Petani di wilayah Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran mulai kesulitan mendapatkan aliran air. Kondisi itu terjadi lantaran musim kemarau yang sudah berjalan hampir satu bulan.
Kondisi ini dikhawatirkan mengancam masa produktif tanaman padi hingga berpotensi gagal panen. Pasokan air yang terhenti memaksa petani mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyedot air menggunakan mesin, yang berdampak pada membengkaknya biaya produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu petani Ciganjeng, Surlia (61), mengaku terdampak kondisi pengairan yang mulai mengering akibat kemarau. Akibatnya, tanaman padi di sawahnya kini terancam gagal panen.
Berbagai cara ia lakukan agar air tetap mengalir ke tanaman padi yang dikelolanya, termasuk menambah biaya operasional untuk menyedot air dari sumber yang tersisa.
Menurutnya, kebutuhan air untuk mengairi sawah tersebut masih akan berlangsung hingga sekitar satu setengah bulan ke depan.
"Sudah lebih dari sebulan sawah saya kekurangan air. Padahal usia padi baru satu setengah bulan dan masih membutuhkan air hingga sekitar satu setengah bulan lagi," kata Surlia, Selasa (8/7/2026).
Ia mengatakan kondisi serupa dialami banyak petani lainnya. Diperkirakan sekitar 30 hektare sawah di wilayah ini mengalami kekurangan air pada fase pertumbuhan yang sangat menentukan hasil panen.
"Ada sekitar 30 hektare sawah yang sekarang sangat membutuhkan air. Seharusnya pada masa ini sawah masih mendapat pasokan air secara cukup, tapi karena kemarau kami tidak bisa berbuat banyak," ucapnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi persoalan ini, salah satunya melalui normalisasi saluran irigasi agar distribusi air ke lahan pertanian kembali lancar.
"Harapan kami ada perhatian dari pemerintah, terutama Dinas Pertanian. Sebaiknya ada normalisasi irigasi supaya air bisa mengalir lagi ke sawah," ucapnya.
Saat ini, sebagian petani terpaksa mengandalkan pompa air sebagai solusi sementara. Namun, cara itu dinilai tidak efektif karena membutuhkan biaya operasional yang tinggi.
"Kebanyakan petani sekarang menyedot air memakai pompa. Tapi biayanya besar. Dipakai dua sampai tiga jam saja airnya sudah habis dan kembali kering," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Pangandaran Dodo Kusnadi membenarkan adanya aduan permintaan pasokan air untuk warga di sini. Ia mengaku secara bertahap telah menyalurkan bantuan air bersih.
"Namun untuk para petani atau pengairan sawah sedang dalam pendataan," ucap Dodo melalui pesan WhatsApp.
Ia mengatakan bantuan air bersih telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak di Kecamatan Padaherang, Mangunjaya, dan Parigi. "Tentu karena armada terbatas kami kirim secara bertahap," ucapnya.
Simak Video "Akar Kemitraan Untuk Masa Depan"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
