Potret buram dunia pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi sorotan publik. Di SDN Kubangsari, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, para siswa terpaksa bertaruh nyawa dan kenyamanan demi menimba ilmu di bangunan yang jauh dari kata layak.
Kondisi paling miris terlihat di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya. Sebanyak 25 siswa kelas jauh SDN Kubangsari harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sebuah bekas rumah panggung. Bangunan sempit berukuran 5 x 4 meter itu hanya berdinding bilik bambu dengan lantai papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Di ruangan terbatas itu, 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2 dipaksa belajar bersamaan tanpa sekat pemisah. Suasana belajar pun berubah menjadi perjuangan berat saat hujan turun, karena atap bangunan tua tersebut bocor di mana-mana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruangan kelas baru yang permanen," ujar Epi, guru kelas jauh yang sudah mengabdi selama 3 tahun.
Ironisnya, perjuangan fisik para siswa tidak berhenti di sana. Setelah naik ke kelas 3, mereka wajib pindah ke sekolah induk karena dianggap sudah cukup kuat untuk menempuh perjalanan jauh.
Namun, kondisi di sekolah induk pun setali tiga uang. Beberapa ruang kelas 1 dan kantor guru dilaporkan ambruk pada November 2025 lalu. Bangunan yang merupakan hasil program PNM tahun 2009 itu kini tak lagi bisa digunakan.
"Kondisinya sangat memprihatinkan. Secara ideal sekolah ini butuh 11 rombel. Tapi realitas di lapangan jauh dari kata ideal," kata Kepala SDN Kubangsari, H. Relin Dodi Purnama.
Kondisi fasilitas salah satu sekolah di pelosok Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Istimewa). |
Kerusakan merembet ke hampir seluruh fasilitas. Ruang kelas 2, 3, dan 4 mengalami kerusakan parah, plafon jebol, kusen raib, hingga kaca jendela yang pecah berserakan. Bahkan, fasilitas dasar seperti perpustakaan dan WC siswa sudah lama terbengkalai.
Warga sekitar sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka sempat bergotong royong memperbaiki atap secara swadaya. Namun, karena kondisi bangunan yang kian membahayakan, pihak sekolah akhirnya memindahkan KBM sementara ke madrasah terdekat.
Pihak sekolah mengaku telah berupaya menempuh jalur birokrasi dengan mengajukan revitalisasi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya.
"Berkas pengajuan perbaikan sudah masuk sistem. Tapi kami belum tahu kapan anggarannya bisa turun," kata Relin.
Merespons situasi ini, Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya memastikan akan segera meninjau langsung lokasi sekolah tersebut. Kepala Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pengawas.
"Sudah saya konfirmasi kepada kepala sekolah dan pengawas. Kondisi yang diberitakan merupakan kelas jauh SDN Kubangsari yang sudah berjalan sejak tahun 2015. Ini inisiatif kepala sekolah dan kepala desa waktu itu untuk mengakomodasi siswa dari kedusunan tersebut," ujar Wandi.
Meski demikian, harapan warga Dusun Mekarjaya untuk memiliki ruang kelas baru nampaknya masih harus tertunda. Wandi menyebutkan bahwa pembangunan di lokasi tersebut belum menjadi prioritas utama pemerintah.
"Untuk di kedusunan itu sepertinya belum ada rencana pembangunan kelas baru, karena jumlah input siswanya secara keseluruhan masih sedikit," jelasnya.
Kini, warga dan para guru hanya bisa berharap ada keajaiban dan perhatian nyata dari pemerintah daerah. Bagaimanapun, anak-anak di pelosok Taraju memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ruang belajar yang aman, layak, dan memanusiakan.
(mso/mso)

