Ego Pengendara di Jalan Ibrahim Adjie, Menantang Maut Demi Curi Jalur

Ego Pengendara di Jalan Ibrahim Adjie, Menantang Maut Demi Curi Jalur

Wisma Putra - detikJabar
Jumat, 31 Jul 2026 10:57 WIB
Pengendara melawan arus lalu lintas di Jalan Soekarno Hatta, Bandung.
Pengendara melawan arus lalu lintas di Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Mentari pagi di Jalan Ibrahim Adjie, Jumat (31/7/2026), tak lantas membawa ketenangan bagi para komuter. Alih-alih tertib, suasana di jalur dari arah Pasar Kordon menuju Kiaracondong justru diwarnai kekacauan yang memicu adrenalin sekaligus emosi.

Fitri, seorang perempuan berusia 21 tahun, hanya bisa mengelus dada saat melintasi kawasan tersebut. Perjalanannya terhambat oleh perilaku ugal-ugalan para pemotor yang nekat melawan arus. Para pelanggar ini seolah tak acuh, merampas hak pengguna jalan lain demi memangkas waktu menuju Jalan Soekarno Hatta atau arah Gedebage-Cibiru.

Pemandangan di lapangan menunjukkan pola pelanggaran yang berulang. Saat lampu hijau dari arah Gedebage-Buahbatu menyala, gelombang sepeda motor dari arah Pasar Kordon justru merangsek masuk ke jalur berlawanan. Bahkan ketika lampu berganti merah, aksi menerobos tetap berlanjut, menciptakan simpul bahaya bagi siapa pun yang melintas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Fitri, perilaku ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas biasa, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik. Ia merasa geram dengan mentalitas jalanan yang mengabaikan keselamatan demi kecepatan.

ADVERTISEMENT

"Gedeg banget liat yang gak tertib gitu tuh, mereka seperti punya nyawa cadangan. Harusnya sabar, antri dan tunggi rambu-rambu lalu lintas," ujar Fitri dengan nada kesal.

Ketegasan aparat menjadi harapan bagi warga seperti Fitri. Ia menilai sanksi administratif biasa tidak lagi cukup untuk memberikan efek jera bagi mereka yang egois di jalan raya.

"Gak cukup tilang, cabut saja SIM-nya, memang mereka saja yang sibuj, sampai buru-buru gitu," ucapnya.

Fitri pun melontarkan pesan menohok bagi para pelanggar agar segera kembali ke jalan yang benar sebelum petaka menjemput.

"Harus sadar diri, karena selain merugikan bagi diri sendiri, juga merugikan orang lain," tegasnya.

Senada dengan Fitri, Robi (27) juga merasakan keresahan yang sama. Baginya, pengawasan manual tampaknya sudah tidak memadai untuk membendung arus pelanggaran di titik tersebut. Ia mendesak adanya intervensi teknologi melalui pemasangan kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang mengarah ke arus dari Pasar Kordon.

"Harus ada kamera tilang ke arah sini (Pasar Kordon), mereka itu membahayakan sekali, tidak tertib," tuturnya.

Robi meyakini bahwa kunci kenyamanan berkendara di Jalan Soekarno Hatta sebenarnya sederhana: kesadaran kolektif. Namun, selama ego masih merajai, kemacetan dan bahaya akan terus menjadi kawan setia para pengguna jalan.

"Bukan cuman membahayakan, mereka ini bikin macet, harus ditilang," pungkasnya.



(wip/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads