Jejak Jangkar Raksasa, Menyingkap Sejarah Bawah Laut Sukabumi

Lorong Waktu

Jejak Jangkar Raksasa, Menyingkap Sejarah Bawah Laut Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 10:30 WIB
Dermaga PPN Palabuhanratu
Dermaga PPN Palabuhanratu (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Dermaga beton Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu hari ini berdiri kokoh sebagai jantung perniagaan nelayan di pesisir Sukabumi. Namun, di balik keriuhan aktivitas bongkar muat dan birunya air laut pantai selatan, tersimpan sebuah rahasia besar yang telah terkubur puluhan tahun di dasar samudra.

Bagi masyarakat pesisir Teluk Palabuhanratu, cerita tentang kapal-kapal yang karam di masa lalu bukan sekadar isapan jempol. Narasi ini menjadi bagian dari sejarah lisan yang dirawat dengan baik, salah satunya oleh Abah Asep Nurbagelar atau yang akrab disapa Abah Embep. Sebagai sesepuh budayawan setempat, ia menyimpan memori kolektif tentang keganasan titik-titik karang bawah laut yang kerap memakan korban kapal-kapal besar.

"Memang dahulu itu pernah ada kapal-kapal yang karam di tengah-tengah teluk," ungkap Abah Embep saat berbincang hangat dengan detikJabar, Minggu (12/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam ingatannya, kawasan Karang Jahir hingga area di dekat Karang Pamulang dikenal sebagai zona maut bagi para pelaut. Di sana, gugusan karang yang tersembunyi di balik ombak menjadi penyebab kandasnya kapal-kapal berukuran raksasa hingga akhirnya tenggelam ke kegelapan dasar laut.

ADVERTISEMENT

Meski identitas pasti kapal-kapal tersebut masih diselimuti kabut misteri, para orang tua terdahulu meyakini bahwa armada yang karam itu adalah milik asing yang merapat ke perairan Sukabumi pada era kolonial.

"Itu cerita dari orang-orang tua terdahulu secara turun-temurun. Ceritanya dulu pernah ada kapal, tidak tahu apakah itu kapal Belanda atau kapal Jepang, yang karam di tengah-tengah sana," tuturnya.

Jejak sejarah ini ternyata tidak hanya terkonsentrasi di tengah teluk. Di sekitar Gado Bangkong, kawasan dermaga lama yang legendaris, puing-puing masa lalu itu pun konon bersemayam. Kehadiran kapal-kapal asing ini menjadi bukti nyata bahwa Palabuhanratu telah lama menjadi poros ekonomi dan jalur perdagangan vital di selatan Jawa.

"Di dekat Gado Bangkong pun dahulu ada kapal yang karam," tambah Abah Embep.

Abah Embep mengisahkan bahwa jauh sebelum PPN Palabuhanratu berdiri, Gado Bangkong adalah gerbang utama logistik laut. Karena kondisi perairan saat itu masih dangkal dan dihantam gelombang besar, kapal-kapal besar terpaksa membuang sauh di tengah laut. Hanya perahu-perahu kecil yang bisa mendekat ke bibir pantai untuk mengangkut barang dagangan, terutama garam yang menjadi komoditas primadona kala itu.

"Dulu Gado Bangkong itu hanya sebagai tempat bersandar kapal-kapal berukuran kecil yang membawa barang-barang, di antaranya garam. Kalau ditarik garis lurus dari lokasi Gado Bangkong lama, areanya kini menjadi kantor Bank BJB yang ada di pasar saat ini. Tempat itu dulunya merupakan kompleks gudang garam yang besar," papar Abah Embep.

Saking masifnya perdagangan garam di masa itu, struktur birokrasi setempat bahkan mengenal jabatan khusus yang disebut Kepala Gudang Garam.

"Makanya dulu sampai ada jabatan khusus yang disebut Kepala Gudang Garam. Tahun pastinya (peristiwa kapal karam) memang tidak begitu jelas karena Abah sendiri menerima kabar ini dari cerita orang tua Abah pribadi. Yang jelas, kapal-kapal itu dulunya membawa muatan barang-barang dagangan karena kawasan ini merupakan pusat perekonomian sejak dulu," pungkas Abah Embep.

Kesaksian dari Dasar Laut

Misteri yang diceritakan para sesepuh ini perlahan menemukan bukti fisiknya. Aep (45), seorang nelayan lokal, mengisahkan pengalaman para penyelam yang secara tidak sengaja menemukan sisa-sisa kejayaan masa lalu di kedalaman laut.

"Saya pernah mendengar cerita dari anak-anak penyelam yang sering turun ke bawah. Mereka bilang di bawah sana ada jangkar berukuran raksasa. Dari ukuran jangkarnya saja, sudah kelihatan kalau itu bukan punya perahu biasa, tapi punya kapal yang ukurannya sangat besar," ujar Aep saat ditemui di sekitar dermaga.

Temuan itu bukan sekadar jangkar tunggal. Para penyelam melaporkan adanya rantai besi raksasa yang masih terikat kuat, tergeletak membisu di dasar laut.

"Ceritanya jangkar itu masih terikat ke rantai besi yang ukurannya juga raksasa. Tapi karena posisinya sangat besar, berat, dan berada di kedalaman sekitar 25 meter, akhirnya dibiarkan begitu saja di dasar laut. Tidak ada yang berani atau kuat mengangkatnya. Makanya sampai sekarang, apa saja isi di dalam kapal yang karam itu masih jadi misteri," tambah Aep.

Hingga kini, kapal-kapal yang diduga milik Belanda atau Jepang itu tetap "tidur" dengan tenang di kedalaman 25 meter. Mereka menjadi saksi bisu bagi sirkulasi niaga yang pernah berjaya di pesisir Sukabumi, meninggalkan legenda yang terus mengalir di antara deburan ombak pantai selatan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik] (sya/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads