Meredupkan cahaya Matahari terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, sekelompok ilmuwan kini benar-benar mengusulkan ide tersebut sebagai salah satu cara untuk mengurangi dampak El Nino, fenomena iklim yang dapat memicu kekeringan, gelombang panas, hingga hujan ekstrem di berbagai belahan dunia.
Gagasan itu dipaparkan dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Science Advances. Peneliti dari University of California San Diego menilai teknik solar geoengineering dapat dimanfaatkan secara lebih spesifik untuk melemahkan El Nino, bukan sekadar mendinginkan Bumi secara keseluruhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meredupkan Matahari yang dimaksud bukan berarti mengurangi energi Matahari secara langsung. Para ilmuwan mengusulkan metode marine cloud brightening, yakni menyemprotkan partikel air laut atau aerosol ke atmosfer agar awan di atas lautan menjadi lebih cerah dan mampu memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke luar angkasa. Akibatnya, permukaan laut di bawahnya menjadi lebih dingin.
Dalam makalahnya, tim peneliti menjelaskan bahwa teknik tersebut secara teori dapat digunakan untuk meredam kejadian iklim ekstrem seperti El Nino.
"Geoengineering surya secara teoritis dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kejadian ekstrem dengan menargetkan fenomena musiman hingga beberapa tahun seperti El Nino," tulis tim peneliti yang dipimpin ilmuwan iklim UC San Diego, Kate Ricke, dikutip dari The New York Post, Minggu (19/7/2026).
Ide ini berkaca pada peristiwa kebakaran hutan besar di Australia pada 2019-2020. Saat itu, asap dalam jumlah sangat besar masuk ke atmosfer dan tanpa sengaja membuat awan di atas Samudra Pasifik menjadi lebih cerah.
Kondisi tersebut memantulkan lebih banyak radiasi Matahari dan membantu mendinginkan permukaan laut. Peneliti kemudian mensimulasikan apakah efek serupa dapat dilakukan secara sengaja untuk melemahkan El Nino.
Penelitian ini muncul ketika NOAA Climate Prediction Center memperkirakan peluang 81% bahwa El Nino akan mencapai kategori sangat kuat pada Desember 2026. Jika itu terjadi, berbagai wilayah dunia dapat menghadapi cuaca ekstrem, mulai dari kekeringan, banjir, hingga gelombang panas yang menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan dolar.
Kate Ricke mengatakan pendekatan tersebut layak dipelajari sebagai pelengkap upaya mitigasi perubahan iklim. "Masih banyak yang harus dipahami. Namun jika ada cara untuk menggunakan pendekatan ini sebagai tambahan terhadap berbagai upaya pengurangan risiko guna mengurangi dampak El Nino, mengapa kita tidak mempertimbangkannya?, " ujarnya.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
