Jabar Hari Ini: Terkuaknya Misteri Kerangka Yani di Hutan Jati

Jabar Hari Ini: Terkuaknya Misteri Kerangka Yani di Hutan Jati

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 16 Jul 2026 22:15 WIB
Lokasi temuan kerangka bersweater merah di hutan jati di Sukabumi
Lokasi temuan kerangka bersweater merah di hutan jati di Sukabumi. Foto: Istimewa
Sukabumi -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat, hari ini, Kamis, 16 Juli 2026) dari mulai warga Tasikmalaya krisis air bersih hingga polisi di Sukabumi berhasil mengungkap kejadian penemuan kerangka misterius.

Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Krisis Air Bersih Terjadi di Tasikmalaya

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keputusan itu berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penetapan status siaga darurat tertuang dalam Keputusan Bupati Tasikmalaya Nomor 3002.2.1/KEP.421-BPBD/2026. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni, menyebut saat ini sudah ada lima wilayah yang terdampak kekeringan. Totalnya mencapai 4.771 jiwa dari 2.753 Kepala Keluarga.

ADVERTISEMENT

"Kami imbau masyarakat waspada kekeringan. Hemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Utamakan untuk kebutuhan pokok dan sanitasi. Segera laporkan ke kami jika ada wilayah yang mengalami kekurangan air," kata Roni saat dikonfirmasi detikJabar, hari ini.

Selain kekeringan, BPBD juga menyoroti potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. "Jangan membakar sampah sembarangan. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Jangan tinggalkan api di hutan dan lahan. Kalau ada temuan asap atau titik api, segera laporkan," tegas Roni.

Selama masa siaga darurat, BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, desa, dan relawan akan meningkatkan patroli, sosialisasi, serta kesiapsiagaan di wilayah rawan.

Warga diimbau memantau informasi resmi dari BPBD agar tidak termakan hoaks.

Sementara itu, FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya bergerak menyalurkan bantuan ke wilayah yang terdampak. Sebanyak 56 kepala keluarga di Kampung Sagobog, Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya menerima distribusi air bersih.

Pendistribusian dipusatkan di RT 01/RW 01 Kampung Sagobog. Truk tangki air milik FK Tagana datang langsung ke lokasi untuk memenuhi kebutuhan warga sehari-hari.

"Bantuan ini kami salurkan karena warga di sini memang sangat kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau," ujar Koordinator FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adi Setia kepada detikJabar.

Warga terlihat antusias mengantre membawa jerigen dan ember. Air bersih tersebut rencananya digunakan untuk kebutuhan minum, memasak, hingga mandi.

FK Tagana menyebut kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana kekeringan. "Ini komitmen kami untuk hadir membantu masyarakat. Semoga bisa meringankan beban warga sampai sumber air kembali normal," jelas Jembar.

Di Desa Cibalanarik, sumur-sumur warga sudah banyak yang kering dalam dua bulan terakhir. Warga terpaksa membeli air atau berjalan jauh ke sumber air terdekat.

FK Tagana memastikan pendistribusian air bersih akan terus dilakukan ke desa-desa lain di Tasikmalaya yang mengalami krisis air selama musim kemarau. Mereka juga mengajak masyarakat dan donatur untuk ikut membantu agar bantuan bisa menjangkau lebih banyak warga terdampak.

"Kami berharap bantuan ini bisa sedikit mengurangi kesulitan warga. Kesehatan dan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi," pungkas Jembar.

11 Pabrik Kapur di Cipatat Ilegal

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menemukan dugaan pelanggaran serius di kawasan industri pengolahan batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sedikitnya 11 perusahaan diduga belum mengantongi izin, sementara para pekerjanya disebut tidak menerima hak sesuai ketentuan perundang-undangan.

Temuan itu didapat Dedi saat meninjau langsung kawasan pengolahan batu kapur di Cipatat beberapa waktu lalu. Selain persoalan perizinan, ia menemukan dugaan pelanggaran ketenagakerjaan berupa pembayaran upah yang tidak sesuai aturan serta tidak adanya perlindungan jaminan sosial bagi pekerja.

"Saya keliling tuh di Cipatat. Pertama, perusahaan-perusahaan itu banyak yang tidak terdaftar. Yang keduanya, karyawannya dibayar tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang. Tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada jaminan hari tua," ujar Dedi, Kamis (16/7/2026).

Berdasarkan pendataan awal, sedikitnya terdapat 11 perusahaan yang diduga bermasalah. Namun, menurut Dedi, jumlah tersebut baru berdasarkan temuan di internal kawasan industri dan masih berpotensi bertambah.

Selain dugaan pelanggaran administrasi dan ketenagakerjaan, aktivitas pengolahan batu kapur juga disebut telah menimbulkan dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat.

"Dan itu saya cek tadi itu lebih dari 11 perusahaan. Itu baru di internal. Di eksternalnya bisa dilihat debu yang dari kapurnya itu sekarang udah berwarna putih itu Cipatat. Maka saya sudah minta DLH untuk melakukan tes lab. Katanya seminggu lagi keluar hasilnya," jelasnya.

Dedi juga menyoroti kondisi pegunungan di sekitar lokasi yang dinilai mulai mengkhawatirkan akibat aktivitas penambangan. Menurutnya, bagian bawah tebing telah banyak dikeruk sehingga berpotensi memicu bencana.

"Yang berikutnya ada ancaman lagi gunung. Nah gunung itu, di sisinya rapi, coba naik motor ke dalam. Itu sudah diambil di bagian bawahnya, maka potensinya bisa roboh. Nah nanti kalau saya misalnya ditutup sementara pasti ribut," katanya.

Meski menemukan berbagai dugaan pelanggaran, Dedi menegaskan belum akan langsung menutup operasional perusahaan. Ia memilih memastikan nasib para pekerja lebih dulu agar tidak kehilangan mata pencaharian.

Karena itu, ia telah meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat mendata seluruh pekerja sekaligus memeriksa pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan mereka.

"Makanya hari ini saya meminta Kepala Disnaker identifikasi dulu karyawan ada berapa, dan saya dengar karyawannya sedikit rata-rata 5, 20, 60, paling banyak 600. Maka nanti karyawannya itu oleh saya akan diidentifikasi mereka yang tidak dibayar dengan sesuai dengan ketentuan," tuturnya.

Dedi bahkan menyiapkan skema pemindahan pekerja ke sektor lain apabila nantinya perusahaan-perusahaan tersebut harus ditindak.

"Karyawannya mau saya alihkan, saya tempati bekerja di sektor-sektor lain, termasuk juga kita punya kebutuhan untuk tenaga kebersihan karena rata-rata mereka sekolahnya SD sudah tua-tua. Nah itu akan kita dorong," ujarnya.

Setelah persoalan para pekerja dipastikan tertangani, Pemprov Jawa Barat baru akan mengambil langkah hukum terhadap perusahaan yang terbukti melanggar.

"Nah setelah itu nanti kita akan melakukan langkah-langkah penanganan terhadap perusahaannya. Jangan sampai saya melakukan penindakan kemudian karyawannya nanti tidak bekerja," pungkasnya.

Belajar di Bawah Bayang Bangunan Ambruk SDN Bogor

Bangunan SD Negeri Cadas Leueur di Kabupaten Bogor terancam ambruk. Kondisi itu dikeluhkan sang kepala sekolah, Juju Juhaeriah.

"Setiap malam saya was-was, tidak bisa tidur karena terus memikirkan sekolah. Saya takut anak-anak saya jadi korban jatuhan material atap," kata Kepala SD Negeri Cadas Leueur, Juju.

Setiap kali kegiatan belajar dimulai, perempuan berusia 48 tahun tersebut harus kembali mengamati langit-langit kelas serta memastikan material bangunan tidak jatuh menimpa guru maupun murid.

Hari-hari di sekolah yang berada di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, itu akhirnya dijalani dengan dua perasaan sekaligus. Juju bersyukur proses pembelajaran masih berlangsung, tetapi kecemasan selalu mengikuti sejak anak-anak memasuki ruang kelas.

"Alhamdulillah, kegiatan belajar setiap hari berjalan lancar. Tetapi kami selalu was-was karena material plafon dan genting sering berjatuhan," ujar Juju saat berbincang dengan detikJabar hari ini.

Juju baru setahun memimpin sekolah yang bertetangga dengan kawasan konsesi pertambangan emas Pongkor. Ketika pertama kali datang, kondisi bangunannya sudah memprihatinkan. Kepala sekolah sebelumnya juga menghadapi persoalan serupa dan berkali-kali mengusulkan perbaikan. Namun, kerusakan terus bertambah, sedangkan penanganan menyeluruh tak kunjung datang.

Dari tujuh ruang yang dimiliki sekolah tersebut, empat di antaranya mengalami kerusakan berat. Tiga ruangan di lantai atas sempat diperbaiki menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, kemampuan dana BOS terbatas. Anggaran itu tidak cukup untuk membenahi seluruh bagian bangunan yang lapuk.

Persoalan menjadi semakin rumit karena sekolah masih membutuhkan setiap jengkal ruang yang tersedia. Salah satu kelas dengan kategori rusak berat tetap digunakan untuk kegiatan belajar. Keputusan tersebut bukan diambil karena ruangannya dianggap aman, melainkan lantaran sekolah tidak memiliki pilihan lain.

"Yang satu rusak berat masih dipakai dengan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kami juga bingung. Kegiatan belajar bahkan sudah dibagi menjadi sif pagi dan siang," tutur Juju.

Pembagian jadwal itu menjadi siasat agar seluruh anak tetap memperoleh ruang belajar. Namun, cara tersebut hanya mengatur waktu penggunaan kelas, bukan menghilangkan bahaya yang terus menggelayuti pikiran.

Juju dan para guru beberapa kali kejatuhan material bangunan. Murid juga pernah tertimpa serpihan pada bagian kepala. Sejauh ini, kata Juju, belum ada anak yang mengalami luka parah. Namun, bagi Juju, ketiadaan korban serius bukan berarti ancaman telah berlalu.

Mantan Kepala Sekolah SDN Pasir Peuteuy dan Parigi ini menyadari keberuntungan bisa berakhir kapan saja. Terlebih, kerusakan tidak selalu memberikan tanda sebelum plafon terlepas atau genting meluncur ke dalam ruangan. Di sekolah itu, bunyi dari bagian atap bukan sekadar gangguan belajar, melainkan peringatan yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Kecemasan serupa dirasakan para orang tua. Mereka mengetahui kondisi tempat anak-anak menimba ilmu, tetapi juga tidak mempunyai banyak pilihan. Permukiman di sekitar SDN Cadas Leueur terbilang padat. Sekolah tidak memiliki lahan alternatif yang bisa disulap menjadi kelas sementara.

Bagian luar bangunan pun sangat sempit. Ruang yang tersisa hanya cukup untuk parkir sepeda motor. Tidak ada halaman luas yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda atau bangunan darurat agar murid dipindahkan dari kelas rusak.

"Semua orang tua merasa was-was. Tetapi dengan kondisi seperti ini, memang tidak ada tempat lain. Penduduk di lingkungan sekolah juga rapat semua," kata Juju.

Sebagian besar keluarga murid berasal dari kalangan buruh. Sekolah negeri itu menjadi tumpuan warga untuk memastikan anak-anak mereka tetap memperoleh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Karena itu, meski bangunannya mengkhawatirkan, kegiatan belajar tidak mungkin begitu saja dihentikan.

Minat warga menyekolahkan anaknya di SDN Cadas Leueur bahkan bertambah. Tahun ini, jumlah murid kelas I mencapai 47 anak. Angka tersebut naik dari sebelumnya 46 siswa, ditambah dua anak pindahan dan diikuti perpindahan siswa lainnya. Pertumbuhan jumlah peserta didik itu seharusnya menjadi kabar baik. Namun, tanpa ruang yang layak, penambahan murid justru memperbesar beban sekolah.

Menurut Juju, permohonan perbaikan telah diajukan setiap tahun. Upaya serupa juga dilakukan kepala sekolah terdahulu. Akan tetapi, proposal demi proposal itu belum menghasilkan rehabilitasi menyeluruh yang dibutuhkan.

Sekolah sempat memahami ketika pandemi Covid-19 memukul anggaran pemerintah. Setelah itu muncul kebijakan efisiensi. Namun, pada saat yang sama, usia bangunan terus bertambah dan kerusakan tak bersedia menunggu keadaan keuangan membaik.

Dana BOS hanya dapat digunakan untuk penanganan terbatas. Sekolah juga memperoleh bantuan dari PT Antam untuk memperbaiki halaman serta sejumlah kebutuhan kecil lainnya. Dukungan tersebut cukup membantu, tetapi belum menyentuh persoalan utama: empat ruangan yang mengalami kerusakan berat dan ancaman material berjatuhan.

Kini, Juju hanya dapat menjaga kegiatan belajar tetap berjalan sambil kembali mengetuk pintu pemerintah. Ia tidak sedang meminta sekolahnya dipoles menjadi bangunan mewah. Harapannya sederhana: guru dapat mengajar tanpa terus menengadah ke plafon dan murid bisa belajar tanpa dibayangi genting yang mungkin jatuh.

Sebab, setiap sore ketika seluruh siswa telah pulang, kecemasan Juju belum ikut meninggalkan sekolah. Bangunan itu terus terbawa dalam pikirannya sampai ke rumah, merampas ketenangan bahkan ketika malam tiba.

Juju tidak ingin pemerintah baru datang setelah ruang kelas benar-benar ambruk. Terlebih jika kedatangan itu disertai garis polisi, proses evakuasi, dan kabar tentang korban.

"Saya takut terjadi sesuatu. Setiap hari rasanya waswas," Juju menutup perbincangan.

Misteri Mobil Boks Tak Bertuan di Bandung

Sebuah mobil boks yang terparkir di Jalan Gumuruh, Kota Bandung, kini sedang menjadi sorotan. Mobil berwarna kuning itu diketahui dibiarkan terbengkalai begitu saja dalam jangka waktu yang lama.

Dilihat di lokasi, mobil boks bermerek Mercedes-Benz ini sudah dipenuhi dengan coretan vandalisme. Kondisinya sudah mati dan bertahun-tahun tak pernah diambil kembali oleh pemiliknya.

Bahkan bagi warga sekitar, keberadaan mobil boks ini sudah jadi pemandangan yang biasa untuk aktivitas sehari-hari. Rendi (35) misalnya, seingatnya, mobil tersebut sudah terbengkalai di sana selama belasan tahun.

"Mobil boks itu mah dari saya masih sekolah juga udah ada di sana. Belasan tahun lah berarti gitu aja," kata dia saat berbincang dengan detikJabar.

Jalan Gumuruh sendiri memang bukan jalur utama yang dipakai oleh pengendara. Jalan tersebut biasanya digunakan sebagai jalur pintas dari dan menuju kawasan Gatot Subroto atau Jalan Ibrahim Adjie.

Selanjutnya, mobil itu juga diparkir mepet ke bahu jalan. Rumah di depannya sendiri terlihat kosong tanpa penghuni.

Namun menurut Rendi, keberadaan mobil boks itu tetap saja mengganggu arus lalu lintas pengendara. Bahkan karena sudah lama berada di sana, pengaspalan jalan harus tertahan karena mobil boks tersebut.

"Yang waktu itu ngaspal di sini kan enggak bisa sampe ujung bahu jalannya, soalnya ada mobil itu. Akhirnya ya cuma di tengahnya aja," ucapnya.

"Terus kalau jam-jam sibuk, jalan di sini biasanya ramai sama yang motong jalan. Akhirnya kalau ada mobil papasan, itu harus ada yang ngalah dulu. Jadinya bikin macet. Penginnya sih ada yang angkut yah, biar jalannya kalau pas rame di sini jadi lancar," pungkasnya.

Sementara itu, Fitra (25) warga lainnya, juga punya keinginan serupa. Ia bahkan mengaku ikut kesal karena jalan di dekat rumahnya itu kerap macet lantaran lalu lintasnya terganggu oleh keberadaan mobil box itu.

"Sebetulnya di jalan sini itu enggak boleh ada yang parkir. Tapi kalau mobil itu, kita kan enggak tahu pemiliknya siapa. Udah lama atuh, mang, mau dipindahin juga kita bingung ke mana," pungkasnya.

Jejak Ponsel Bongkar Teka-teki Kerangka Yani

Tabir gelap misteri penemuan sesosok mayat yang telah menjadi kerangka di area hutan jati Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, akhirnya berhasil dibongkar oleh kepolisian.

Kerja keras tim gabungan dalam mengungkap kasus ini mendapat apresiasi langsung dari pimpinan tertinggi Polres Sukabumi.

Kapolres Sukabumi AKBP Samian, melalui Kasi Humas Polres Sukabumi Iptu Ilham Sapta Permadi, menyampaikan bahwa pengungkapan kilat ini merupakan wujud nyata dari komitmen kepolisian dalam memberikan kepastian hukum dan menjaga rasa aman di tengah masyarakat.

"Alhamdulillah, berkat kerja keras dan sinergi tim gabungan Satreskrim Polres Sukabumi bersama Unit Reskrim Polsek Sagaranten, identitas korban yang sebelumnya berstatus Mr X berhasil diungkap dan terduga pelaku telah diamankan," ujar Ilham menyampaikan keterangan Kapolres Sukabumi hari ini.

Ilham menambahkan, pihak kepolisian juga berterima kasih kepada masyarakat yang telah bersikap kooperatif dalam memberikan informasi berharga selama proses penyelidikan intensif ini berlangsung.

Di balik keberhasilan tersebut, ternyata ada cerita perjuangan dan kejelian tersendiri dari tim lapangan. Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi Suharyana, mengungkapkan bahwa sejak pertama kali jasad berupa tulang belulang itu ditemukan pada Senin (13/7), pihaknya sudah mencium adanya ketidakwajaran.

"Sejak awal temuan kerangka tersebut pada Senin (13/7), berdasarkan fakta di lapangan kami sudah menduga korban terindikasi meninggal dengan tidak wajar," ungkap Dudi saat memberikan keterangan tambahan kepada detikJabar, Kamis (16/7).

Berangkat dari kecurigaan kuat tersebut, Dudi langsung memerintahkan jajarannya untuk bergerak cepat. Tempat Kejadian Perkara (TKP) di kawasan Perkebunan PT Indah Bumi Plantasi (IBP) langsung 'diubek-ubek' oleh petugas guna mencari sekecil apa pun petunjuk yang ditinggalkan.

Sejumlah saksi langsung dimintai keterangan secara maraton. Titik terang mulai muncul dari salah satu barang bukti krusial yang sempat hilang, yakni telepon genggam milik almarhumah Eka Yani (33).

Polisi mendeteksi keberadaan ponsel tersebut dan melakukan penelusuran digital yang sangat intensif. "Berawal dari petunjuk hilangnya ponsel korban, kami lakukan penelusuran mendalam yang akhirnya secara akurat mengarah pada satu nama terduga pelaku," jelas Dudi.

Dudi membeberkan, rentetan waktu (timeline) perburuan ini berjalan sangat dinamis. Setelah jasad ditemukan pada Senin, pihak keluarga korban baru resmi membuat laporan kehilangan ke Polsek Sagaranten pada Selasa (14/7).

Begitu laporan resmi dari keluarga masuk, operasi perburuan besar-besaran terhadap pelaku langsung dideklarasikan saat itu juga.

Puncaknya terjadi pada Rabu (15/7) sore. Petugas gabungan berhasil mengendus keberadaan H alias Delon (42) yang bersembunyi di tempat tinggalnya di kawasan Cibadak, Kecamatan Sagaranten.

Saat akan ditangkap, Delon diketahui sedang mengurung diri di dalam rumah. Polisi yang sudah mengepung lokasi langsung bergerak taktis melakukan penyergapan tanpa memberikan celah bagi pelaku untuk meloloskan diri.

"Pelaku kami amankan di tempat tinggalnya di kawasan Cibadak, Kecamatan Sagaranten. Saat itu dia sedang mengurung diri di rumah. Begitu diamankan, dia tidak bisa berkutik dan akhirnya mengakui semua perbuatannya," pungkas Dudi.

Saat ini, Delon sudah dijebloskan ke sel tahanan Mapolres Sukabumi. Penyidik Satreskrim masih terus memeriksa pelaku secara mendalam guna mengorek motif utama di balik aksi pembunuhan berdarah dingin tersebut.

(wip/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads