Kabar Internasional

Habis-habisan Agar Hidup Abadi, Miliarder Ini Kena Serangan Lambung

Kiki Oktaviani - detikJabar
Minggu, 12 Jul 2026 10:00 WIB
Bryan Johnson (Foto: dok. Instagram)
Bandung -

Bryan Johnson, pengusaha teknologi sekaligus pendiri proyek anti-penuaan ekstrem Blueprint, mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis menderita autoimmune gastritis (AIG), penyakit autoimun langka yang menyerang lambung.

Kabar tersebut cukup mengejutkan mengingat pria berusia 48 tahun itu selama ini dikenal menjalani berbagai upaya ketat untuk memperlambat proses penuaan dan menjaga kondisi tubuhnya agar tetap prima.

"Saya mengidap penyakit autoimun. Lambung saya sedang memakan dirinya sendiri," tulis Johnson di X.

Ia menjelaskan bahwa penyakit tersebut dapat menyebabkan kerusakan permanen pada lambung, memicu kekurangan nutrisi, anemia, hingga meningkatkan risiko kanker lambung dalam jangka panjang.

Yang membuat kasus ini menarik, penyakit tersebut lolos dari pemantauan meski Johnson dikenal sebagai salah satu biohacker paling disiplin di dunia. Selama bertahun-tahun ia rutin menjalani tes darah, pemantauan biomarker, hingga berbagai pemeriksaan medis demi memastikan tubuhnya tetap berada dalam kondisi optimal.

Bryan Johnson Foto: Blueprint

Autoimmune gastritis baru terungkap setelah dokter melakukan endoskopi dan biopsi lambung. Hasilnya menunjukkan adanya tanda awal atrofi pada sel-sel penghasil asam lambung, sementara bagian lambung lainnya masih belum terdampak.

"Saya baru mengetahuinya pada Mei. Saya juga tidak tahu sejak kapan penyakit ini ada," ujarnya.

Autoimmune gastritis merupakan penyakit kronis ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang lapisan lambung sendiri. Kondisi ini mengganggu produksi asam lambung dan intrinsic factor, protein yang dibutuhkan tubuh untuk menyerap vitamin B12. Karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, banyak penderita baru terdiagnosis setelah mengalami komplikasi seperti anemia, kekurangan zat besi, defisiensi vitamin B12, hingga meningkatnya risiko kanker lambung.

Johnson menduga akar masalahnya berasal dari gaya hidup di masa lalu. Ia mengaku tumbuh dengan pola makan yang didominasi sereal tinggi gula, minuman bersoda, dan makanan cepat saji. Saat memasuki usia 20-an dan membangun perusahaan sambil membesarkan tiga anak, tekanan hidup membuat kondisinya semakin memburuk.

"Tekanan membangun bisnis membuat saya mengalami stres berkepanjangan. Berat badan saya naik sekitar 18 kilogram dan saya sempat mengalami depresi kronis," ungkapnya.

Pada usia 21 tahun, Johnson juga didiagnosis menderita hipotiroid dan hingga kini masih menjalani terapi hormon. Belakangan, dokter juga menemukan kadar ferritin atau cadangan zat besinya terus rendah meski kadar hemoglobinnya masih normal.

Sebelum diagnosa penyakitnya itu, Johnson sempat menjalani kolonoskopi dengan hasil normal. Baru setelah dilakukan endoskopi menyeluruh disertai biopsi dari tiga bagian lambung, dokter menemukan tanda-tanda autoimmune gastritis stadium awal.

Hingga kini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan autoimmune gastritis. Penanganan umumnya berfokus pada mengatasi kekurangan nutrisi, mengendalikan gejala, serta memantau risiko komplikasi.
Meski demikian, Johnson berencana memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan pendekatan terapi baru, termasuk mengeksplorasi antibodi hasil rancangan AI yang ditujukan untuk menghentikan serangan sistem imun terhadap lambung.

Artikel ini telah tayang di detikINET




(kik/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork