Teror 900 Ular yang Lepas Usai Banjir Menerjang China

Kabar Internasional

Teror 900 Ular yang Lepas Usai Banjir Menerjang China

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Kamis, 09 Jul 2026 23:30 WIB
Ular di China
Ular di China (Foto: Global Times)
Jakarta -

Banjir besar yang dipicu Topan Maysak tak hanya merendam permukiman dan memaksa ribuan warga mengungsi di China selatan. Bencana itu juga memicu situasi yang tak kalah mengerikan: hampir 900 ular, termasuk kobra berbisa, lepas dari sebuah fasilitas penangkaran dan menyebar ke kawasan permukiman.

Kejadian itu berlangsung di Hengzhou, wilayah Guangxi, setelah banjir menerjang kawasan tersebut pada Senin pagi waktu setempat. Salah satu ular yang kabur bahkan dilaporkan telah menggigit seorang warga desa, yang kini menjalani perawatan darurat.

Melansir detikInet, ular-ular itu meloloskan diri setelah fasilitas penangkaran terendam banjir. Curah hujan ekstrem membuat dinding Waduk Liulan dan Waduk Yunbiao jebol, mengirimkan gelombang air ke kawasan dataran rendah dan menghanyutkan sejumlah peternakan ular skala kecil di sekitarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di media sosial, beredar video yang memperlihatkan warga berdiri di tengah banjir setinggi pinggang sambil membawa tongkat bambu. Mereka berusaha menangkap ular-ular yang berenang di antara genangan air.

ADVERTISEMENT

Pejabat desa, Wu Zhi, mengatakan sebagian besar ular yang lepas merupakan jenis tidak berbisa. Meski demikian, tim khusus beranggotakan 10 orang tetap dikerahkan untuk memburu reptil-reptil tersebut menggunakan jaring dan alat kejut listrik.

Ia juga mengingatkan warga agar tidak mencoba menangkap ular dengan tangan kosong jika menemukannya. Selama operasi berlangsung, otoritas meminta masyarakat menjauhi kawasan yang masih tergenang banjir demi menghindari risiko serangan ular.

Insiden lepasnya ratusan ular ini terjadi di tengah bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah selatan dan tengah China. Dalam sepekan terakhir, banjir dilaporkan menewaskan puluhan orang serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.

Guangxi bahkan menetapkan peringatan banjir tingkat tertinggi pada Senin tengah malam setelah permukaan air di 55 sungai melampaui ambang batas. Hingga Selasa sore, tercatat 62 sungai di berbagai wilayah China berada di atas level peringatan banjir.

Sungai Qingshui di Guangxi mencatat banjir terbesar sejak pencatatan dilakukan, sementara provinsi tetangganya, Guangdong, mengeluarkan peringatan merah banjir pertama pada musim ini untuk sejumlah wilayah.

Topan Maysak, yang menjadi topan pertama menghantam China tahun ini, disebut sebagai pemicu utama bencana tersebut. Selain menyebabkan korban jiwa di Guangxi, badai itu juga memaksa sekitar 130.000 warga mengungsi.

Kerusakan juga terjadi di ibu kota regional Nanning setelah sebuah bendungan waduk jebol. Rekaman video memperlihatkan arus air berlumpur menerjang dan menghancurkan dinding beton bendungan.

Di wilayah lain, badai petir disertai angin kencang di Provinsi Hubei menewaskan 11 orang dan melukai lebih dari 330 lainnya.

Menghadapi situasi tersebut, Presiden China Xi Jinping memerintahkan seluruh upaya penyelamatan dilakukan secara maksimal. Ia juga meminta pemerintah mempercepat penanganan korban luka, distribusi bantuan, serta penempatan sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Musim banjir di China sendiri baru dimulai pada 1 Juli. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa negara itu berpotensi menghadapi musim bencana yang lebih berat tahun ini akibat kombinasi pemanasan global dan fenomena El Nino yang memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia.

Artikel ini sudah tayang di detikInet



(fyk/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads