Matahari pagi baru saja meninggi di Lapang Cangehgar, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Di atas lantai paving block yang luas, seorang pria berkaus singlet olahraga dan bertopi kain berdiri memimpin barisan di depan puluhan anggota komunitasnya.
Otot-otot tangannya menegang saat ia melakukan gerakan push-up dan squat dengan tumpuan satu kaki.
Pria itu adalah Agus Safari (67). Di usianya yang telah memasuki senja, kelincahan dan daya tahan fisiknya tampak tak sepadan dengan angka usianya. Kendati wajahnya dihiasi garis-garis penuaan dan rambut yang memutih, tumpuan kakinya kokoh dan napasnya tetap stabil di tengah latihan fisik yang intens.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Satu... dua... tiga..." hitungnya lantang, disambut peluh yang membasahi kaus para anggota komunitas yang mengikutinya dari belakang.
Kegemaran Agus mengolah fisik justru tidak berakar dari masa mudanya. Mantan Front Office Manager di Grand Inna Samudra Beach Hotel (SBH) Palabuhanratu ini baru memulai komitmen hidup sehat di usia 57 tahun, tepat setelah ia memasuki masa purnatugas pada tahun 2014.
"Sebelumnya saya nggak suka lari, main bulutangkis dulu," kenang Agus saat menceritakan awal mula penjelajahan fisiknya kepada detikJabar, Minggu (9/8/2026).
Agus Safari (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar). |
Keputusan Agus untuk melatih fisik usai pensiun membawa hasil yang mengagumkan. Ia tercatat sudah enam kali menaklukkan rute lari sepanjang 60 kilometer dari Kota Sukabumi menuju Palabuhanratu, sebuah jarak ekstrem yang bahkan jarang diselesaikan oleh pelari muda.
"Saya menginap di rumah anak saya di Sukabumi, lalu selepas salat subuh saya lari ke sini (Palabuhanratu). Jarak tempuh kurang lebih 60 kilometer," ungkap Agus.
Seiring bertambahnya usia, Agus mulai mengurangi porsi lari jarak jauhnya dan mengalihkan fokus pada latihan kekuatan beban tubuh atau calisthenics (kalistenik).
Kendati demikian, disiplin larinya tetap terjaga. Setiap pekan, dari hari Senin hingga Jumat, ia menargetkan akumulasi jarak lari hingga 80 kilometer, diselingi latihan variasi push-up sebanyak 40 hingga 50 kali per hari.
Aktivitas kalistenik yang ditekuni Agus menggunakan tumpuan berat badan sendiri untuk melatih kekuatan, kelenturan, dan keseimbangan otot. Latihan ini menjadi benteng utamanya dalam menahan laju sarcopenia-kondisi penurunan alami massa dan kekuatan otot pada lansia yang secara alami berkurang sekitar 1 persen setiap tahun jika tidak dilatih.
Keterbatasan fasilitas olahraga publik tidak menyurutkan kreativitas Agus. Di halaman rumahnya, ia merancang dan merakit sendiri instalasi kerangka besi modular yang berfungsi sebagai arena kalistenik.
Rangka pipa besi tersebut dilengkapi dengan tangga horizontal (monkey bar*) serta sepasang gelang-gelang kayu (*gymnastic rings) yang digantung menggunakan tali tambang tebal.
Di arena buatan sendiri ini, Agus rutin melakukan gerakan ekstrem seperti front lever, mengunci posisi tubuh secara horizontal di udara, hingga bergelantung terbalik dengan tumpuan otot punggung dan lengan. Tak berhenti di situ, ia juga memanfaatkan ban bekas kendaraan berat seberat 65 kilogram sebagai media latihan angkat beban (tire flip). Dengan tumpuan pinggang dan kekuatan kaki yang mantap, ban raksasa itu ia angkat berulang kali di halaman rumahnya.
Warisan gaya hidup aktif ini ia turunkan langsung kepada generasi penerusnya. Di fasilitas besi buatannya, Agus mendampingi cucu-cucunya bermain sambil mengasah ketangkasan fisik.
Dengan senyum bangga, ia memperhatikan cucunya yang berusia balita bergelantung percaya diri pada gelang kayu.
"Semuanya Abah latih. Yang bungsu saja yang baru 3 tahun sudah bisa naik ke sini. Kami bagikan terhadap cucu dulu, nanti terhadap orang lain," tutur Agus.
Menggerakkan Komunitas dan 6 Pilar Sehat
Daya tular semangat Agus mewujud nyata lewat komunitas lari Kokojorun yang ia dirikan pada 2 September 2018. Bermula dari kelompok kecil, komunitas ini kini berkembang hingga memayungi sekitar 200 anggota.
Latar belakang anggotanya beragam, mulai dari pegawai negeri sipil (PNS), pekerja swasta, hingga pedagang pasar. Komunitas ini aktif menjajal berbagai ajang event lari nasional di Jakarta, Yogyakarta, hingga Bali.
Bagi Agus, latihan fisik berat harus ditopang oleh gaya hidup yang seimbang. Ia secara disiplin menerapkan enam pilar kesehatan harian.
"Restriksi Kalori dan Puasa, rutin menjalankan puasa sunah atau intermittent fasting (IF) kemudian pengaturan nutrisi Membatasi asupan karbohidrat olahan lalu aktivitas fisik, berolahraga terukur minimal 30 menit setiap hari. Kemudian tak kalah penting manajemen stres yakni menjaga ketenangan pikiran dan mengelola beban psikologis," ujarnya.
"Tidak kalah penting restorasi tidur memenuhi waktu istirahat 6 hingga 7 jam sehari lalu terakhir paparan sinar matahari berjemur rutin pada pukul 10.00 pagi untuk asupan sinar ultraviolet B (UVB)," sambung dia bersemangat.
Di tengah maraknya pola hidup sedenter atau budaya "rebahan" pada generasi muda, Agus menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya menjaga aset fisik dan mental sejak dini.
"Kita punya satu prinsip, 'use it or lose it'. Apa mau kehilangan atau digunakan? Otot dan otak harus terus dilatih. Kalau tidak dilatih, kita akan kehilangan massa otot secara drastis," tegasnya.
Perjalanan Agus Safari menjadi cermin bahwa penuaan bukanlah alasan untuk berhenti bergerak. Lewat derap langkah lari puluhan kilometer dan gelungan otot di tiang besi, ia membuktikan bahwa tubuh manusia menyimpan kapasitas luar biasa untuk tetap bugar selama ada niat dan disiplin untuk merawatnya.
Simak Video "Video: Belajar Lari Bareng Skolari"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

