Begal makin marak di Bandung. Tak kenal siang maupun malam, begal tetap beraksi. Muncul lampu hijau dari kepolisian bagi masyarakat untuk menangkap mereka, meski disertai wanti-wanti dari berbagai pihak agar tidak main hakim sendiri.
Begal di tanah Sunda telah menjadi fenomena lama. Dalam penelusuran bahasanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), begal adalah penyamun. Aktivitas membegal berarti 'merampas di jalan'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara menurut kamus Sundadigi, begal berarti 'orang jahat yang sering menghadang di tengah perjalanan sambil memaksa merampas barang berharga milik orang yang melintas itu'.
Jika Anda membaca buku tua berjudul 'Pangeran Kornel' gubahan R. Memed Sastrahadiprawira, akan ditemukan cerita tentang begal.
Ketika itu, tokoh Pangeran Kornel yang sedang dalam pelarian dari Sumedang ke Limbangan, kemudian dari Limbangan ke Cianjur, mewaspadai sekelompok begal yang disebut 'Begal Nagreg'.
Begal Nagreg sangat masyhur akan kebengisan mereka terhadap siapa pun yang menjadi korbannya. Namun, dalam perjalanan itu, Pangeran Kornel berhasil lolos dari potensi gangguan di Nagreg dan dengan mulus melanjutkan pelarian ke Cianjur.
Dongeng Jenaka Melawan Begal
Kira-kira di sekitar tempat yang sama, begal masih berkeliaran. Namun kali ini, kisah tentang begal merupakan kisah jenaka yang digubah ajengan-sastrawan, Usep Romli HM dalam kumpulan dongeng jenaka 'Oray Bedul Macok Mang Konod'.
Di sana, ada kisah melawan begal. Alkisah, seorang kakek yang baru pulang berdagang dari kota harus melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki, karena kereta api tidak sampai langsung ke daerahnya.
Dia memberanikan diri. Memang sudah santer ketika itu, di wilayah yang akan dilaluinya malam-malam seorang diri, begal berkeliaran. Namun, tiada pilihan lain.
Dengan perasaan yang ditegar-tegarkan, dia mulai berjalan. Malam yang sepi dia lewati. Kiri-kanan jalan pepohonan tinggal siluet. Gelap.
Di sebuah fragmen jalan, tiba-tiba datang seorang demi seorang. Mereka itulah yang sejak awal ditakutkan. Mereka membawa senjata tajam. Dengan hati yang gemetar namun pembawaan tubuh tetap tenang, si kakek menghadapi para begal dengan nada bicara yang teratur.
Setelah berbincang sedikit, sudah dapat dipastikan yang mereka mau adalah uang dan barang berharga milik si kakek. Namun, dengan berani si kakek malah menantang mereka untuk bertarung di dalam gelap itu.
'Psy-war Nuruktuk Gula Batu'
Tetapi, sebelum bertarung, si kakek minta waktu untuk merokok dulu sejenak. Dia mengatakan, bahwa tadi di kereta dia tidak sempat merokok, karenanya mulutnya terasa asam dan perlu mengisap tembakau.
Si kakek ingat di sakunya ada gula batu sisa dia emut di kereta. Gula batu itu akan dia gunakan sebagai alat psy-war atau gebrakan yang akan membuat psikologis lawan lemah.
Di zaman sebelum ada korek gas atau korek api kayu, orang Sunda menggunakan 'panékér' untuk membuat api, yaitu sebuah lempeng logam ditabrakkan (ditékér) setiap sisi tajamnya dengan batu sungai yang telah lebih dahulu disisipi sabut atau kain wol kecil supaya percik api menyambar dan membuat nyala.
Batu itu sangat keras. Si kakek mengelabui para begal dengan mengganti batu panékér dengan gula batu yang ada di sakunya. Lempeng logam kecil ditabrak-tabrakkan pada gula batu. Terus berulang kali. Si kakek tahu itu tidak akan menghasilkan api. Tetapi, memang itu tujuannya.
Si kakek pura-pura jengkel. Para begal juga jengkel menunggu api nyala lama sekali. Si kakek kemudian berujar sambil marah, kalau tidak nyala terus mungkin batu panékér itu harus dimakan!
Lantas, batu panékér yang sejatinya gula batu itu dimakan oleh si kakek, dikunyah sampai muncul bunyi 'nuruktuk' (gemelutuk). Bunyi yang keras itu membuat kaget para begal.
Mereka berpikir, batu yang keras saja bisa hancur dikunyah si kakek. Berarti si kakek bukan orang sembarangan! Daripada dapat celaka, para begal memilih kabur meninggalkannya. Si kakek pun selamat.
(orb/orb)
