KSP Dudung Pastikan Sekolah Rakyat Terintegrasi Siap Beroperasi

KSP Dudung Pastikan Sekolah Rakyat Terintegrasi Siap Beroperasi

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 05 Agu 2026 18:13 WIB
Kondisi bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung
Kondisi bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Sebanyak 560 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, Rabu (5/8/2026). Para peserta didik tersebut merupakan gabungan siswa baru dan lama dari berbagai Sekolah Rakyat di wilayah Bandung Raya.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Soreang - Banjaran, Kecamatan Soreang ini menampung jenjang pendidikan yang lengkap. Rinciannya terdiri dari 56 murid Sekolah Dasar (SD), 229 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 275 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, hadir langsung untuk melakukan verifikasi lapangan. Ia meninjau kesiapan berbagai fasilitas, mulai dari ruang kelas, asrama, rusun tenaga pendidik, ruang makan, tempat ibadah, hingga gedung serbaguna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sudah 100 persen lah ya, hampir 100 persen sudah siap, tinggal sarana dan prasarana yang lainnya menyusul. Tapi ini kategori-kategori siap dalam langkah operasional pendidikan," ujar Dudung saat ditemui di Gedung SRT Soreang, Rabu (5/8/2026).

ADVERTISEMENT

Dudung menjelaskan bahwa SRT 4 merupakan hasil penggabungan dari delapan sekolah rintisan di Bandung Raya. Proses transisi ini mencakup pembangunan fisik hingga kesiapan operasional pendidikan secara menyeluruh.

"Ini kan dari delapan sekolah rintisan digabungkan jadi satu di sini. Saya tentunya memastikan ke sini kesiapan-kesiapan dalam operasional pendidikan," katanya.

Meski sudah mulai beroperasi, Dudung mengakui masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan, termasuk penambahan tenaga pendidik melalui Kementerian Pendidikan Dasar. Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan bagi siswa usia dini.

"Kemudian yang lainnya mungkin ada kendala-kendala seperti anak-anak, ada orang tuanya yang mungkin masih kecil-kecil, masih perlu ada bimbingan. Tetapi justru sekarang tadi anak kelas 1 juga mau ditampung di sini," jelasnya.

Sistem bimbingan antar-siswa akan diterapkan untuk membantu adaptasi siswa baru. "Dan nanti anak-anak yang besar-besar itu, anak-anak SMA-nya, anak SMP-nya, nanti akan membimbing mereka. Saya rasa selama ini tidak ada kendala, karena mereka kan sudah dari kecil-kecilan, kecuali yang baru. Yang baru ini yang akan dibina oleh senior-seniornya. Ya mudah-mudahan nanti kita berjalan lancar," tambah Dudung.

SRT merupakan program sekolah gratis yang dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Selain pendidikan, keluarga siswa juga mendapatkan bantuan pemberdayaan ekonomi.

"Anaknya dididik di sini, boarding di sini, tinggal di sini dengan gizi yang memang standar. Pemenuhan gizi sesuai dengan usia. Ya tentunya sesuai dengan keinginan Bapak Presiden bahwa dengan pemenuhan gizi ini justru nanti akan meningkatkan sumber daya manusia menjadi harapan ke depannya. Ya sehingga menjadi manusia-manusia yang unggul," bebernya.

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten BandungKepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Program ini dirancang untuk memberikan kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia, termasuk anak-anak disabilitas. Dudung memastikan proses rekrutmen pengajar dilakukan secara ketat.

"Ya tentunya mekanisme juga sesuai dengan standar. Tetapi guru-guru yang direkrut juga pasti guru-gurunya yang terpilih. Artinya dari jarak, kemudian dari kemampuan, dari latar belakang pendidikan," tegas Dudung.

Saat ini, Kabupaten Bandung memiliki empat titik Sekolah Rakyat, yakni dua unit di Soreang, satu di Ciwidey, dan satu di Dayeuhkolot. SRT di Soreang dan Dayeuhkolot diperuntukkan bagi siswa se-Bandung Raya, sementara SRT Ciwidey diprioritaskan bagi warga lokal Kabupaten Bandung.

Di lokasi yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Kemensos), Robben Rico, menyatakan pihaknya akan memfasilitasi penjemputan siswa dari daerah asal menuju sekolah agar proses transisi berjalan aman.

"Untuk menuju ke Sekolah Rakyat. Jadi insyaallah dalam waktu satu minggu ini akan kami jemput mereka dari rumah. Sehingga memang butuh kami jangkau untuk bisa hadir dan masuk di sekolah ini," kata Robben.

Terkait kebutuhan sumber daya manusia, Kemensos tengah merekrut 3.300 guru serta 5.000 tenaga pendidik untuk posisi wali asuh dan wali asrama SRT di seluruh Indonesia. Tenaga kerja permanen ini dijadwalkan mulai bertugas pada awal September mendatang.

"Baru bisa masuk nanti insyaallah pada tanggal 1 September. Nah, kami memang nanti butuh bantuan Pak Bupati dan Pak Wali untuk bisa dipinjami dulu guru tamu dan tenaga pendidik tamu, untuk bisa mengawal anak-anak ini sampai guru dan tenaga pendidik yang aslinya TMT per 1 September," pungkas Robben.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads