Geger Jasad Masih Utuh Usai Dikubur 40 Tahun Lalu di KBB

Round-up

Geger Jasad Masih Utuh Usai Dikubur 40 Tahun Lalu di KBB

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 14 Jul 2026 07:30 WIB
Pemotor gendong mayat di Bandung Barat
Pemotor gendong mayat di Bandung Barat (Foto: Istimewa)
Bandung -

Jagat maya dibuat heboh dengan pemandangan tak lazim di Jalan Raya Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Sebuah unggahan video viral memperlihatkan pengendara sepeda motor nekat melintas sambil mengangkut sesosok mayat yang terbalut kain kafan pada Minggu (12/7/2026) pagi.

Berdasarkan penelusuran detikJabar, pemandangan mengejutkan itu nyatanya merupakan bagian dari proses pemindahan jenazah yang dilakukan secara swadaya oleh pihak keluarga.

Kepala Desa Batulayang, Imam Mujahidin, meluruskan bahwa jasad tersebut bukanlah orang yang baru meninggal, melainkan hasil ekshumasi atau pembongkaran makam lama yang sudah terkubur sejak tahun 1985 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi berdasarkan hasil konfirmasi ke keluarga, ternyata jasad dibungkus kain kafan itu ayah mereka yang dimakamkan tahun 1985. Kemudian akan dipindahkan makamnya ke lokasi lain," kata Imam saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).

Pemindahan lokasi peristirahatan terakhir itu didasari oleh hasil rembuk keluarga almarhum. Jasad sang ayah yang sebelumnya disemayamkan di kawasan Pasir Meong, Desa Cililin, sengaja dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) RW 04, Desa Batulayang.

ADVERTISEMENT

Hal ini dilakukan lantaran anak-anak almarhum kini menetap di desa tersebut, sehingga pemindahan makam dinilai akan lebih memudahkan anak hingga cucunya saat hendak berziarah.

Namun, saat makam itu dibongkar, pihak keluarga justru dihadapkan pada sebuah keajaiban yang tak terduga.

"Ternyata saat dibongkar keluarga, jenazahnya masih utuh padahal sudah 40 tahun. Semua tidak menyangka, kemudian buru-buru dipindahkan hanya naik motor karena memang jaraknya juga dekat," ujar Imam.

Aksi buru-buru memindahkan jasad menggunakan kendaraan roda dua itu sontak memantik tanda tanya publik. Terkait metode pengangkutan yang dinilai kurang layak tersebut, Imam menegaskan bahwa pemerintah desa setempat sama sekali tidak dilibatkan.

Pihak keluarga tidak memberikan pemberitahuan maupun permohonan bantuan sebelum proses pembongkaran makam dilakukan.

"Kalau sebelumnya ada koordinasi dengan pemerintah desa, tentu kami bisa memfasilitasi, termasuk menyediakan ambulans atau kendaraan yang lebih layak. Tetapi dalam kejadian ini memang tidak ada pemberitahuan kepada pihak desa dan penggunaan motor memang keputusan keluarga," kata Imam.

(sya/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads