Piala Presiden 2026 diwarnai gelombang kritik menyusul keputusan terkait penentuan venue babak semifinal dan final. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar, Bali, secara mendadak ditunjuk sebagai arena pertarungan krusial Persib Bandung kontra Persija Jakarta, serta Persebaya Surabaya versus Arema FC.
Keputusan tersebut diumumkan pada Minggu (2/8/2026), hanya berselang dua hari sebelum kick-off babak semifinal yang dijadwalkan pada Selasa (4/8/2026). Alhasil, kontestan terjebak dalam situasi darurat logistik dan akomodasi, berlomba dengan waktu untuk terbang ke Pulau Dewata di tengah persiapan yang compang-camping.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persib Bandung, misalnya, terpaksa baru bertolak ke Bali pada Senin, 3 Agustus 2026 siang. Padahal, anak asuh Igor Tolic langsung dihadapkan pada laga sarat gengsi melawan rival abadi mereka, Persija Jakarta, keesokan harinya.
Belum cukup sampai di situ, setelah bentrok di semifinal, tim-tim hanya memiliki waktu pemulihan yang sangat singkat, yakni satu hari saja sebelum kembali turun gelanggang di partai puncak atau perebutan tempat ketiga.
Menanggapi carut-marut ini, pengamat hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto melayangkan kritik keras terhadap manajemen turnamen. Menurutnya, kisruh ini murni berpangkal pada persoalan kesiapan dan profesionalisme penyelenggara.
"Ini sebetulnya tentang keprofesionalan saja, jadi kesiapan. Harusnya panitia dari awal sudah mempersiapkan semua skenario sampai yang terburuk," ujar Eko saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Eko menyoroti bagaimana aspek krusial seperti kategori keamanan pertandingan seharusnya sudah masuk dalam kalkulasi jauh-jauh hari. Terlebih, sebuah turnamen sepak bola tidak bisa berjalan otonom dan sangat bergantung pada instrumen negara, khususnya rekomendasi dan izin keramaian dari pihak kepolisian.
"Misal tim dengan kategori merah, kalau bertemu konfliknya merah, keamanannya super tinggi itu harus diperhitungkan dari awal. Karena penyelenggaraan sepak bola gak bisa berdiri sendiri, tetap bergantung sama negara, dalam hal ini izin keramaian, keamanan," tegasnya.
"Sebetulnya itu yang harus dipersiapkan segala skenario. Dalam pelaksanaannya match day gak bisa ditentukan oleh panitia sendiri, tetap harus membutuhkan izin kepolisian," sambungnya.
Lebih lanjut, Eko menduga ada faktor salah hitung dari pihak panitia sejak fase grup, di mana ekspektasi kelolosan tim luar negeri meleset dari kenyataan setelah Port FC (Thailand) dan Tampines Rovers (Singapura) gagal lolos ke semifinal.
"Kemarin kayaknya di luar dugaan ya, mungkin ya, mengundang tim luar negeri dikira lolos ke fase berikutnya, kan gak punya suporter tim luar negeri mah, Port FC gak ada, Tampines Rovers gak ada. Ternyata malah 4 klub ini yang lolos. Udah ketemu semua lagi (tim dengan rivalitas tinggi)," katanya.
Kritik keras juga dialamatkan pada mepetnya waktu persiapan yang langsung memantik keluhan dari para juru taktik. Bagi Eko, protes para pelatih adalah hal yang sangat wajar karena menyangkut hak dasar atlet untuk tampil prima demi menjaga kualitas tontonan.
"Iya wajar dong (pelatih mengeluh). Jadi untuk mendapatkan performa maksimal, ini berkaitan dengan kualitas pertandingan, istirahat harus cukup waktunya, persiapan, uji coba lapang. Ini ngejarnya gimana, jadi nanti ini antiklimaks semifinal sama final ini. Jadi wajar terkait dikeluhkan," ungkapnya.
Ironisnya lagi, pertandingan sarat gengsi di semifinal Piala Presiden yang seharusnya meriah justru terancam hambar akibat ketiadaan suporter di stadion, yang kian mereduksi daya tarik turnamen. Panitia diketahui tidak melakukan penjualan tiket pertandingan untuk penonton.
"Kemudian salah satu indikator pertandingan menarik, semarak itu pakai suporter, penonton. Ini malah gak ada suporternya walaupun yang nonton nanti ada mungkin dari pihak sponsor segala macam, undangan juga," ujarnya.
Menurut Eko, polemik yang terjadi disimpulkan sebagai kesalahan panitia dalam membaca potensi risiko yang sebenarnya natural dan bisa diprediksi.
"Iya karena ada skenario yang mungkin tidak diantisipasi dengan cukup baik. Ini skenario alami ya yang bukan settingan, tapi terjadi," pungkasnya.
(iqk/iqk)
