Kunjungan pengusaha jalan tol Yusuf Hamka ke markas National Paralympic Committee Indonesia atau NPCI di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (6/8/2026), tidak sekadar menjadi agenda penyemangat bagi atlet disabilitas. Di tempat itu, ia justru menyoroti persoalan yang lebih panjang daripada pertandingan: kesempatan hidup dan pekerjaan setelah para atlet meninggalkan arena.
"Jangan hanya menjadi atlet. Jangan sampai mereka merasa tersingkir. Mereka harus mempunyai fungsi, bisa bekerja, dan bermanfaat bagi kita semua. Mereka harus diperlakukan sama," kata Yusuf di hadapan para atlet.
Yusuf datang bersama Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Denny Achmad, yang selama ini aktif dalam pembinaan atlet disabilitas nasional. Keduanya menemui sejumlah atlet yang sedang mempersiapkan diri menghadapi pertandingan dan membawa nama Indonesia dalam berbagai kompetisi.
Di tengah pertemuan itu, Yusuf mengajak pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Menurut dia, keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk menempatkan seseorang di pinggir kehidupan sosial maupun dunia kerja.
Ia menilai dukungan kepada atlet disabilitas sering kali berhenti pada pemberian motivasi menjelang pertandingan.
Mereka, kata Baba Alun, sapaan akrab Yusuf Hamka, mendapatkan tepuk tangan ketika meraih medali, tetapi belum tentu memperoleh peluang yang sama saat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
"Walaupun mereka memiliki keterbatasan fisik, mereka mempunyai semangat. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, menjadi tanggung jawab negara. Pihak swasta juga harus bergandengan tangan dengan pemerintah," ujarnya.
Simak Video "Video Angka Jemaah Sakit Minim, Wamenag Puji Skenario Layanan Kesehatan Kemenhaj"
(mso/mso)