Sekolah Langganan Banjir di Dayeuhkolot, Siswa Baru Cuma 22 Orang

Sekolah Langganan Banjir di Dayeuhkolot, Siswa Baru Cuma 22 Orang

Yuga Hassani - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 11:30 WIB
Suasana MPLS di SDN Bojongasih 02, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/7/2026)
Suasana MPLS di SDN Bojongasih 02, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/7/2026) (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Sengatan mentari pagi tidak menyurutkan semangat sejumlah siswa baru untuk meraih ilmu di sekolah. Udara yang sejuk membuat para siswa antusias mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Sejumlah siswa baru itu bersemangat mengikuti kegiatan MPLS di SDN Bojongasih 02, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/7/2026). Kegiatan MPLS berjalan meriah meski pendaftaran di sekolah tersebut lesu peminat.

Sepinya peminat itu terjadi lantaran bangunan sekolah berdiri di lingkungan langganan banjir. Jika musim hujan melanda, sudah dipastikan sekolah tersebut terendam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala banjir melanda, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) biasanya dialihkan ke balai desa dan berlangsung secara daring. Hal tersebut membuat kepercayaan masyarakat untuk mendaftar ke sekolah tersebut tampak minim.

ADVERTISEMENT

Siswa baru yang mendaftar ke sekolah tersebut sebanyak 22 orang. Jumlah tersebut turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 26 siswa baru.

"MPLS pada hari ini telah berjalan dan alhamdulillah bisa diikuti sebanyak 22 siswa baru ditemani orang tuanya. Kemudian MPLS juga diikuti anak-anak kelas 1 sampai 6," ujar Kepala SDN Bojongasih 02 Dayeuhkolot, Deni Gunadi, kepada awak media.

Deni mengatakan, jumlah siswa baru tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Menurutnya, siswa baru yang mendaftar ke sekolah tersebut sebelumnya mencapai 26 orang.

"Iya untuk tahun sekarang ada penurunan, tahun lalu itu ada sekitar 26 siswa. Pada tahun ini sebenarnya kami memiliki target 35 siswa baru, cuma alhamdulillah yang dafttar hanya 22 siswa baru," katanya.

Pihaknya menilai faktor penurunan siswa baru salah satunya adalah banjir yang kerap melanda. Hal ini mengakibatkan jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut berkurang.

"Selain faktor banjir, faktor lainnya adalah lesunya aktivitas industri. Jadi kalau perusahaan-perusahaan di sekitar sini kembali berjalan, kemungkinan jumlah siswanya juga akan bertambah karena banyak pekerja yang tinggal di kawasan ini," jelasnya.

Jika dilanda banjir, Deni menyebutkan, KBM siswa harus dipindahkan ke balai desa atau dilakukan secara daring. Hal tersebut membuat aktivitas belajar mengajar siswa terganggu.

"Iya kendalanya, karena Bojongasih ini semuanya kebanjiran. Jadi yang sekolah itu kadang-kadang kita alihkan ke balai desa ataupun sekarang didaringkan, gitu," bebernya.

Pihaknya mengaku saat ini telah melakukan revitalisasi sekolah dengan meninggikan bangunan sekitar satu meter. Menurutnya, adanya upaya tersebut diharapkan membuat area sekolah tidak lagi tergenang seperti sebelumnya.

"Tapi kami berharap ada tambahan polder atau penyedotan air ke Citarum. Bukan hanya sekolah yang terdampak, tetapi seluruh warga di sini juga menjadi korban banjir setiap musim hujan," tegasnya.

Dia menambahkan, di balik keterbatasan tersebut, para siswanya kerap mengikuti ajang Pendidikan Agama Islam (PAI), Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N), hingga Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Tak heran, para siswanya kerap mengukir prestasi di berbagai ajang pendidikan.

"Makanya saya berharap ada bantuan tambahan dari pemerintah untuk menunjang pembelajaran. Seperti buku, atau chromebook. Karena selama ini ada beberapa yang rusak, dan mudah-mudahan bisa ditambah lagi untuk bantuannya," pungkasnya.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads