Gawat! Bumi Makin 'Mendidih', Laju Pemanasan Global Melonjak Sejak 2015

Kabar Internasional

Gawat! Bumi Makin 'Mendidih', Laju Pemanasan Global Melonjak Sejak 2015

Rachmatunisa - detikJabar
Selasa, 04 Agu 2026 20:30 WIB
View of the landscape at from Langtang, Nepal in this undated handout image. Tika Gurung/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
Foto: REUTERS/Tika Gurung
Bandung -

Kondisi Bumi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Pemanasan global diduga kuat telah memasuki fase yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Analisis terbaru mengungkap fakta mengerikan, laju kenaikan suhu Bumi dalam satu dekade terakhir meningkat tajam dibanding empat dekade sebelumnya.

Bahkan, lonjakan suhu ini tetap terlihat nyata meskipun pengaruh fenomena alam seperti El Nino, letusan gunung berapi, hingga aktivitas Matahari sudah dikeluarkan dari perhitungan statistik.

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman, menemukan fakta bahwa sejak tahun 2015, Bumi memanas dengan laju sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode 1970-2015, di mana laju pemanasan global masih berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters ini disebut-sebut sebagai bukti statistik pertama yang mengonfirmasi bahwa pemanasan global benar-benar sedang mengalami percepatan yang signifikan.

"Kini kami dapat menunjukkan adanya percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar 2015," kata Grant Foster, ahli statistik asal Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis studi, dikutip dari Science Daily.

Para peneliti memaparkan bahwa suhu Bumi dari tahun ke tahun memang dipengaruhi berbagai faktor alami yang sering kali menutupi tren pemanasan jangka panjang. Sebagai contoh, fenomena El Nino bisa membuat suhu global melonjak sesaat karena pelepasan panas dari Samudra Pasifik ke atmosfer.

Sebaliknya, letusan gunung berapi skala besar justru bisa mendinginkan suhu Bumi untuk sementara waktu karena partikel yang disemburkannya mampu memantulkan sinar Matahari. Selain itu, fluktuasi aktivitas Matahari juga memberikan pengaruh, meski skalanya relatif kecil.

Demi melihat tren yang sebenarnya, tim peneliti bekerja ekstra dengan 'membersihkan' data suhu global dari gangguan faktor-faktor alami tersebut. Mereka membedah lima kumpulan data suhu global utama dunia, yakni NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5. Hasilnya? Ternyata konsisten di semua basis data.

"Kami menyaring pengaruh alami yang telah diketahui dari data pengamatan sehingga 'gangguan' dapat dikurangi dan sinyal pemanasan jangka panjang menjadi jauh lebih jelas terlihat," ujar Foster.

Peneliti utama dari PIK, Stefan Rahmstorf, menegaskan bahwa percepatan pemanasan global yang terjadi sejak 2015 ini muncul dengan tingkat keyakinan statistik yang sangat tinggi, yakni mencapai lebih dari 98 persen.

"Data yang telah disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen. Hasil ini konsisten pada semua kumpulan data yang kami analisis dan tidak bergantung pada metode analisis yang digunakan," kata Rahmstorf.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads