Terabas Jurang, Warga Cilenga Tarik Pipa 100 Meter demi Hidupkan Lahan Tidur

Terabas Jurang, Warga Cilenga Tarik Pipa 100 Meter demi Hidupkan Lahan Tidur

Faizal Amiruddin - detikJabar
Senin, 06 Jul 2026 07:00 WIB
Warga Kampung Cilenga Tasikmalaya bahu membahu membangun instalasi pipa untuk optimalisasi lahan tidur.
Warga Kampung Cilenga Tasikmalaya bahu membahu membangun instalasi pipa untuk optimalisasi lahan tidur. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Sejumlah warga Blok Cinyungcung, Kampung Cilenga, Desa Selawangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, menggelar aksi swadaya membangun saluran air berupa pipanisasi sepanjang 100 meter, Minggu (5/7/2026).

Langkah ini dilakukan untuk mengairi sekitar 8.000 meter persegi lahan tidak produktif atau lahan gamblung, guna disulap menjadi kawasan pertanian terpadu.

Kawasan tersebut nantinya akan diintegrasikan menjadi pusat budidaya perikanan, peternakan, dan tanaman pangan demi memperkuat ketahanan pangan tingkat desa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Kahirupan Abadi, Deni Danial, menjelaskan bahwa selama ini lahan di Blok Cinyungcung sulit berkembang karena posisinya berada di atas aliran sungai. Akibatnya, lahan tersebut menjadi area tidur yang tidak menghasilkan.

Sebagai solusi, warga bergotong royong menarik instalasi pipa langsung dari hulu sungai. Medannya cukup berat karena harus menembus tebing cadas dan melintasi jurang.

ADVERTISEMENT

"Walau pun harus memasang instalasi pipa sejauh 100 meter, menembus cadas, merambah jurang, kami tak akan mundur. Kita hantam bareng-bareng. Jika air sudah mengalir lancar, lahan yang tadinya tidur bisa kita fungsikan kembali," ujar Deni, Minggu (5/7/2026).

Tokoh pemuda setempat, Yedi Supriadi menambahkan kawasan pertanian di Blok Cinyungcung ini dirancang menggunakan konsep ekonomi sirkular.

Dengan sistem integrasi, sumber daya air dan limbah sisa produksi akan diputar kembali dalam satu ekosistem terpadu agar menghemat biaya operasional.

"Jadi air bersih dari hulu sungai dialirkan pertama kali ke kolam-kolam budidaya ikan nila. Sisa air dari kolam ikan yang mengandung nutrisi organik tinggi dimanfaatkan kembali untuk mengairi sekaligus memupuk tanaman padi dan hortikultura. Integrasi peternakan ayam petelur di sekitar area untuk menyuplai kebutuhan pupuk kandang dan diversifikasi produk. Pola integrasi ini efektif memangkas biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen multi-komoditas secara berkelanjutan," papar Yedi.

Menurut dia di tengah kondisi zaman yang kian individualis, aksi di Desa Selawangi ini adalah sebuah anomali yang menyegarkan.

Tanpa menunggu kucuran anggaran besar dari birokrasi, modal utama warga hanyalah patungan tenaga, pikiran, dan logistik seadanya.

Kemandirian pangan yang sejati memang tidak dimulai dari ruang seminar, melainkan dari peluh keringat warga yang saling mengoper pipa di tebing jurang Cinyungcung.

"Langkah kecil sepanjang 100 meter ini menjadi bukti, di tangan masyarakat yang kompak, lahan segersang apa pun bisa berubah menjadi berkah. Warga Cilenga sedang menulis sejarah mereka sendiri, merajut ketahanan pangan dengan tali persaudaraan," kata Yedi.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads