Peradaban Misterius Aquiry dan Jejak Tersembunyi di Hutan Amazon

Kabar Internasional

Peradaban Misterius Aquiry dan Jejak Tersembunyi di Hutan Amazon

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Sabtu, 01 Agu 2026 22:00 WIB
Peradaban kuno Amazon
Peradaban kuno Amazon (Foto: Live Science)
Jakarta -

Teknologi pemindaian laser atau Light Detection and Ranging (LiDAR) mengungkap keberadaan ratusan struktur tanah kuno yang selama ribuan tahun tersembunyi di balik lebatnya hutan hujan Amazon. Temuan ini membuka tabir tentang peradaban misterius bernama Aquiry yang diperkirakan berkembang sekitar 2.500 tahun lalu di wilayah Brasil.

Berdasarkan banyaknya struktur tanah atau geoglif yang ditemukan, sebagaimana dilansir dari detikInet, para peneliti memperkirakan peradaban Aquiry pernah dihuni antara 1,25 juta hingga 3 juta jiwa sebelum akhirnya mengalami keruntuhan.

Arkeolog Universitas Helsinki, Martti Parssinen, menjelaskan bahwa masyarakat Aquiry terdiri atas berbagai kelompok budaya yang memiliki pandangan dunia serupa. Mereka membangun pusat-pusat upacara berbentuk geometris raksasa yang dikelilingi parit-parit dalam dan tanggul tanah tinggi, yang kini dikenal sebagai geoglif Amazon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, Parssinen bersama timnya memetakan hampir 4.500 kilometer persegi kawasan Amazon menggunakan teknologi LiDAR. Survei tersebut berhasil mengidentifikasi 396 geoglif baru sekaligus memperluas pemahaman mengenai wilayah persebaran peradaban Aquiry.

ADVERTISEMENT

Parssinen sendiri telah meneliti struktur tanah geometris di Negara Bagian Acre, Brasil, selama lebih dari dua dekade. Pada penelitian tahun 2021, ia memperkenalkan nama Aquiry untuk menyebut peradaban multikultural tersebut, yang diambil dari nama Sungai Acre.

Selama ini, penelitian di kawasan tersebut sangat terbatas karena rapatnya tutupan hutan. Teknologi LiDAR memungkinkan para arkeolog memindai permukaan tanah dari udara dan mengungkap struktur yang tersembunyi di bawah kanopi pepohonan.

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Aquiry membangun geoglif antara sekitar 600 SM hingga 850 M. Mereka tinggal di rumah-rumah panjang yang berdiri di sekitar kompleks tersebut serta membudidayakan tanaman seperti jagung dan labu.

Menurut tradisi lisan masyarakat adat setempat, pusat-pusat Aquiry digunakan untuk mempererat hubungan antarkomunitas sekaligus menjalin ikatan spiritual dengan makhluk supranatural yang mereka percayai.

Hingga kini, sekitar 1.700 geoglif telah berhasil diidentifikasi di wilayah tersebut. Namun, para peneliti meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Mereka memperkirakan masih ada lebih dari 20.000 geoglif yang belum ditemukan di kawasan Amazon yang belum disurvei.

Dengan asumsi setiap geoglif membutuhkan sekitar 300 orang untuk membangun dan merawatnya, para peneliti memperkirakan populasi Aquiry mencapai puncaknya antara tahun 100 hingga 300 M dengan jumlah penduduk sekitar 1,25 juta hingga 3 juta jiwa.

Fenomena serupa juga ditemukan di Peru melalui Nazca Lines, yakni geoglif yang menggambarkan hewan, manusia, tumbuhan, dan berbagai bentuk lainnya. Namun, geoglif Amazon memiliki karakteristik berupa bangunan geometris yang diduga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan ritual.

Meski jejak fisiknya semakin banyak terungkap, penyebab runtuhnya peradaban Aquiry masih menjadi misteri. Para peneliti memperkirakan geoglif-geoglif tersebut ditinggalkan secara relatif cepat antara tahun 850 hingga 950 M.

Keruntuhan itu diduga terjadi pada periode yang sama dengan memudarnya sejumlah peradaban besar pra-Columbus di Benua Amerika, seperti peradaban Maya Klasik di Amerika Tengah serta Tiwanaku dan Wari di kawasan Andes. Hingga kini, belum diketahui secara pasti faktor yang menyebabkan salah satu peradaban terbesar di Amazon tersebut menghilang dari sejarah.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini



(fyk/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads