Nestapa SDN Cadasleeur: Belajar di Bawah Terpal dan Bayang Bahaya

Nestapa SDN Cadasleeur: Belajar di Bawah Terpal dan Bayang Bahaya

Andry Haryanto - detikJabar
Kamis, 23 Jul 2026 10:16 WIB
Kegiatan belajar di SDN Cadasleeur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Foto: Andry Haryanto
Bandung -

Kabar perbaikan akhirnya menghampiri SDN Cadasleeur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Namun, bagi 265 murid yang selama ini belajar bergantian di tengah ancaman material bangunan yang rapuh, kabar tersebut belum sepenuhnya mengakhiri kecemasan.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor berencana merenovasi sebagian ruang kelas setelah kondisi sekolah itu menjadi buah bibir. Penanganan awal diarahkan untuk menyelamatkan bangunan melalui penggantian plafon dan genting, serta perbaikan tembok.

"Prosesnya tadi panjang. Intinya ada pembahasan rehabilitasi bertingkat, tetapi yang terpenting sekarang penyelamatan dahulu melalui rehab biasa seperti mengganti plafon, genting, dan memperbaiki tembok," kata Kepala SDN Cadasleeur, Juju Juhaeriah, saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (23/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rencana itu cukup melegakan, meski belum menjawab seluruh persoalan. SDN Cadasleeur memiliki sembilan rombongan belajar (rombel), sedangkan ruang kelas yang dinilai layak digunakan hanya tiga unit. Akibatnya, kegiatan belajar harus dibagi dalam sif pagi dan siang.

Sekolah bahkan terpaksa mencari ruang di luar bangunan utama. Sebagian murid belajar dengan menumpang di ruangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan musala. Siswa Kelas III bahkan harus menggunakan ruangan yang bagian atapnya hanya ditutup terpal.

ADVERTISEMENT

"Jumlah murid kami 265 orang dengan sembilan rombongan belajar. Ruang kelas yang layak hanya tiga, jadi pembelajaran harus dibagi pagi dan siang," ujar Juju.

Kegiatan belajar di SDN Cadasleeur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.Kegiatan belajar di SDN Cadasleeur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Foto: Andry Haryanto

Beberapa ruangan rusak masih terpaksa digunakan karena sekolah tidak memiliki pilihan lain. Namun, apabila material bangunan dinilai sangat membahayakan, murid untuk sementara diliburkan. Sekolah pernah menghentikan kegiatan belajar selama sehari ketika bagian ruangan hendak dibongkar.

Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Menurut Juju, seorang murid pernah tertimpa material yang jatuh dari bagian atas bangunan. Insiden tersebut memang tidak sampai menimbulkan luka serius, tetapi menjadi pengingat bahwa kegiatan belajar di sana berlangsung dengan risiko yang nyata.

"Kalau khawatir material mengenai anak-anak, mereka diliburkan dahulu. Kemarin pernah libur sehari karena ruangan mau dibongkar. Memang pernah ada anak yang terkena material dari atas," katanya.

Di tengah keterbatasan tersebut, para guru tetap diminta memberikan pembelajaran terbaik. Mereka harus berbagi ruang, menyesuaikan waktu mengajar, sekaligus waspada memperhatikan kondisi plafon, genting, dan dinding yang mulai rapuh.

Perbaikan tahap awal memang akan membantu mengurangi ancaman fisik. Akan tetapi, penambalan atap dan tembok belum dapat menyelesaikan krisis kekurangan kelas. Juju mengatakan, sekolah dijanjikan memperoleh tiga ruangan tambahan pada tahun depan melalui program revitalisasi pemerintah.

"Perbaikan ini cukup membantu, tetapi kami tetap kekurangan kelas. Dijanjikan tahun depan bisa mendapat tiga kelas melalui revitalisasi," ujarnya.

Pembahasan mengenai bentuk penanganan sempat berjalan alot. Juju berharap rehabilitasi tidak berhenti pada perbaikan ringan. Keterbatasan lahan membuat pembangunan secara vertikal atau bertingkat dinilai menjadi jalan paling masuk akal untuk menambah ruang belajar.

Harapan juga diarahkan kepada PT Antam, perusahaan pelat merah yang menambang emas di kawasan Pongkor. Namun, menurut Juju, perusahaan belum dapat langsung menanggung pembangunan berskala besar karena usulan tersebut harus melewati proses dan persetujuan dari kantor pusat. Di kawasan yang perut buminya menghasilkan emas, pembangunan ruang kelas ternyata harus menempuh jalan yang panjang.

"Kalau dari Antam, mereka tidak bisa langsung karena biayanya besar dan harus dilaporkan ke pusat," kata Juju.

Pemerintah masih menyiapkan administrasi rehabilitasi, sedangkan bantuan perusahaan baru berada dalam tahapan pembahasan dan prosedur berjenjang.

Sementara proses birokrasi berjalan, 265 murid SDN Cadasleeur tidak mempunyai kemewahan untuk menunggu. Mereka tetap datang bergantian, belajar di tiga kelas yang layak, menumpang PAUD dan musala, atau duduk di bawah atap beralas terpal.

Rehabilitasi Pemkab Bogor

Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor meninjau langsung kondisi SDN Cadasleeur di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Rabu (22/7/2026). Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Kabupaten Bogor, Yanto Pradipta, mengatakan pemerintah memprioritaskan penanganan ruang kelas agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan aman.

"Kami menerima laporan ada sekolah yang mengalami kerusakan. Karena itu, hari ini kami langsung turun untuk mengecek kondisi fasilitas pendidikan di SDN Cadasleueur," kata Yanto di SDN Cadasleeur.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Disdik menargetkan rehabilitasi tiga ruang kelas menggunakan APBD Kabupaten Bogor senilai Rp400 juta. Kerusakan bangunan tersebut dikategorikan dalam tingkat sedang.

"Kami fokus melakukan perbaikan dan penyelamatan anak-anak sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan terlebih dahulu," ujar Yanto.

Sekolah itu juga dinilai sangat membutuhkan tambahan Ruang Kelas Baru (RKB) karena hanya memiliki tiga ruangan layak untuk menampung sembilan rombongan belajar.

Selain mengandalkan APBD, Disdik tengah berkoordinasi dengan PT Antam untuk menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Bantuan tersebut diarahkan bagi rehabilitasi sarana penunjang lain, termasuk perbaikan toilet.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads