Proses evakuasi tongkang Nautica 22 yang mengangkut batu bara di perairan Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, telah mulai dilaksanakan. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah alat berat mulai dikerahkan guna mempersiapkan proses evakuasi tongkang tersebut.
Para pekerja terlihat sibuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari penggalian, pemasangan bambu, hingga pemanasan mesin-mesin besar. Saat ini, kondisi tongkang yang memuat ribuan ton batu bara tersebut hampir tidak terlihat lagi di permukaan air.
Tumpahan batu bara yang dibawa oleh tongkang tersebut diperkirakan masih mengendap di dalam perairan, sehingga dikhawatirkan akan terus mencemari ekosistem laut setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koordinator Lapangan Evakuasi Nautica 22 Ahmad Robana menyatakan bahwa berbagai alat berat seperti ekskavator, generator set atau genset, tong apung, hingga sling baja telah disiagakan sebagai bagian dari persiapan.
"Sudah satu minggu kita sudah melakukan persiapan-persiapan, fokus tahap awal pemasangan peralatan," kata Ahmad kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan winch untuk memasang sling atau tali baja yang akan digunakan untuk menarik bangkai tongkang tersebut.
"Jadi nanti tongkang tersebut akan ditarik sampai ke darat tepian pantai," ujarnya.
Proses evakuasi ini diprediksi akan memakan waktu hingga dua bulan ke depan. Setelah proses tersebut selesai, tim akan melanjutkan agenda pengangkatan material batu bara yang tercecer di dasar laut. Insiden tumpahnya batu bara di perairan tersebut terjadi sekitar satu bulan yang lalu.
Peristiwa bermula saat Tug Boat Titan 33 mengalami kendala teknis ketika menarik tongkang bermuatan batu bara menuju Cilacap, hingga akhirnya tongkang tersebut dilepaskan di perairan Sukaresik.
Sebelumnya, audiensi yang melibatkan sejumlah nelayan dan aktivis lingkungan telah dilaksanakan di Gedung DPRD Pangandaran. Mereka menuntut percepatan proses evakuasi serta pertanggungjawaban penuh dari pihak perusahaan terkait.
(sud/sud)
