Toilet Seharga Rp 416 Miliar Ini Diklaim Ubah Pipis Jadi Air Minum

Kabar Internasional

Toilet Seharga Rp 416 Miliar Ini Diklaim Ubah Pipis Jadi Air Minum

Rachmatunnisa - detikJabar
Sabtu, 01 Agu 2026 07:00 WIB
Akhir tahun ini, jika semuanya berjalan dengan baik, sistem toilet terbaru dan lebih baik dari sebelumnya meluncur ke ISS. Toilet yang dinamakan Universal Waste Management System (UWMS) itu akan dikirim oleh NASA.
Toilet di Stasiun Luar Angkasa (Foto: NASA)
Bandung -

Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), hemat air adalah hukum mutlak. Supaya bisa bertahan hidup di luar bumi, para astronaut mengonsumsi air hasil olahan dari keringat, uap napas, hingga urine mereka sendiri. Lewat fasilitas toilet canggih Universal Waste Management System (UWMS) seharga USD 23 juta (sekitar Rp416 miliar), NASA mampu menyuling kembali hingga 98% limbah cairan dan kelembapan udara menjadi air minum yang aman dan layak.

Dikutip dari laporan SpaceDaily, setiap 100 liter urine, keringat, dan uap air yang masuk ke sistem akan kembali menjadi sekitar 98 liter air minum. Sisanya hanya sekitar 2% berupa limbah pekat yang tidak dapat diproses lagi.

Kenapa astronaut harus minum air daur ulang? Untuk diketahui, mengirim air dari Bumi ke luar angkasa sangat mahal. Setiap liter air memiliki massa sekitar satu kilogram sehingga membutuhkan biaya peluncuran yang besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, NASA mengembangkan sistem pendukung kehidupan tertutup (closed-loop life support system) agar air bisa terus digunakan berulang kali selama misi berlangsung. Teknologi ini menjadi kunci bagi misi jangka panjang ke Bulan hingga Mars, yang tidak memungkinkan pasokan air dikirim secara rutin dari Bumi.

Di lingkungan tanpa gravitasi, air tidak mengalir ke bawah seperti di Bumi. Karena itu, toilet ISS memanfaatkan aliran udara berkecepatan tinggi untuk mengarahkan limbah. Urine kemudian dipisahkan menuju unit pengolah yang menggunakan sentrifus.

ADVERTISEMENT

Alat ini menciptakan gravitasi buatan sehingga air dapat dipisahkan dari zat-zat lain. Setelah itu, air melewati beberapa tahap penyaringan, pemurnian kimia, hingga sterilisasi sebelum dinyatakan aman untuk diminum.

Menurut NASA, kualitas air hasil daur ulang bahkan memenuhi standar yang lebih ketat dibanding banyak sistem air minum perkotaan di Amerika Serikat. Teknologi ini bukan hasil penelitian singkat. Butuh waktu sekitar empat dekade bagi NASA untuk menyempurnakan sistem daur ulang ini. NASA mulai mengembangkannya sejak era 1970-an untuk mendukung misi luar angkasa berdurasi panjang.

Berbagai prototipe sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya sistem yang digunakan saat ini dipasang di ISS. Tingkat efisiensinya terus meningkat hingga mencapai sekitar 98% setelah penambahan teknologi pemrosesan limbah pekat (brine processor).

Ke depan, teknologi serupa diproyeksikan digunakan pada wahana menuju Bulan dan Mars. Semakin tinggi tingkat daur ulang air, semakin sedikit pasokan yang harus dibawa dari Bumi, sehingga misi antariksa jarak jauh menjadi lebih realistis.

Artikel ini telah tayang di detikINET

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads