- 4 Situasi Toxic Relationship yang Sering Dialami Remaja 1. Pasangan Mulai Bersikap Posesif 2. Perhatian Berubah Menjadi Kontrol 3. Datang Hanya Saat Membutuhkan 4. Permintaan Maaf Dibalut Manipulasi
- Tanda-Tanda Toxic Relationship yang Perlu Diwaspadai
- Cara Keluar dari Jebakan Toxic Relationship 1. Jangan Berharap Bisa Mengubah Pasangan 2. Kenali Kelebihan Diri dan Pahami Batasan 3. Jangan Hakimi Teman 4. Ingat Bahwa Diri Sendiri Berharga
Ketertarikan terhadap lawan jenis menjadi hal yang wajar saat memasuki usia remaja. Di bangku SMA, banyak anak mulai memiliki teman spesial hingga menjalin hubungan asmara.
Meski sering dianggap sebagai fase "cinta monyet", hubungan di usia remaja tetap dapat memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari. Tak sedikit remaja yang terjebak dalam hubungan yang membuat mereka kehilangan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi di sekolah, bahkan hingga menjauh dari keluarga dan teman.
Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa hubungan tersebut sebenarnya sudah mengarah pada hubungan yang tidak sehat. Karena itu, kemampuan mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini menjadi bekal penting bagi remaja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut disampaikan psikolog Prita Pratiwi saat menjadi narasumber dalam kegiatan Hari Anak Nasional 2026 yang digelar DP3AKB Jawa Barat di SMAN 5 Bandung, Kamis (23/7/2026). Dalam sesi interaktif tersebut, para siswa diajak mengidentifikasi perilaku yang tidak sehat, hingga belajar cara keluar dari hubungan yang merugikan kesehatan mental.
4 Situasi Toxic Relationship yang Sering Dialami Remaja
Prita mencontohkan empat bentuk hubungan toxic yang kerap dialami di usia remaja. Berikut beberapa di antaranya:
1. Pasangan Mulai Bersikap Posesif
Awalnya seseorang datang sebagai teman yang menyenangkan. Namun, seiring waktu, sikapnya berubah menjadi posesif. Ia menuntut pasangannya selalu memberi kabar, marah ketika pesan terlambat dibalas, hingga membuat pasangannya merasa tidak lagi bebas menjalani aktivitas sehari-hari.
2. Perhatian Berubah Menjadi Kontrol
Situasi berikutnya menggambarkan seseorang yang selalu membela, perhatian, dan membuat pasangannya merasa aman. Namun, perhatian tersebut perlahan berubah menjadi tindakan mengontrol.
Ia mulai meminta melihat isi ponsel, membaca percakapan pribadi, bahkan mengecek media sosial dengan alasan semua itu dilakukan karena sayang. Padahal, tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap privasi.
3. Datang Hanya Saat Membutuhkan
Tidak semua hubungan yang tidak sehat terjadi dalam hubungan asmara. Prita juga memberikan contoh hubungan pertemanan.
Seseorang membantu temannya yang sedang terpuruk hingga kembali percaya diri. Namun, setelah kondisinya membaik dan kembali diterima oleh lingkungan, teman tersebut justru meninggalkan orang yang selama ini mendampinginya, bahkan menganggapnya sebagai saingan.
4. Permintaan Maaf Dibalut Manipulasi
Situasi terakhir menggambarkan hubungan yang awalnya terlihat sempurna. Pasangan tampak baik, perhatian, dan memenuhi berbagai kebutuhan.
Akan tetapi, ketika terjadi kesalahan kecil, ia mendiamkan pasangannya selama berhari-hari, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, bahkan melakukan kekerasan fisik. Setelah itu ia meminta maaf, berjanji akan berubah, dan mengulangi perbuatan serupa.
Tanda-Tanda Toxic Relationship yang Perlu Diwaspadai
Dari berbagai ilustrasi keadaan tersebut, beberapa tanda hubungan tak sehat yang perlu diwaspadai antara lain:
- Pasangan selalu ingin mengetahui keberadaan kita setiap saat.
- Marah jika pesan tidak segera dibalas atau telepon tidak diangkat.
- Mengatur cara berpakaian, pergaulan, hingga aktivitas sehari-hari.
- Memeriksa ponsel atau media sosial tanpa izin dengan alasan sayang.
- Membuat pasangan merasa bersalah agar selalu menuruti keinginannya.
- Mendiamkan pasangan selama berhari-hari (silent treatment) sebagai bentuk hukuman.
- Menghina, merendahkan, atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
- Melakukan kekerasan fisik maupun verbal lalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Cara Keluar dari Jebakan Toxic Relationship
Keluar dari hubungan yang tidak sehat bukanlah perkara mudah. Menurut Prita, banyak orang tetap bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena memiliki keyakinan bahwa suatu hari nanti pasangannya akan berubah menjadi lebih baik.
"Hal yang bikin susah adalah pikiran, 'Apa saya bisa kasih bantuan lebih buat dia?' Mindset-nya adalah, 'Siapa tahu dia bisa berubah karena bantuan saya'. Pemikiran itulah yang bisa membuat seseorang berada di kondisi ini bertahun-tahun lamanya," jelas Prita.
Ia mengatakan pola pikir tersebut tidak hanya dialami remaja, tetapi juga banyak orang dewasa yang telah menikah. Tak jarang orang dewasa bertahan menjalani pernikahan yang tidak bahagia karena pemikiran tersebut.
"Bahkan bagi orang yang sudah menikah sekalipun, memutus anggapan ini bukan hal mudah. Ada yang sudah menderita dari tahun ketiga pernikahan, dan baru bercerai puluhan tahun kemudian, bisa saja," ungkapnya.
Agar seseorang tidak terjebak terlalu lama dalam hubungan yang tidak sehat, Prita membagikan beberapa langkah berikut:
1. Jangan Berharap Bisa Mengubah Pasangan
Menurut Prita, banyak orang bertahan karena menganggap dirinya mampu mengubah sifat buruk pasangan. Padahal, hubungan tidak boleh dibangun hanya berdasarkan harapan bahwa seseorang akan berubah di masa depan.
Yang perlu dilihat adalah perilaku yang sudah tampak sejak awal. Jika sifat tersebut sudah muncul dan tidak bisa ditoleransi, jangan memaksakan diri untuk bertahan hanya karena berharap semuanya akan membaik.
"Ketika kenal dengan orang, lihat apa adanya. Jangan berpikir bahwa kamu bisa merubah dia. Apalagi bila ingin masuk ke jenjang pernikahan. Lihat kejelekannya, lalu kali sepuluh. Kalau tahan, lanjutkan. Kalau enggak, ya jangan," bebernya.
2. Kenali Kelebihan Diri dan Pahami Batasan
Prita menjelaskan, penting bagi remaja untuk mengenali kelebihan yang dimiliki sekaligus menerima bahwa setiap orang juga mempunyai kekurangan. Kekurangan bukan berarti tidak berharga, melainkan bagian dari diri yang masih bisa terus dikembangkan.
Selain itu, setiap orang memiliki batasan atau boundaries yang harus dihormati. Tidak ada seorang pun yang berhak melanggar privasi, memaksa, atau mengendalikan kehidupan orang lain atas nama cinta.
"Yang kadang anak-anak lupa adalah mereka pasti punya kelebihan. Kenali kelebihan diri dan terima bahwa kita juga punya kekurangan. Pahami bahwa diri memiliki batasan atau privasi yang tidak boleh dilanggar," paparnya.
3. Jangan Hakimi Teman
Saat mengetahui teman berada dalam hubungan yang tidak sehat, banyak orang langsung mengatakan agar ia segera putus. Menurut Prita, cara tersebut justru sering tidak membantu karena korban belum tentu siap mengambil keputusan.
Alih-alih menghakimi, lebih baik ajak teman berpikir secara logis dan bantu mencari akar masalah yang membuatnya sulit keluar dari hubungan tersebut.
"Hindari kata 'harusnya'. Karena seharusnya dia memang keluar dari hubungan tersebut, tapi belum bisa. Maka harus dicari akar permasalahannya," ungkapnya.
4. Ingat Bahwa Diri Sendiri Berharga
Prita menegaskan bahwa salah satu kunci keluar dari toxic relationship adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki nilai yang berharga. Jangan sampai terlalu sibuk menyenangkan orang lain hingga melupakan kebutuhan diri sendiri.
Menurutnya, banyak orang begitu mudah memaafkan kesalahan pasangan, tetapi justru sangat keras terhadap dirinya sendiri. Mereka terus menyalahkan diri, merasa kurang, dan memaksakan diri bertahan dalam hubungan yang menyakitkan.
"Ingat, diri kamu berharga. Ini enggak boleh lupa. Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan, tapi jangan lupa sayangi diri kamu sebagaimana kamu memperlakukan orang lain," jelasnya.
"Seringkali kita berperilaku baik ke orang lain, tapi sangat keras ke diri sendiri. Selalu nge-push dan merasa kurang. Berterima kasihlah pada diri sendiri," lanjutnya.
(iqk/iqk)
