Cerita Iki Jadi Budak Scamming Kamboja: Dicambuk hingga Diancam Dibunuh

Cerita Iki Jadi Budak Scamming Kamboja: Dicambuk hingga Diancam Dibunuh

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 05 Agu 2026 10:00 WIB
Rizki Nur Fadhilah (20) saat berbincang di Kabupaten Bandung.
Rizki Nur Fadhilah (20) saat berbincang di Kabupaten Bandung. Foto: Yuga Hassani
Bandung -

Rizki Nur Fadhilah (20) seorang pria asal Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung sempat menggemparkan Indonesia lantaran terlena gaji selangit bekerja di luar negeri. Namun, ia kerap mendapatkan kekerasan fisik hingga ancaman pembunuhan selama bekerja di Kamboja.

Cerita penyiksaan hingga ancaman pembunuhan terhadap pria yang akrab disapa Iki sempat heboh pada 2025 silam. Video pengakuan Iki sempat viral di jagat maya.

Setelah beberapa bulan yang lalu, pria tersebut kini berani bersuara dan menceritakan kondisinya selama bekerja di Kamboja. Iki menceritakan awalnya ada lowongan pekerjaan di luar negeri dengan gaji fantastis yang muncul di Facebook.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iki mengatakan dalam informasi di sosial media tersebut tidak mencantumkan kualifikasi pendidikan tinggi. Kemudian dari informasi tersebut menawarkan pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming gaji di atas Rp 10 juta per bulan.

ADVERTISEMENT

"Iya jadi saya teh tertarik karena tidak ada syarat pendidikan. Terus di situ bilangnya gaji lebih dari Rp 5 juta, iya ada kalau Rp 10 juta mah. Jadi cuma nulis ada loker di luar negeri," ujar Iki saat ditemui Selasa (4/8/2026).

Pihaknya menjelaskan proses keberangkatan langsung diantar oleh seseorang yang mengajaknya menuju ke Jakarta. Setelah itu dirinya menginap satu malam di Jakarta dan besoknya diterbangkan ke Medan.

"Tah saya naik pesawat ke Medan juga sendiri. Terus di sana saya disuruh ketemu sama empat orang lainnya," katanya.

Menurutnya selama di Medan tidak diberikan pelatihan dan hanya diminta cek kesehatan di salah satu rumah sakit. Kemudian dirinya dan empat orang lainnya hanya berdiam diri di salah satu rumah.

"Di Medan itu ada lah sekitar seminggu mah ada. Gitu we cuma diem-diem aja, enggak dikasih pelatihan apa-apa. Tapi di sana saya juga enggak ngerasa curiga sih," jelasnya.

Setelah satu Minggu di Medan, Iki dan empat orang lainnya diterbangkan melalui pesawat dengan tujuan Malaysia. Kata dia, selama perjalanan tiket sepenuhnya dipegang oleh seseorang yang mendampinginya.

"Saya di Malaysia cuma transit satu malam di bandara. Tahu-tahu tiketnya sudah langsung ke Kamboja, karena ada orang yang ambil jalurnya jadi saya tidak lihat tiketnya sendiri," ungkapnya.

Dia menjelaskan saat sampai di Kamboja dirinya diminta untuk mendatangi salah satu mobil sewaan. Kemudian mobil tersebut dibawa oleh orang lokal Kamboja dan lima orang tersebut langsung dibawa ke daerah pedesaan terpencil yang jauh dari perkotaan.

"Jadi perjalanan mah ada lah sekitar 8 jam mah ada. Lokasinya kaya di desa-desa gitu lah. Terus sampai lah di bangunan gedung kayak apartemen gitu. Pas lihat gedungnya, duh baru rasa deg-degan muncul lah, soalnya baru pertama kali ke luar negeri," kata Iki.

Setelah itu langkah kakinya membawa ke dalam sebuah ruangan yang berisikan sekitar hampir 50 komputer. Kata dia, saat itu juga dirinya dipaksa secara langsung bekerja sebagai scammer atau penipu daring.

"Sasaran korbannya itu orang Indonesia lah. Jadi modusnya pakai foto profil perempuan di sosial media. Terus disuruh merayu pria di Indonesia untuk bugil. Setelah terekam video korbannya bugil, terus disuruh melakukan pemerasan berbasis video (love scamming)," bebernya.

Iki mengungkapkan dalam pekerjaan tersebut dibagi dalam beberapa divisi pekerjaan. Kata dia, salah satu bagi para pemula adalah mendapatkan nomer telepon korban.

"Tah nanti nomor itu dikasih ke divisi lain yang mengeksekusi. Karena saya susah dapat korban dan tidak memenuhi target, akhirnya saya dipindahkan ke bagian divisi video untuk mengirimkan video-video pemerasan," tuturnya.

Menurutnya selama bekerja di tempat tersebut kerap mendapatkan berbagai tekanan dan kekerasan fisik. Bahkan selama bekerja pun belum pernah mendapatkan gaji. Kemudian selama tidur pun kondisinya seperti asrama dan tidur berdempetan.

"Kalau jatah makan ada lah dibatasi hanya dua kali sehari. Soalnya waktu kerja yang sangat padat dimulai sejak pukul 06.00 pagi juga kan," ungkapnya.

Iki mengaku selama bekerja kerap mendapatkan hukuman dengan kekerasan fisik. Diantaranya adalah hukuman membawa galon dari lantai satu ke lantai 10 dan hukuman lainnya adalah adanya pemukulan.

"Terus ada juga hukumannya dicambuk, digebukin, dipukul di muka sama badan. Padahal yang mukulinnya itu orang Indonesia juga, karena kalau dia enggak mukul saya, dia yang dipukul. Sistemnya berurutan," jelas Iki.

Adanya tekanan tersebut membuat dirinya tidak betah dan mencoba sembunyi-sembunyi menghubungi keluarganya. Kemudian dirinya sempat membuat video terkait kondisi di pekerjaannya yang kerap melakukan kekerasan.

"Terus saya diem-diem kirim video kondisi saya ke keluarga yang ada di rumah. Terus saya awalnya enggak tahu video yang dikirim ke keluarga itu ternyata viral," kata Iki.

Dengan adanya video yang viral di sosial media membuat keadaan dirinya semakin terancam di Kamboja. Pasalnya pihak manajemen dari sindikat tersebut langsung murka dan mendatanginya secara langsung.

"Pas viral, ada lah dateng orang badannya besar banget lah. Kayanya marahin saya, cuma saya enggak ngerti bahasanya, kayanya bahasa Kamboja," ungkapnya.

Setelah itu pria tersebut langsung diseret ke sebuah ruangan tertutup. Menurutnya dari informasi dari teman-temannya bahwa ruangan tersebut adalah ruangan eksekusi.

"Saya dimasukkan ke kamar khusus dijaga ketat satpam, tidak boleh keluar. Bosnya tunjukin HP dan kasih isyarat ancaman. Saya langsung syok, tidur pun tidak bisa karena diancam mau dibunuh sebelum dipulangkan," katanya.

Iki mengaku setelah itu langsung dipaksa membuat video klarifikasi bahwa dirinya bukan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kata dia, jika permintaan tersebut tidak dituruti akan diancam dibunuh.

"Di situ saya ditekan untuk buat video lagi. Sambil itu teh beberapa kali take video, da salah-salah terus. Nah pas salah teh dipukul, salah lagi dipukul, terus aja gitu," bebernya.

Setelah itu berita kepergian Iki semakin viral di sosial media. Kemudian pihak perusahaan tersebut akhirnya memutuskan memulangkan Iki dan proses pemulangan pun dilakukan tidak manusiawi.

"Jadi saya di siksa dulu, terus dipesenin taksi malam-malam dan diantar ke kantor KBRI. Saya diturunkan begitu saja, ditinggal di depan KBRI membawa tas. Akhirnya saya numpang tidur di teras pos satpam malam-malam sampai besok paginya," kata Iki.

Iki menyebutkan setelah itu dirinya berkomunikasi dengan satpam KBRI yang berbahasa Kamboja menggunakan google translate. Kata dia, HP tersebut diberikan oleh perusahaan dan hanya bisa menginstall aplikasi WhatsApp.

"Jadi pas malem itu di KBRI tidur di pinggir pos satpam. Terus besoknya tiba-tiba ada yang WA disuruh masuk ke ruangan di KBRI.

Selama empat sampai lima hari, dirinya berproses untuk membuat paspr darurat. Namun selama di KBRI rasa was-was kerap muncul kala beberapa orang tidak dikenal kerap diam-diam merekam video dirinya.

"Jadi kalau saya diajak makan di luar KBRI, ada yang videoin diem-diem. Nah saya teh jadi takut aja, terus saya minta ke orang KBRI untuk kembali ke kantor KBRI," tuturnya.

Iki mengaku sempat kecewa saat pemerintah yang ada di Jakarta menyebutkan dirinya bukan korban TTPO dan hanya pekerja migran yang bermasalah dalam prosedur. Kata dia, adanya pernyataan tersebut membuat mentalnya kembali ciut.

"Pas denger itu saya langsung kecewa banget, langsung turun rasanya, sedih. Padahal kan saya ke sana niatnya murni ingin mencari pekerjaan yang layak demi mengubah nasib," kata Iki sambil menahan tangis.

Setelah melalui proses panjang, Iki bisa kembali ke keluarganya di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung sejak November 2025 lalu. Kemudian setelah itu Iki diharuskan untuk menempati rumah singgah milik Dinas Sosial (Dinsos) di Kota Cimahi.

"Jadi selama di Dinsos itu ada lah sekitar 3 bulan. Di sana saya ngurus ayam, alhahmdulilah di kasih uang jajan, saya seneng ngurus ayam karena buat ngilangin trauma. Kalau sekarang paling lari setiap hari biar sembuh lah traumanya," bebernya.

Dia mengaku saat ini masih kerap dilanda trauma yang mendalam. Apalagi kondisi tersebut kerap diingat ketika memasuki malam hari dan akan melaksanakan tidur.

"Kalau mau tidur, kadang masih keinget-keinget aja pas di sana," kata Iki.

Iki menambahkan saat ini harus melanjutkan jenjang pendidikan paket C setara SMA. Menurutnya pendidikan tersebut dilanjutkan demi bisa meraih cita-citanya.

"Iya masih sekolah paket C, di Kota Bandung, sekolahnya seminggu tiga hari," tutur Iki.

Meski begitu, Iki berharap bisa bekerja di luar negeri dengan tujuan di negara Jepang. Dia berharap bisa bekerja di Negeri Sakura dengan jalur yang resmi melalui dinas terkait.

"Kalau cita-cita kerja mah pengen di luar negeri sih memang. Pengennya ke Jepang kerja di sana, emang dari dulu pengen ke sana," kata Iki.

Iki mengingatkan bagi masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri jangan tergiur dengan gaji yang besar. Menurutnya lebih baik bekerja di luar negeri lewat dinas terkait atau pemerintahan yang ada di setiap daerah.

"Iya saya mah cuma berpesan jangan tergiur gaji gede di luar negeri. Apalagi informasinya enggak jelas, dan tahu-tahunya nanti bekerja yang enggak jelas terus disiksa. Jadi mending nyari loker yang jelas dan diberikan oleh pemerintah," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads