Terik matahari menyengat ketika Hayat (56) mengayunkan sabitnya di sawahnya yang berbeda di Dusun Karangpucung, Desa Cijeungjing, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Selasa (21/7/2026). Padi yang dipanennya memang mulai menguning, tetapi belum benar-benar sempurna.
Di tengah kemarau, Hayat memilih memanen lebih awal. Bukan karena hasilnya sudah maksimal, melainkan karena tak ingin seluruh tanamannya mati sebelum sempat dipanen.
Di sekelilingnya, tanah sawah tampak retak-retak. Aliran air yang selama ini menghidupi lahan tadah hujan itu telah lama berhenti. Sawah yang hanya mengandalkan pasokan dari Sungai Cipalih kini berubah menjadi hamparan yang kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, ini sebenarnya belum waktunya panen. Normalnya masih sekitar dua minggu lagi. Tapi karena sudah kekeringan dan tidak ada air, terpaksa dipanen sekarang daripada habis semuanya," kata Hayat.
Keputusan memanen lebih awal membuatnya harus bersiap menerima hasil yang jauh dari harapan. Dari lahan seluas sekitar 100 bata, biasanya ia mampu menghasilkan sekitar delapan kuintal gabah. Namun musim tanam kali ini, ia hanya berharap masih bisa membawa pulang sebagian kecil hasil panennya.
"Kalau hasilnya pasti tidak maksimal. Mudah-mudahan bisa dapat tiga kuintal saja, yang penting modal tanam bisa kembali untuk persiapan musim berikutnya," ujarnya.
Hayat mengaku musim tanam kali ini meleset dari perkiraannya. Ia sempat berharap hujan masih turun meski kemarau mulai datang, sehingga memilih menanam benih padi berumur pendek sekitar 70 hari. Namun hujan yang ditunggu tak kunjung datang, sementara kemarau justru berlangsung lebih cepat.
"Saya kira bulan ini masih ada hujan. Ternyata kemarau datang lebih dulu. Untungnya yang saya tanam masih bisa dipanen walaupun dipercepat. Kalau petani lain banyak yang memakai benih umur 90 sampai 100 hari, sekarang banyak yang gagal panen karena kekeringan," tuturnya.
Hayat sedang panen di lahan sawah miliknya meski belum waktunya karena kekeringan. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar |
Di sawah Karangpucung seluas sekitar 12 hektare, kondisi serupa dialami hampir seluruh petani. Menurut Hayat, hanya dua petani yang masih sempat memanen padi, sedangkan sisanya harus merelakan tanamannya mengering sebelum waktunya dipanen.
"Yang bisa panen cuma dua orang, termasuk saya. Punya adik saya, saudara saya, dan petani lainnya semuanya gagal. Di sini juga belum ada yang ikut asuransi pertanian," katanya.
Pantauan di lokasi terlihat dampak kemarau yang semakin meluas. Tanah sawah pecah-pecah akibat lama tak mendapat pasokan air. Sebagian tanaman padi yang baru berumur sekitar dua bulan mulai menguning sebelum waktunya, sementara tanaman padi lain yang masih hijau tampak layu dan pertumbuhannya terhenti karena tidak mendapat air.
Bagi Hayat dan petani lainnya, persoalan utama bukan sekadar cuaca, melainkan minimnya sumber air saat musim kemarau tiba. Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang agar lahan pertanian tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hujan.
"Kalau petani itu yang paling dibutuhkan air. Mau dari irigasi atau sumur bor, yang penting ada pasokan air supaya tanaman bisa diselamatkan sampai panen," pungkasnya.
(yum/yum)

