara ekologis. Kota Bandung merupakan bagian dari bentang alam Cekungan Bandung yang wilayah-wilayahnya saling terhubung.
Topografi berbentuk cekungan membuat aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju kawasan yang lebih rendah. Jika semakin banyak lahan tertutup beton dan semakin sedikit kawasan yang mampu menyerap air, limpasan permukaan akan meningkat dan dapat memperbesar risiko genangan.
Di sinilah pohon, taman kota, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi memainkan peran penting. Tanah yang tidak seluruhnya tertutup permukaan keras memberikan kesempatan bagi air hujan untuk meresap kembali ke dalam tanah.
"Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, ruang hijau ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung," ungkapnya.
Melihat karakteristik tersebut, penanganan masalah lingkungan di Bandung tidak bisa lagi terpaku pada batas administrasi kota semata. Diperlukan perspektif regional terpadu yang memetakan keterkaitan antarwilayah, mulai dari kawasan hulu, area perkotaan, hingga wilayah hilir.
Ridwan menilai, di tengah peningkatan kepadatan bangunan, pohon memberikan perlindungan sederhana tetapi sangat penting bagi warga, yakni keteduhan.
"Kanopi pohon dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Keberadaan vegetasi yang terhubung di taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai juga membantu membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota," paparnya.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat didorong untuk lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Kota yang ingin menjadi ramah pejalan kaki tidak cukup hanya menyediakan trotoar. Jalur tersebut juga perlu nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik.
Karena itu, pohon sebenarnya merupakan bagian dari fasilitas perkotaan, sama pentingnya dengan elemen fisik kota lainnya.
"Ruang hijau juga menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks tersebut, taman dan ruang publik hijau memiliki fungsi sosial sekaligus ekologis," ucapnya.
Bukan Hanya Banyak Pohon, tetapi Harus Terhubung
Ridwan menjelaskan, penghijauan kota tidak cukup dilakukan dengan sekadar menanam pohon di lokasi yang terpisah-pisah.
Dalam pendekatan ekologi lanskap, ruang hijau akan memberikan manfaat lebih besar apabila membentuk jaringan yang saling terhubung. Taman, jalur hijau jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, serta ruang terbuka lainnya dapat menjadi bagian dari satu sistem ekologis kota.
Koridor hijau tersebut juga menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun.
"Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar," jelasnya.
Karena itu, pembangunan Bandung ke depan perlu memberikan perhatian bukan hanya pada berapa banyak ruang hijau yang tersedia, tetapi juga di mana lokasinya, bagaimana kualitasnya, serta apakah ruang-ruang hijau tersebut saling terhubung.
Upaya menjaga Cekungan Bandung tidak selalu harus dimulai melalui proyek berskala besar. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai langkah sederhana yang relatif mudah dilakukan. Pendekatan lowest hanging fruit, yakni tindakan yang murah, cepat dilakukan, tetapi dapat memberikan manfaat langsung.
"Di tingkat lingkungan, misalnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas pada fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan rumah, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku," terangnya.
Lorong-lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Sementara itu, sistem penampungan air hujan dapat dimanfaatkan pada bangunan publik atau lingkungan permukiman untuk membantu pengelolaan air.
Gerakan sederhana tersebut juga dapat mempertemukan berbagai generasi. Pengetahuan warga senior tentang tanaman lokal, misalnya, dapat dikolaborasikan dengan kemampuan generasi muda dalam penggunaan teknologi dan pengelolaan informasi.
Ridwan mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk ikut menjaga lingkungan Cekungan Bandung dengan pendekatan berbasis teknologi.
Salah satunya adalah melalui pemetaan partisipatif menggunakan perangkat yang mudah dijangkau untuk mengenali titik-titik lingkungan yang terasa lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, maupun kondisi pohon dan vegetasi kota.
"Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan," lanjutnya.
Teknologi tersebut membuat penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Masyarakat dapat mengetahui lokasi yang paling membutuhkan penghijauan, memantau perkembangan vegetasi, serta mengevaluasi perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengumpulan data dan perawatan lingkungan kota.
Menjaga Pohon Berarti Menjaga Masa Depan Cekungan Bandung
Tantangan seperti suhu udara tinggi, banjir genangan, hilangnya area resapan air, dan kondisi ruang publik pada dasarnya adalah masalah yang saling berkaitan. Oleh sebab itu, ruang terbuka hijau tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai area sisa pascapembangunan. Sebaliknya, vegetasi wajib diintegrasikan sejak tahap awal perencanaan sebagai salah satu elemen kunci tata kota.
Mulai dari pohon di halaman rumah, pohon peneduh di trotoar, taman lingkungan, hingga kawasan hijau dalam skala regional, semuanya merupakan bagian dari sistem yang membantu Cekungan Bandung tetap layak huni.
"Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya," pungkasnya"
(wip/sud)
