Rustika Nur Istiqomah atau Rustika Herlambang resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Padjadjaran (Unpad) setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang menyoroti dinamika komunikasi digital dalam isu Ibu Kota Nusantara (IKN). Penelitian ini menegaskan di era digital, algoritma media sosial memiliki peran krusial dalam menentukan isu yang mendapat perhatian publik.
Melalui penelitian doktoralnya, Rustika mengungkapkan algoritma media sosial menjadi aktor baru yang krusial dalam mengatur visibilitas isu dan membentuk opini publik di Indonesia. Temuan penting ini dipaparkan dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada Selasa (7/7/2026). Dalam prosesi akademik tersebut, Rustika, yang juga menjabat sebagai Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), berhasil meraih predikat yudisium kelulusan "Sangat Memuaskan".
Sidang terbuka ini dihadiri oleh tim promotor yang terdiri dari Atwar Bajari, Dadang Rahmat Hidayat, dan Jenny Ratna Suminar. Selain jajaran akademisi, sejumlah tokoh penting dan figur publik turut hadir memberikan dukungan, di antaranya mantan Wakapolri Ahmad Dofiri, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, serta artis Aura Kasih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transformasi Agenda Setting dan Peran Algoritma
Penelitian disertasi Rustika yang berjudul "Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020-2024)" menyoroti pergeseran teori komunikasi di era algoritmik. Studi ini menggunakan pendekatan Computational Social Science dengan menganalisis keseluruhan populasi data selama 1.827 hari dari berbagai platform digital untuk memetakan bagaimana agenda publik terbentuk.
Menurut Rustika, teori agenda-setting selama ini menempatkan pemerintah, media massa, dan publik sebagai aktor utama pembentuk opini publik. Namun, dalam ekosistem digital, algoritma platform juga menjadi faktor yang menentukan visibilitas suatu isu.
"Agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Ia terbentuk melalui interaksi antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page (FYP)," ujar Rustika.
Pentingnya Resonansi dan Momentum dalam Komunikasi Publik
Salah satu temuan signifikan dari riset ini adalah volume atau banyaknya konten yang dipublikasikan bukan lagi menjadi penentu utama kesuksesan sebuah narasi.
Keberhasilan komunikasi justru ditentukan oleh resonansi atau keterlibatan publik yang diukur melalui komentar, likes, shares, dan retweet. Rustika menjelaskan, pesan dengan jumlah publikasi yang sedikit tetap dapat memperoleh perhatian tinggi apabila hadir pada momentum yang tepat, dikemas dalam format yang sesuai, dan didukung oleh mekanisme distribusi algoritmik.
"Di ruang digital saat ini, perhatian publik menjadi sumber daya yang sangat kompetitif. Yang menentukan bukan hanya seberapa banyak pesan dipublikasikan, tetapi seberapa besar resonansi yang berhasil dibangun," ujar Rustika.
Studi longitudinal ini juga menemukan setiap platform digital memiliki peran unik dalam membentuk persepsi masyarakat. Media daring berfungsi memperkuat legitimasi kebijakan melalui informasi formal, Twitter/X menjadi ruang kontestasi kritik dan diskusi, sedangkan TikTok lebih efektif membangun pengalaman visual serta emosional yang memudahkan isu kebijakan dipahami publik.
"Isu yang sama bisa tampil sebagai berita di media daring, menjadi perdebatan di Twitter/X, dan berubah menjadi pengalaman visual di TikTok," kata Rustika.
Rustika Herlambang (Foto: dokumen Rustika Herlambang) |
Perkenalkan Model AIAS
Sebagai kontribusi teoretis, Rustika memperkenalkan model Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS) yang memposisikan algoritma sebagai mediator penting antara pemerintah, media, publik, dan kreator konten. Model ini memperluas teori intermedia agenda-setting dengan menempatkan algoritma sebagai salah satu mediator penting dalam pembentukan agenda publik di era digital.
"Melalui model AIAS, agenda publik dipahami sebagai hasil interaksi antara pemerintah, media massa, publik, kreator konten, dan sistem algoritma yang menentukan distribusi serta visibilitas informasi. Penelitian ini menyimpulkan suatu isu memiliki peluang lebih besar menjadi agenda publik ketika lima unsur bertemu secara bersamaan, yaitu pesan, momentum, format, emosi, dan logika platform," tutur Rustika.
Selain pengembangan keilmuan, riset ini mengidentifikasi enam strategi agenda-building pemerintah dalam isu IKN, mulai dari policy anchoring hingga komunikasi langsung melalui kanal resmi Presiden. Rustika menyimpulkan komunikasi kebijakan di era modern tidak lagi cukup hanya dengan menyebarkan informasi secara masif.
"Komunikasi kebijakan hari ini harus memahami bagaimana perhatian publik bekerja dalam marketplace of attention yang dipengaruhi sekaligus oleh manusia dan algoritma. Membangun resonansi kini menjadi sama pentingnya dengan menyampaikan informasi," ujar Rustika.
(bbp/bbp)

