Suasana ladang jagung di Dusun Sukamanah, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, Senin (6/7/2027) siang, tampak tak seperti biasanya. Di sela tanaman jagung yang mulai memasuki masa panen, seorang petani terlihat berdiri sambil menyiagakan senapan angin. Bukan untuk menyalurkan hobi berburu, melainkan demi berjaga-jaga. Senapan itu ia bawa sebagai upaya menghalau kawanan monyet yang belakangan ini kerap menyatroni dan merusak kebun milik warga.
Pria itu bernama Haris (38), petani setempat yang mengaku sudah berbulan-bulan dibuat resah oleh serbuan monyet liar. Kawanan monyet tersebut sering mendatangi area perkebunan warga dan menjarah berbagai tanaman yang telah siap panen.
"Sudah hampir setengah tahun ini monyet sering turun ke kebun. Yang dirusak bukan cuma jagung, tapi juga kacang, pisang, ubi, pokoknya tanaman yang ada di kebun warga banyak yang habis dijarah," kata Haris saat ditemui di kebun jagungnya, Senin (6/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haris bertani di ladang jagung miliknya sambil membawa senapan angin untuk berjaga menghalau kawanan monyet yang kerap menjarah jagung miliknya. Foto: Dadang Hermansyah |
Menurut Haris, jumlah monyet yang datang cukup banyak. Dalam sekali kemunculan, kawanan itu bisa berjumlah puluhan ekor. Mereka datang bergerombol, lalu berpencar ke sejumlah kebun milik warga. Tanaman jagung yang seharusnya tinggal menunggu waktu panen pun tak luput dari sasaran.
"Kalau datang itu bisa puluhan ekor. Mereka masuk ke kebun, ambil jagung, merusak tanaman, terus pindah lagi ke kebun lain. Kerugiannya lumayan besar, bisa sampai 50 persen. Kalau dibilang untung, paling cuma balik modal saja, itu juga sudah alhamdulillah," ujarnya.
Haris mengaku tidak tahu pasti dari mana kawanan monyet itu berasal. Namun, warga menduga satwa liar tersebut datang dari arah kawasan Gegempalan, lalu menyusuri area perkebunan di sepanjang aliran Sungai Citanduy sebelum merangsek ke lahan pertanian warga.
"Kalau asal pastinya kami juga tidak tahu. Tiba-tiba saja datang. Tapi katanya dari arah Gegempalan, lewat jalur kebun di sekitar Citanduy. Yang jelas sekarang mereka sering muncul di sini," ucapnya.
Yang membuat para petani makin kewalahan, kawanan monyet itu seolah memahami kapan kebun sedang kosong tanpa penjagaan. Haris bercerita, monyet-monyet itu jarang muncul saat ada warga yang berjaga. Namun, begitu ladang ditinggalkan, mereka langsung datang menyerbu tanaman.
"Pinter monyetnya. Kalau ditungguin, malah nggak datang. Tapi pas kebun kosong atau petani pulang, mereka langsung turun. Terakhir datang hari Jumat, pas orang-orang mau salat Jumat. Jadi seolah tahu situasi," kata Haris.
Berbagai cara sebenarnya sudah dilakukan warga untuk mengusir kawanan monyet tersebut. Mulai dari menyalakan petasan, berjaga bersama-sama, membawa senapan angin, hingga melakukan perburuan massal. Bahkan, menurut Haris, upaya penanganan juga sempat melibatkan petugas pemadam kebakaran dan polisi hutan. Namun hingga kini, gangguan tersebut belum benar-benar berhenti.
"Warga pernah berburu bareng juga, tapi sampai sekarang belum ada yang tertangkap. Monyet itu datangnya mendadak, terus cepat menghilang lagi. Jadi susah sekali diantisipasi," tuturnya.
Kedatangan kawanan monyet itu pun, kata Haris, tidak mengenal musim. Baik saat musim hujan maupun kemarau, mereka tetap turun ke kebun warga. Ia menduga, satwa liar tersebut masuk ke area pertanian karena mencari sumber makanan yang kian menipis di habitat aslinya.
"Mau musim hujan atau musim kemarau, tetap datang. Dugaan kami ya karena cari makan," katanya.
Bagi para petani di Dusun Sukamanah, persoalan ini bukan lagi sekadar gangguan biasa. Mereka harus bekerja ekstra menjaga tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga. Hasil panen yang semestinya bisa dinikmati justru menyusut drastis karena dijarah kawanan monyet.
Kini, Haris dan petani lainnya hanya berharap ada solusi yang lebih efektif agar serangan monyet liar tidak terus berulang. Sebab jika dibiarkan, bukan hanya jagung yang terancam gagal panen, namun juga keberlangsungan ekonomi para petani di wilayah tersebut.
(tya/tey)

