Warga di Pulau Ini Ngobrol Pakai Siulan

Kabar Internasional

Warga di Pulau Ini Ngobrol Pakai Siulan

Rachmatunnisa - detikJabar
Sabtu, 11 Jul 2026 21:00 WIB
One man, young guy in cafe, he is on coffee break and whistling.
Ilustrasi bersiul. (Foto: Getty Images/South_agency)
Jakarta -

Di zaman serba internet dan ponsel pintar, ternyata ada sebuah pulau di Spanyol yang masih setia dengan cara komunikasi super unik dengan cara bersiul. Bukan sekadar kode isyarat biasa, bahasa siulan ini mampu menyampaikan kalimat lengkap hingga menembus lembah pegunungan sejauh beberapa kilometer.

Tradisi unik ini masih sangat hidup di La Gomera, salah satu pulau di Kepulauan Canary, Spanyol. Bahasa yang dikenal dengan nama Silbo Gomero ini bukan cuma hobi, tapi sudah jadi identitas. Bahkan, seluruh anak sekolah di sana wajib mempelajari bahasa siulan ini sebagai mata pelajaran di kelas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Silbo Gomero sendiri lahir ratusan tahun lalu sebagai solusi cerdas warga lokal menghadapi geografis La Gomera yang ekstrem. Dengan wilayah yang dipenuhi jurang dan lembah curam, suara manusia biasa bakal sulit menjangkau jarak jauh. Nah, siulan tajam inilah yang menjadi "sinyal" paling ampuh karena bisa terdengar hingga berkilo-kilometer.

Dikutip detikTravel dari Times of India, Silbo Gomero bukanlah kumpulan bunyi acak. Bahasa ini secara teknis mengubah setiap vokal dan konsonan dalam bahasa Spanyol Kastilia menjadi pola siulan. Perbedaannya terletak pada tinggi nada (pitch) serta apakah bunyinya mengalir atau terputus.

ADVERTISEMENT

Berkat sistem yang kompleks ini, para penuturnya bisa mengobrol apa saja layaknya bicara normal. Sempat dikira hanya kode sederhana, penelitian ahli bahasa dan ilmuwan saraf justru membuktikan bahwa Silbo Gomero punya struktur linguistik yang rumit, persis seperti bahasa lisan pada umumnya.

Saking uniknya, UNESCO menetapkan Silbo Gomero sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada tahun 2009. UNESCO menjelaskan bahwa "Silbo Gomero merupakan bentuk bahasa bersiul yang merepresentasikan bahasa sehari-hari masyarakat La Gomera, yaitu bahasa Spanyol Kastilia, melalui bunyi siulan." Pengakuan internasional ini pun menjadi napas baru bagi pelestarian bahasa yang sempat nyaris punah tersebut.

Memang, seiring masuknya telepon dan teknologi modern, penggunaan Silbo Gomero sempat merosot tajam. Generasi muda kala itu mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi dibutuhkan dalam keseharian.

Untungnya, pemerintah daerah bergerak cepat. Sejak tahun 1999, Silbo Gomero resmi masuk ke dalam kurikulum sekolah. Hasilnya? Kini anak-anak di La Gomera sudah mahir bersiul sejak dini, memastikan tradisi nenek moyang mereka tetap eksis di era digital.

Tak cuma jadi magnet wisatawan, Silbo Gomero juga bikin ilmuwan geleng-geleng kepala. Riset saraf menunjukkan bahwa otak penutur Silbo Gomero memproses bunyi siulan tersebut dengan cara yang sama persis saat mereka memahami bahasa lisan biasa.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya melalui bahasa. Menurut UNESCO, "keberadaan Silbo Gomero membuktikan bahwa bahasa dapat berevolusi mengikuti kebutuhan manusia tanpa kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi yang utuh."

Artikel ini telah tayang di detikTravel

(rns/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads