Penyebaran kasus HIV di Kota Sukabumi kembali menyita perhatian usai 74 kasus baru ditemukan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Tak hanya didominasi usia produktif, virus ini bahkan ditemukan telah menulari seorang balita dari ibunya.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Denna Yuliavina mengungkapkan bahwa dari puluhan kasus anyar tersebut, pasien berjenis kelamin laki-laki tercatat paling dominan, yakni sebanyak 57 orang, sedangkan pasien perempuan berjumlah 17 orang. Dari total 74 temuan ini, hanya 24 pasien yang berdomisili di Kota Sukabumi, sementara 50 orang sisanya merupakan warga luar daerah.
Dominasi pasien laki-laki tersebut berbanding lurus dengan pola penularannya yang didominasi oleh kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) sebanyak 21 kasus. Selain itu, kasus lainnya ditemukan melalui skrining pada penderita TBC sebanyak 12 kasus, pasangan risiko tinggi 6 kasus, ibu hamil 3 kasus, serta kelompok rentan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kasus HIV secara kumulatif 74 dari Januari sampai Juni 2026, pasien laki-laki 57 orang, sisanya adalah 17 perempuan. Karena itu banyak kontribusinya dari laki seks laki ya," ujar Denna, Rabu (5/8/2026).
Ditinjau dari sebaran umur, penderita HIV di Kota Sukabumi didominasi oleh kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun dengan jumlah 53 orang. Temuan yang paling memprihatinkan adalah adanya satu kasus anak berusia di bawah empat tahun yang tertular virus dari sang ibu.
"Kemudian untuk kelompok umur, yang paling banyak 25 sampai 49 tahun, itu sebanyak 53 orang. Kemudian yang kurang dari 4 tahun itu ada 1 orang. Berarti itu memang tertular dari ibunya, ya. Ibunya biasanya positif," sambungnya.
Meski laju kasus mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya, Dinkes Kota Sukabumi terus mendorong masyarakat untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan awal.
Untuk mempermudah akses, fasilitas tes HIV gratis kini sudah disiagakan di 15 puskesmas, Labkesda, Lapas, serta enam rumah sakit rujukan yaitu RSUD R Syamsudin SH, RSUD Al-Mulk, RS Secapa AD, RSU Asy-Syifa, RS Ridogalih, dan RS Kartika Kasih.
"Fasilitas pelayanan kesehatannya sendiri kita sekarang semua 15 Puskesmas, 6 Rumah Sakit yaitu RSUD R Syamsudin SH, RSUD Al-Mulk, RS Secapa AD, RSU Asy-Syifa, RS Ridogalih, dan RS Kartika Kasih, kemudian ada Labkesda, kemudian Lapas, itu siap untuk tes HIV gratis. Jadi silakan kalau memang ada yang merasa pernah melakukan atau berperilaku risiko, itu bisa melakukan tes," paparnya.
Denna menegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV membutuhkan keterlibatan lintas sektor mulai dari KPA, Kemenag, Dinas Pendidikan, PKK, hingga LSM untuk memperkuat edukasi dan ketahanan keluarga.
"Peran-peran itu tentunya tidak bisa semua oleh Dinas Kesehatan, sehingga perlu peran bantu dari dinas lain. Misalnya dari Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, kemudian dari PKK juga untuk ketahanan keluarga. Peran penguatan peran keluarga sejak dini itu sangat diperlukan sehingga tidak terjadi lagi kasus penularan akibat perilaku yang berisiko terhadap anak-anak, pelajar, dan lain-lain," tegasnya.
Melalui skema STOP (Suluh, Temukan, Obati, dan Pantau) serta pengawasan ketat terhadap konsumsi obat Antiretroviral (ARV), penyebaran virus di masyarakat diharapkan dapat ditekan hingga tingkat paling minimal.
"Pengawas Menelan Obat (PMO) harus kuat agar pasien konsisten mengonsumsi ARV (Antiretroviral). Jika obat diminum secara teratur, potensi penularan ke orang lain dapat ditekan secara maksimal," tutupnya.
Simak Video "Video: Viral Pelajar Terpapar HIV di Sidoarjo Capai 522 Orang, Dinkes Buka Suara "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
