Tumpukan ban bekas menjadi pemandangan tak biasa di sisi jalan kawasan Rancabentang, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Ban-ban itu sengaja disusun warga sebagai 'pengaman darurat' untuk melindungi pemotor yang melintas dari potensi kecelakaan.
Saat detikJabar melintas, Selasa (21/7/2026), ban-ban tersebut terlihat mencolok karena dicat dengan berbagai warna yang terang. Meski hanya berupa barang-barang sederhana, warga berupaya meminimalisir dampak kecelakaan jika sewaktu-waktu ada pemotor yang mengalami rem blong, terutama saat melintasi jalur turunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jalan Rancabentang sendiri memang bukan merupakan akses utama. Jalur ini hanya bisa dilalui oleh motor dan menjadi jalan pintas untuk pengendara dari Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap menuju Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, atau sebaliknya.
Meski begitu, kawasan ini telah berkembang menjadi permukiman padat penduduk. Tak jauh dari sana ada Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) hingga Pondok Pesantren Nurul Huda, lembaga pendidikan Agama Islam bagi anak yatim piatu.
Karena kondisi ini lah, Jalan Rancabentang kini kerap digunakan pengendara meski jalurnya begitu terjal. Pemotor harus ekstra berhati-hati saat melintas, terlebih ketika melaju dari arah atas menuju jalan yang menurun.
Di tengah kondisi tersebut, tumpukan ban bekas itu menjadi bentuk ikhtiar warga untuk memberikan perlindungan tambahan bagi pengendara. Ban-ban tersebut ditempatkan di sisi jalan yang dianggap rawan, sehingga diharapkan bisa menjadi peredam apabila kendaraan kehilangan kendali.
Meski terlihat sederhana, pengaman tersebut menjadi bukti kepedulian warga terhadap keselamatan pengguna jalan. Mereka memilih memanfaatkan barang yang ada untuk memberikan rasa aman, sembari berharap ke depan terdapat pengamanan yang lebih memadai di jalur tersebut.
Di lokasi, terdapat dua titik jalur penyelamat yang dibangun warga Rancabentang. Titik pertama berada di bahu jalan berupa lahan darurat sederhana yang dapat digunakan pemotor untuk mengarahkan kendaraannya ketika mengalami rem blong.
Jalur penyelamat di Jalan Rancabentang. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar) |
Sementara titik kedua berada di ujung turunan. Di lokasi tersebut, ban-ban ditumpuk di dekat tembok pembatas bangunan untuk mencegah pengendara terhindar dari kecelakaan.
Selain itu, warga juga memasang pembatas jalan di tengah-tengah jalur tersebut. Upaya ini jadi ikhtiar warga agar terhindar dari titik buta atau blind spot.
Ketiga fasilitas sederhana itu menjadi upaya warga untuk mengantisipasi potensi kecelakaan di jalur tersebut. Meski belum bisa sepenuhnya menjamin keselamatan pengendara, setidaknya keberadaannya diharapkan dapat memberikan ruang bagi pemotor untuk menyelamatkan diri ketika kendaraan mengalami kendala.
"Ini udah dibikinnya udah dua bulanan lah, jadi untuk menghindari rem blong, motor dimasukkinnya ke sini," kata Ketua RT 03/06 Kelurahan Ciumbuleuit, Ukar, saat berbincang dengan detikJabar.
Sebelum menyiapkan jalur penyelamat, seingat Ukar, ada dua kejadian kecelakaan akibat rem motor yang blong dari arah atas. Meski hanya mengalami luka-luka, peristiwa itu kemudian menggugah inisiatif warga untuk membuat jalur penyelamat di sana.
Selain itu, warga juga memasang spanduk di atas tanjakan sebagai pengingat bagi pengendara. Pesannya begitu sederhana, jika ragu, maka pengendara disarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
"Intinya, ini kita inisiatif supaya kalau ada yang celaka bisa terlindungi. Terus dipasang pembatas di tengah jalan, soalnya suka ada yang tabrakan karena dari atas enggak kelihatan motor yang dari bawah," ungkapnya.
"Imbauan saya, kalau memang tidak berani jangan dipaksakan pakai jalur ini. Kalau yang dari bawah mah silakan. Tapi kalau dari atas, engga berani, jangan memaksakan. Lebih baik motornya dititip di atas, jalan kaki ke sini atau nyari rute lain," pungkasnya.
(ral/orb)

