Waspada! Penyakit Gusi Berat Jadi Sinyal Awal Gangguan Ginjal

Waspada! Penyakit Gusi Berat Jadi Sinyal Awal Gangguan Ginjal

Suci Risanti Rahmadania - detikJabar
Minggu, 12 Jul 2026 23:00 WIB
Chronic kidney disease, Asian woman with model for treatment urinary system, urology, Estimated glomerular filtration rate eGFR.
Ilustrasi batu ginjal. Foto: Getty Images/sasirin pamai
Jakarta -

Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa dampak periodontitis tidak hanya terbatas pada kesehatan mulut. Studi populasi berskala besar di Jerman menemukan penyakit gusi berat berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan penanda kerusakan ginjal, bahkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mulut berpotensi berperan lebih luas terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Selama ini, periodontitis dikenal sebagai penyakit yang menyerang rongga mulut. Kondisi ini ditandai dengan gusi berdarah, kerusakan progresif pada jaringan penyangga gigi, hingga akhirnya menyebabkan gigi tanggal. Namun, bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan dampaknya dapat menjalar ke organ lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai penelitian sebelumnya mengaitkan peradangan kronis akibat periodontitis dengan sejumlah penyakit sistemik, seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes. Temuan itu mendorong peneliti untuk mengkaji hubungan antara periodontitis dan penyakit ginjal kronis.

Sejumlah studi memang telah menemukan kaitan antara periodontitis dan CKD stadium lanjut. Namun, hubungan keduanya pada tahap awal gangguan fungsi ginjal masih belum banyak dipahami.

ADVERTISEMENT

Untuk menjawab hal tersebut, tim peneliti dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf yang dipimpin Dr. Christian Schmidt-Lauber dan Prof. Dr. Ghazal Aarabi melakukan studi berbasis populasi. Penelitian itu bertujuan meneliti hubungan penyakit periodontal dengan penanda awal gangguan fungsi ginjal.

"Kami bertujuan mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, termasuk penurunan fungsi ginjal serta albuminuria, sekaligus mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik," kata Dr Schmidt-Lauber, dikutip dari Medical Net.

Hasil penelitian tersebut terbit dalam International Journal of Oral Science Volume 18 pada 6 April 2026.

Libatkan Lebih dari 6.000 Peserta

Penelitian ini melibatkan 6.179 peserta dari Hamburg City Health Study di Jerman. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan periodontal secara menyeluruh. Peneliti kemudian mengklasifikasikan tingkat keparahan penyakit berdasarkan sistem penilaian American Academy of Periodontology/European Federation of Periodontology (AAP/EFP) 2017.

Untuk menilai kesehatan ginjal, peneliti menggunakan estimated glomerular filtration rate (eGFR) dan rasio albumin terhadap kreatinin urin (uACR). Tim juga mengukur kadar protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hsCRP) dan interleukin-6 (IL-6) dalam darah untuk mengetahui kontribusi peradangan sistemik.

Hasil analisis menunjukkan hubungan yang konsisten antara kondisi gusi yang semakin buruk dan penurunan fungsi ginjal. Prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada peserta dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada peserta yang mengalami penurunan fungsi ginjal sedang.

Peneliti juga menemukan pola serupa pada albuminuria. Semakin tinggi kadar albumin dalam urin, semakin sering peserta mengalami penyakit periodontal yang lebih berat.

Selain itu, tanda kerusakan periodontal yang bersifat kumulatif, seperti kehilangan perlekatan jaringan gigi (clinical attachment loss) dan kehilangan gigi, ikut memburuk seiring penurunan fungsi ginjal.

Hubungan Tetap Terlihat setelah Faktor Risiko Diperhitungkan

Peneliti tetap menemukan hubungan tersebut setelah memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Periodontitis berat tetap berhubungan secara independen dengan penurunan eGFR dan peningkatan uACR. Sementara itu, kehilangan perlekatan jaringan gigi yang lebih besar juga berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal dan meningkatnya albuminuria. Temuan ini menunjukkan hubungan tersebut tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor risiko yang sama.

Peradangan sistemik memang ikut berkontribusi terhadap hubungan tersebut, tetapi hanya sebagian. Kadar hsCRP dan IL-6 meningkat seiring memburuknya penyakit gusi maupun kesehatan ginjal.

Namun, analisis menunjukkan hsCRP hanya menjelaskan sekitar 35 persen hubungan antara periodontitis berat dan penurunan eGFR, serta sekitar 10 persen hubungan dengan albuminuria. Temuan ini mengindikasikan masih ada mekanisme biologis lain yang kemungkinan berperan, seperti penyebaran bakteri dari jaringan periodontal, gangguan fungsi pembuluh darah, stres oksidatif, hingga perubahan metabolisme.

Kesehatan Mulut Berpotensi Menjadi Penanda Dini Gangguan Ginjal

Penyakit ginjal kronis kerap berkembang tanpa gejala hingga kerusakan ginjal mencapai tahap yang cukup berat. Karena itu, menemukan penanda risiko sejak dini menjadi tantangan penting.

"Dengan menunjukkan adanya hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, penelitian ini menyoroti kesehatan mulut sebagai jendela untuk melihat kesehatan ginjal," ujar Prof Aarabi.

Menurut peneliti, temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi skrining pada masa mendatang. Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui apakah pengobatan periodontitis dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa periodontitis berhubungan secara independen dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan albuminuria, bahkan sejak tahap awal penyakit ginjal kronis. Meski peradangan sistemik menjelaskan sebagian hubungan tersebut, kemungkinan masih terdapat mekanisme biologis lain yang ikut berperan. Temuan ini semakin menegaskan keterkaitan erat antara kesehatan mulut dan kesehatan ginjal.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(suc/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads