Jalan Terjal Swasembada Susu Nasional, 80 Persen Masih Impor

Jalan Terjal Swasembada Susu Nasional, 80 Persen Masih Impor

Whisnu Pradana - detikJabar
Jumat, 24 Jul 2026 19:00 WIB
Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq kunjungi KPSBU Lembang
Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq kunjungi KPSBU Lembang (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Pemerintah pusat mewacanakan swasembada susu yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian. Namun rencana tersebut menghadapi jalan terjal karena produksi susu dari peternak di tanah air masih sangat minim.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Presiden Prabowo Subianto serius membangun ketahanan pangan nasional. Buktinya, dua komoditas sudah swasembada, yakni beras dan jagung. Sementara susu, masih cukup sulit terwujud.

"Namun masih banyak komoditas lain yang harus segera kita kejar dengan cepat swasembadanya, termasuk susu. Tapi hampir 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor," kata Hanif saat ditemui di KPSBU Lembang, Jumat (24/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanif mengatakan produksi susu nasional bahkan masih kurang dari satu juta ton per tahun. Sementara susu yang dikonsumsi masyarakat Indonesia kebanyakan berasal dari Australia.

ADVERTISEMENT

"Yang jelas, sebagian besar produksi memang berasal dari wilayah yang memiliki areal peternakan cukup luas, itu dari Australia. Kalau Australia itu 800 juta hektar lahannya, sementara kita hanya 200 juta hektare," kata Hanif.

Produksi susu nasional didominasi oleh tiga provinsi besar. Pertama, Jawa Timur menyumbang sekitar 57,9 persen produksi susu nasional. Kemudian Jawa Barat hampir 30 persen, dan Jawa Tengah sekitar 9 persen.

"Sisanya tersebar di beberapa provinsi lain sekitar 2 persen. Karena itu, Jawa Barat menjadi sangat penting untuk kita detailkan dalam rencana swasembada susunya," kata Hanif.

Persoalan lainnya, 0roduktivitas sapi perah di tanah air saat ini juga masih relatif rendah. Rata-rata produksi susu masih di bawah 12 liter per ekor per hari. Padahal pada peternakan yang sudah maju, produksi dapat mencapai sekitar 34 liter per ekor per hari.

"Karena itu kami juga akan melibatkan kalangan akademisi. Di Jawa Timur kemarin kami meminta dukungan dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Hari ini kami juga akan meminta bantuan perguruan tinggi di Jawa Barat untuk melakukan berbagai kajian dan simulasi," kata Hanif.

Target swasembada pangan direncanakan sampai tahun 2035. Namun demikian, pekerjaan ini tidak bisa ditunda sehingga segala persoalannya harus mulai diurai dari sekarang agar rencana bisa berprogres.

"Masih diperlukan banyak intervensi pemerintah terhadap para peternak sapi perah. Beberapa persoalan mendasar yang kami temukan, antara lain perlunya bimbingan teknis yang lebih sistematis. Kemudian, ketersediaan lahan pakan ternak yang masih sangat terbatas, terutama karena wilayah ini berada di daerah pegunungan dengan ruang yang terbatas," kata Hanif.

"Di sisi lain, jumlah populasi sapi juga harus ditingkatkan dengan sangat cepat. Kalau hanya mengandalkan proses berkembang biak secara alami, tentu akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk mencapai swasembada susu," imbuhnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads