Klinik Ini Disanksi Usai Cabut 12 Gigi Pasien Lansia Sekaligus

Klinik Ini Disanksi Usai Cabut 12 Gigi Pasien Lansia Sekaligus

detikHealth - detikJabar
Sabtu, 18 Jul 2026 22:00 WIB
Woman holding the hand of her hospitalized husband
ilustrasi pasien dirawat. Foto: Getty Images/Abdullah Durmaz
Jakarta -

Sebuah klinik gigi di China menerima sanksi dari otoritas setempat setelah mencabut 12 gigi yang masih dimiliki seorang pria berusia 63 tahun dalam satu prosedur. Klinik tersebut juga memasang 10 implan gigi kepada pasien tersebut.

Pria bernama Li, warga Kota Baoji, Provinsi Shaanxi, mendatangi Klinik Gigi Datuanyuan pada September tahun lalu untuk memeriksakan keluhan sakit gigi.

Li mengaku tertarik setelah melihat iklan klinik yang menawarkan implan gigi. Menurutnya, iklan tersebut menjanjikan pasien dapat memiliki gigi lengkap dan hidup hingga usia 100 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak klinik bahkan mengirim kendaraan untuk menjemput Li dan menawarkan pemeriksaan secara gratis. Setelah menjalani pemeriksaan, Li harus mencabut seluruh 12 gigi yang masih dimilikinya dan menerima pemasangan 10 implan.

ADVERTISEMENT

Setelah tindakan medis selesai, staf klinik mengambil seluruh uang senilai 18.800 yuan atau sekitar Rp50 juta dari rekening bank dan dompet digital milik Li. Li juga masih menanggung tagihan perawatan sebesar 6.200 yuan atau sekitar Rp16,5 juta.

"Ketika putra saya menemukan saya, mulut saya penuh darah, dan saya hanya memiliki 30 yuan (80 ribu rupiah) untuk ongkos bus," beber Li yang dikutip dari The Star Malaysia.

Keluarga Li menilai tindakan tersebut semakin mengkhawatirkan karena Li memiliki riwayat sejumlah penyakit. Ia diketahui menderita penyakit jantung koroner, pernah mengalami infark miokard, diabetes, serta tekanan darah tinggi. Selain itu, Li juga memiliki empat stent koroner.

Dokter gigi di Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan, Fu Dongjie, menjelaskan bahwa pasien yang memiliki diabetes dan penyakit jantung sebaiknya tidak menjalani prosedur implan gigi sebelum kondisi kesehatannya benar-benar terkendali.

Keluarga Li kemudian melaporkan klinik tersebut kepada dinas kesehatan setempat sebanyak tiga kali. Mereka juga mempertanyakan kelengkapan rekam medis yang diberikan klinik.

Putra Li mengatakan pihak klinik selalu menyerahkan dokumen yang sebelumnya tidak tersedia setiap kali dirinya menemukan kejanggalan dalam berkas medis. Ia menduga klinik tersebut memalsukan dokumen.

Keluarga juga menemukan kesalahan lain dalam rekam medis. Klinik mencatat jenis kelamin Li sebagai perempuan. Selain itu, klinik baru memberikan catatan konsultasi kardiologi praoperasi enam bulan setelah tindakan dilakukan.

"Apakah benar-benar ada konsultasi kardiologi sebelum prosedur? Mengapa mereka tidak memberi tahu keluarga pasien? Mereka terlalu berani," kata putranya.

Pada Juli, biro kesehatan setempat menyimpulkan bahwa klinik tersebut melakukan sejumlah pelanggaran. Pelanggaran itu meliputi tidak memberikan pilihan rencana perawatan, tidak melakukan penilaian praoperasi secara menyeluruh, serta tidak menyimpan rekam medis sesuai standar.

Otoritas kemudian memerintahkan klinik untuk mengembalikan seluruh biaya perawatan kepada Li. Pihak berwenang juga menutup klinik tersebut untuk menjalani perbaikan.

Kasus ini memicu reaksi warganet di media sosial.

"Pria itu benar-benar beruntung bisa baik-baik saja setelah semua 12 giginya dicabut sekaligus," kata warganet.

"Apa yang dilakukan klinik itu tidak berbeda dengan pembunuhan," tulis warganet lainnya.

(sao/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads