Demi Keluarga, Nendi Rela Meraba Lumpur Cikapundung

Demi Keluarga, Nendi Rela Meraba Lumpur Cikapundung

Wisma Putra - detikJabar
Jumat, 17 Jul 2026 08:00 WIB
Nendi pencari cacing sutra di Sungai Cikapundung
Nendi pencari cacing sutra di Sungai Cikapundung (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Semburat cahaya matahari menyelinap di antara celah bangunan dan rimbun pepohonan, menyapa gang sempit menuju kawasan Rainbow Village atau yang akrab dikenal sebagai Kampung Pelangi. Di Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, suasana Kamis (16/7/2026) menjelang siang itu masih tampak hidup.

Warga berlalu-lalang, memanfaatkan jalanan selebar kurang dari tiga meter tersebut untuk berolahraga di bawah naungan langit yang mulai meninggi.

Bagi mereka yang ingin berkeringat, rute ini menjadi favorit. Biasanya, warga memarkirkan kendaraan di Teras Cikapundung, lalu berjalan kaki menuju Jalan Bukit Jarian di wilayah RT 04, RW 11, Kelurahan Hegarmanah. Meski matahari kian terik, kawasan ini tetap menawarkan keteduhan yang nyaman bagi para pejalan kaki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemandangan di sini memang memanjakan mata. Deretan rumah dengan cat warna-warni yang ikonik berdiri bersisian dengan aliran Sungai Cikapundung yang mengalir di bawah gang, memberikan nuansa segar di tengah padatnya permukiman. Namun, di balik keindahan visual itu, ada pemandangan lain yang menarik perhatian di sisi jalan.

ADVERTISEMENT

Seorang pria tampak begitu khusyuk. Di saat orang lain sibuk berolahraga atau sekadar melintas, pria bernama Nendi (42) ini justru asyik berkutat dengan lumpur di selokan irigasi. Dengan konsentrasi penuh, ia menyodok dasar saluran, memburu makhluk kecil yang menjadi sumber penghidupannya, cacing sutra.

Setiap kali tangannya berhasil meraup lumpur, Nendi segera memindahkannya ke dalam karung carang. Ia membawa dua jenis karung, satu karung berpori untuk menyaring cacing dari lumpur, dan satu karung biasa untuk menampung hasil tangkapannya.

"Cacing sutra. Cacingnya buat dijual, sehari bisa dapat 20 liter," kata Nendi, pria asal Cikoneng, Bojongsoang, Kabupaten Bandung tersebut.

Pekerjaan ini bukanlah hal baru baginya. Nendi sudah melakoni profesi sebagai pemburu cacing sutra sejak tahun 2018. Ia paham betul manfaat dari komoditas yang ia cari di dasar sungai ini.

"Cacing ini bagus untuk ternak dan pakan ikan aquarium," tambah Nendi.

Nendi pencari cacing sutra di Sungai CikapundungNendi pencari cacing sutra di Sungai Cikapundung Foto: Wisma Putra/detikJabar

Metode yang digunakannya tergolong tradisional namun membutuhkan insting yang kuat. Nendi harus turun langsung ke air dan meraba dasar sungai dengan tangannya. Jika jemarinya merasakan tekstur lumpur yang mengandung koloni cacing, barulah ia menyiduknya masuk ke dalam karung.

"Nangkapnya di raba, dimasukan ke karung, nanti lumpur nya keluar sendiri. Dijual per liter, seliter dijual Rp25 ribu," ujarnya.

Bagi Nendi, saluran irigasi di sekitar Sungai Cikapundung adalah lokasi yang cukup ramah karena airnya yang dangkal. Jika sedang mencari di sungai besar, tantangannya jauh lebih berat karena ia harus menyelam. Selain di Cikapundung, langkah kakinya sering membawanya hingga ke aliran sungai lain demi memenuhi permintaan pasar.

"Kadang di Cikapundung, ke Citarum, atau ke Ciliin. "Kalau di sungai harus menyelam, kalau di sini (irigasi) enak karena tidak terlalu dalam, jadi mudah mencarinya," tambah Nendi.

Keahlian ini merupakan warisan turun-temurun dari sang ayah. Meski terlihat sederhana-hanya memasukkan lumpur ke karung, proses pasca-panen justru menjadi kunci. Agar layak jual, cacing-cacing tersebut harus dibersihkan berkali-kali hingga benar-benar murni.

"Meski sudah dipisahkan, nanti di rumah dibersihkan lagi sampai tinggal cacing saja. Nanti dijual ke tukang aquarium sehari 2 liter, atau ke pengepul, kalau ke pengepul sampai 1.000 liter juga diterima. Pengepul nantinya dijual ke peternak lele," tuturnya.

Bekerja dengan cara meraba dasar sungai tentu bukan tanpa risiko. Bahaya pecahan kaca atau benda tajam lainnya selalu mengintai di balik keruhnya air. Namun, bagi Nendi, rasa takut itu kalah oleh tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Di balik setiap liter cacing yang ia kumpulkan, ada masa depan anak-anak yang harus ia jamin.

"Buat nafkah istri dan anak. Anak tiga, satu sudah bekerja, dua masih sekolah di SMP dan TK," pungkasnya.



(wip/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads