Sawah semestinya menjadi tempat para petani menggantungkan hidupnya. Namun di pinggiran Jalan Lingkar Utara, Kota Tasikmalaya, lahan garapan itu justru berubah menjadi sumber kecemasan setelah dipenuhi botol-botol bekas minuman keras yang dibuang sembarangan.
Alhasil, botol berserakan itu mengundang kekhawatiran. Selain begitu mengganggu dan membahayakan keselamatan para petani saat mengolah tanah, jumlahnya yang tak sedikit setiap pekan setidaknya sudah membuat dua orang jadi korban akibat menginjak pecahan botol miras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kacida, bangkar warah (keterlaluan, kurang ajar). Sudah mabuk-mabukan, mencelakai petani juga," kata Yudi Aroy, salah seorang petani di pinggiran Jalan Lingkar Utara, tepatnya di wilayah Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya, Senin (6/7/2026).
Kemarahan Aroy cukup beralasan. Bagaimana tidak, dia adalah salah seorang petani yang menjadi korban aksi tak bertanggung jawab itu yang membuat telapak kaki kanannya robek akibat menginjak pecahan botol, saat menebar pupuk.
"Kejadian sekitar sebulan lalu, saya lagi memupuk. Tiba-tiba menginjak beling, pas dilihat botol pecah. Kaki saya robek parah," kata Aroy.
Usai kejadian dia langsung dibawa anaknya ke Puskesmas, kemudian lukanya ditutup dengan 6 jahitan. Akibatnya, dia sampai absen kerja selama 2 pekan dan terpaksa membeli sepatu demi mencegah insiden serupa terjadi kembali.
"Untung punya Kartu Sehat, jadi gratis. Tapi akibatnya saya nggak bisa kerja 2 minggu. Sampai sekarang juga jempol kaki jadi susah digerakkan, mungkin belingnya merusak otot," kata Aroy.
Kejadian yang sama juga menimpa Rahmat, petani yang juga menyediakan jasa membajak sawah. Telapak kakinya tersayat pecahan botol miras ketika asyik membajak sawah.
"Saya lagi "ngamesin" (membajak sawah dengan traktor) menginjak beling juga. Entah pecah akibat tergilas traktor atau memang pecah waktu dilemparkan ke sawah," kata Rahmat.
Akibat kecelakaan itu kaki Rahmat juga harus dijahit karena luka robeknya cukup dalam dan memanjang. "Dijahit juga, tapi lupa lagi berapa jahitan," kata Rahmat.
Sementara, berdasarkan pantauan detikJabar, saat ini sebagian besar sawah di pinggiran Jalan Lingkar Utara sepanjang kurang lebih 4 kilometer itu, mayoritas sedang memasuki masa panen. Selain panen padi, mereka juga "memanen" botol miras yang terbenam di lumpur sawah.
Sejumlah petani yang ditemui membenarkan permasalahan itu. Beberapa menyebut setiap pekan lebih dari 200 botol bekas miras bisa ditemukan di lahan pertanian mereka.
"Sayang botol-botolnya tadi pagi sudah dipungut sama tukang barbek (barang bekas), nggak sempat difoto. Di petak sawah saya saja ada 10 botol, belum di sebelah. Kalau di sepanjang jalan ini mungkin ratusan," kata Atik, buruh tani lainnya.
Meski botol bekas miras itu memiliki nilai ekonomis, tapi Atik mengaku tak sudi memungut atau menjualnya. Baginya menjual botol miras sama haramnya dengan meminum miras. "Teu sudi teuing, atuh sama haramnya," kata Atik.
Saeful Anwar, salah seorang petani menjelaskan keluhan soal botol miras dan sampah yang mengotori sawah, sudah dikeluhkan sejak lama. Sudah bertahun-tahun, sejak Jalan Lingkar Utara dibangun. Perlahan kawasan ini berubah menjadi lokasi nongkrong favorit warga termasuk anak-anak muda.
Selama itu pula sudah berbagai upaya dilakukan, seperti razia oleh aparat keamanan atau imbauan, tapi hal itu tak cukup menghentikan permasalahan.
"Dilaporkan sudah, sempat dirazia juga. Tapi ya dasar orang mabuk, pikirannya ngaco, seenaknya saja membuang botol ke sawah," kata Saeful.
Dia mengaku tak mau ambil pusing dengan perilaku mabuk-mabukan di pinggir jalan. Dia hanya berharap botol atau sampah jangan dibuang seenaknya ke sawah.
"Urusan minum miras kita petani nggak ada urusan. Tapi tolong sampah dan botolnya jangan dilempar ke sawah. Cukup kumpulkan di tepi trotoar, nanti akan ada pemulung yang mengambil. Tolonglah, kasihan petani jadi celaka," kata Saeful.
Ahmid petani lainnya menambahkan selain risiko cedera fisik dan pencemaran lingkungan, area Jalan Lingkar Utara yang sering dijadikan tempat mabuk-mabukan juga memberi dampak sosial yang negatif
"Wah banyak kejadian, yang berantem lah, yang ugal-ugalan lah. Saya malah jadi berpikir, kok adanya jalan ini malah membawa mudarat. Dulu kami ke sawah itu tenang, sekarang jadi begini. Tolonglah patrolinya lebih sering, PJU-nya juga diperhatikan, jangan sampai gelap," kata Ahmid.
(bba/sud)
