Seorang pria di Amerika Serikat mengalami kejadian yang tak pernah dibayangkannya setelah membeli sebuah rumah hasil sitaan bank (foreclosure). Alih-alih langsung menempati rumah barunya, ia justru menemukan tiga jenazah saat pertama kali memasuki bangunan tersebut.
Mengutip detikProperti, pembeli bernama Edward Marchion memenangkan lelang rumah sitaan yang berada di Burlington, Connecticut, Amerika Serikat, pada awal musim panas tahun ini.
Rumah seluas sekitar 260 meter persegi itu memiliki empat kamar tidur, tiga kamar mandi, serta berdiri di atas lahan lebih dari dua hektare. Properti tersebut juga dilengkapi patio, dek, dan jacuzzi. Marchion membeli rumah itu dengan harga US$525.000 atau sekitar Rp8,5 miliar (kurs Rp16.200 per dolar AS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga tersebut tergolong murah dibandingkan harga median rumah di kawasan tersebut yang mencapai sekitar US$699.900. Namun, setelah resmi memenangkan lelang dan mendapat izin memasuki rumah, Marchion justru menemukan tiga jenazah di dalam bangunan.
Polisi Negara Bagian Connecticut kemudian mengidentifikasi dua korban sebagai Sally Anne Cash (54) dan putranya, Brian Cash (22). Sementara satu jenazah lainnya diduga merupakan suami Sally Anne, Paul Cash.
Hingga kini penyebab kematian ketiganya masih dalam penyelidikan. Polisi menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa kasus tersebut berkaitan dengan tindak kriminal yang lebih luas.
Status Kepemilikan Rumah Kini Dipertanyakan
Penemuan tiga jenazah itu turut memunculkan persoalan hukum baru terkait proses penyitaan rumah tersebut.
Berdasarkan dokumen pengadilan, Sally Anne dan Paul Cash membeli rumah itu pada 2019 seharga US$535.000 melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). Namun, pasangan tersebut dilaporkan berhenti membayar cicilan sejak Desember 2024 sehingga proses penyitaan dimulai pada Agustus 2025.
Aparat kini masih menyelidiki kapan tepatnya keluarga Cash meninggal dunia. Jika hasil penyelidikan menunjukkan mereka telah meninggal sebelum proses penyitaan dilakukan, maka proses foreclosure tersebut berpotensi dinyatakan cacat hukum.
Dalam kondisi itu, ahli waris keluarga Cash dapat memiliki hak untuk melunasi utang sekaligus mengambil kembali kepemilikan rumah tersebut.
Karena status hukumnya belum jelas, Marchion meminta hakim menghentikan sementara proses penyelesaian pembelian rumah. Sementara itu, perusahaan penerbit sertifikat kepemilikan (title company) juga belum dapat menerbitkan dokumen kepemilikan hingga penyelidikan selesai.
Pendiri media keuangan IncomeInsider, Ilir Salihi, mengatakan situasi seperti ini sangat jarang terjadi.
"Kasus pembeli ini sangat langka karena jalan keluar terbaik baginya mungkin justru berasal dari cacat dalam proses penyitaan itu sendiri, bukan dari penemuan jenazahnya," kata Salihi, dikutip dari Realtor.
Ia menjelaskan, apabila pemeriksa medis menyimpulkan para pemilik rumah telah meninggal sebelum putusan penyitaan diterbitkan, maka proses penyitaan kemungkinan tidak sah secara hukum.
"Jika pemeriksa medis menyatakan para pemilik meninggal sebelum putusan penyitaan diterbitkan, maka proses penyitaan kemungkinan dilakukan terhadap pihak yang secara hukum tidak lagi bisa menerima pemberitahuan. Di berbagai negara bagian, pengadilan telah memutuskan bahwa putusan seperti itu batal demi hukum jika tidak melibatkan perwakilan sah dari harta warisan pemilik yang telah meninggal," ujarnya.
Artikel ini sudah tayang di detikProperti, selengkapnya di sini
